Aktualita

Refleksi Kebangsaan (2): Indonesia Ibarat Rumah Besar yang Terbakar

Pengantar: Hari ini,  15 Juni  2025, Dr. Martiono Hadianto, mantan dirjen BUMN dan dirut sebuah BUMN strategis, mengirimkan   tiga tulisannya ke redaksi berupa refleksi pendek tapi padat  mengenai  keadaan bangsa dan negara kita. Dia   mengibaratkan Indonesia kini  “seperti rumah besar yang sedang terbakar, namun para pemiliknya justru saling bertengkar dan membiarkan api terus membesar.”  Kita berharap butir-butir pemikiran Dr. Martiono menjadi bahan perbincangan dan renungan kita bersama untuk menatap masa depan Indonesia menjadi lebih baik.   Berikut bagian kedua  dari tiga tulisannya. Red/

Makna: Indonesia, dengan segala potensinya — sumber daya alam, budaya, jumlah penduduk muda, posisi strategis — justru mengalami kemunduran di berbagai bidang.

  • IPTEK tertinggal, ketergantungan tinggi pada impor.
  • Ekonomi dikuasai oligarki dan asing, rakyat kecil tertindas.
  • Politik penuh manipulasi, demokrasi prosedural tanpa integritas.
  • Sosial-budaya terfragmentasi, kehilangan arah dan nilai.
  • Lingkungan rusak, pertanian dan laut terkikis industri besar.
  • Hukum dan keadilan diperdagangkan.
  • Pendidikan mengejar skor, bukan karakter dan kedaulatan berpikir.

 Pemilik Rumah Bertengkar

Makna: Para elite bangsa — politisi, pejabat, partai, bahkan cendekiawan dan tokoh agama — sibuk berebut kuasa, saling menyalahkan, dan melupakan tanggung jawab menyelamatkan bangsa.

  • Koalisi dan oposisi tidak beradu gagasan, tapi berebut akses anggaran.
  • Rakyat diseret ke dalam polarisasi, bukan diberdayakan.
  • Pemuda kehilangan teladan moral dan arah perjuangan.
  • Pemerintah tidak punya rencana besar berbasis kemandirian nasional.

Angin Kencang yang Mempercepat Kebakaran

Makna: Pengaruh eksternal — baik dari negara adidaya maupun perusahaan multinasional — semakin masuk dan memperkeruh situasi.

  • Globalisasi membawa penetrasi ideologi asing, bukan pertukaran sejajar.
  • Ketergantungan utang dan investasi asing mempersempit ruang kedaulatan.
  • Perang pengaruh antara AS dan China menjadikan Indonesia sebagai “ladang perebutan”, bukan sebagai mitra sejajar.
  • Algoritma media sosial dari luar memperparah polarisasi dan disinformasi.

Kesimpulan

Ya, rumah kita benar-benar terbakar. Dan jika kita terus bertengkar, maka yang tersisa hanya puing-puing dan sejarah tentang “potensi yang disia-siakan”.

Apa yang Bisa Dilakukan?

  1. Sadarkan rakyat bahwa mereka adalah pemilik rumah sesungguhnya, bukan penonton drama elite.
  2. Bangun gerakan moral nasional: lintas agama, kampus, komunitas, dan media alternatif.
  3. Dorong rekonsiliasi elite dengan platform moral, bukan bagi-bagi kekuasaan.
  4. Susun kembali cetak biru kebangsaan berbasis Pancasila, UUD 1945 asli, dan semangat gotong royong.
  5. Tegaskan posisi Indonesia sebagai bangsa merdeka, bukan satelit kekuatan asing.

Penulis:  Dr. Martiono Hadianto, pemerhati bangsa, mantan Dirjen BUMN dan dirut BUMN strategis..

Martiono Hadianto

Pemerhati Bangsa, Mantan Dirjen BUMN dan Dirut BUMN Strategis

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button