Umat Islam Indonesia, dan di negara-negara lain (yang berpenduduk Islam), sebentar lagi akan melaksanakan ibadah puasa. Yakni, suatu syariat Islam yang secara tegas, diwajibkan Allah Swt. kepada seluruh ummat Islam yang telah baligh, baik pria maupun wanita, seperti . tertera dalam surat Al-Baqarah ayat 183-187.
Namun, tidaklah cukup menjadi rangsangan bagi seseorang untuk melaksanakan kewajiban puasa itu, kalau hanya dengan mengemukakan dalil Al-Qur’an dan Hadis saja. Tanpa disertai kajian secara rasional, obyektif dan logis terhadap nilai-nilai positif dalam pesan ibadah puasa itu.
Menjadi tugas kita, dan para dai khususnya, untuk tidak bosan-bosan menggali makna positif ibadah puasa itu. Dengan demikian, gairah seseorang melaksanakan puasa semakin meningkat, dan lebih penting lagi, cara itu amat berguna (terutama) bagi umat Islam yang jiwa keimanannya masih lemah, dan pemahaman tentang syariat Islam, masih rendah.
Nilai-nilai Istimewa
Puasa, sebagai salahsatu bentuk Ibadah dalam Isiam, bukanlah dogmma atau kebiasaan rutin (tiap tahun) yang tak dapat dimengerti maksudnya, melainkan suatu ibadah yang dapat melahirkan hikmah dan keuntungan istimewa, yang secara fungsional dapat dirasakan oleh ”’pelaku puasa”‘ dalam kehidupannya sehari-hari.
Pertama, puasa adalah sarana untuk melatih manusia agar pandai dan terampil mengendalikan hawa nafsu, di mana, setiap saat kita menyaksikan penderitaan seseorang karena tak mampu mengendalikan hawa nafsunya. Nabi Muhammad Saw. sendiri mengakui, “upaya mengendalikan hawa nafsu itu berat.” Ia termasuk perang yang paling besar (jihadulakbar). Hal ini dapat dipahami, karena perang mengendalikan hawa nafsu berlangsung sepanjang manusia itu hidup, tanpa mengenal batas waktu dan tempat. Berbeda dengan perang yang sifatnya konvensional, di mana waktu, tempat dan sasarannya, terbatas.
Hawa nafsu, dalam istilah lain disebut syahwat, diakui para ahli hakikat, mempunyai daya dorong yang tingkatannya berbeda-beda. Sedangkan syahwat kelamin (seksual), memiliki daya dorong yang tinggi. Syahwat kelamin ini, menurut Syekh Abdul Hamid Al-Khatib, akan meningkat lagi apabila syahwat perut tidak dapat dikendalikan. (Ketinggian Risalah Nabi Muhammad Saw., Bulan Bintang, hlm.310). Selanjutnya ia mengatakan, kasus pelanggaran Nabi Adam dan Istrinya Hawa, yang berakhir dengan diusirnya dari surga, karena keduanya tak dapat menahan nafsu perut, sehingga keduanya melanggar larangan Tuhan memakan buah pohon terlarang. Syahwat perut, katanya, sebagai pangkalmunculnya dorongan syahwat-syahwat Iain seperti syahwat seksual, keinginan harta kekayaan, pangkat dan kedudukan serta lainnya. Akibat lanjut timbullah kerusuhan, perlombaan, kedengkian, kesombongan, permusuhan, kebencian dan kejahatan. Pada gilirannya, membuka kesempatan bagi kegiatan setan dalam diri manusia,
Karena itu, Rasulullah berusaha mendidik kaumnya supaya mengurangi makan, sehingga syahwat-syahwat lain, yang membahayakan itu, dapat dikendalikan. Terhadap pemuda yang ingin kawin, tetapi belum mempunyai kesanggupan tanggung jawab, misalnya, Nabi Muhammad menyuruh yang bersangkutan agar berpuasa, karena puasa itu dapat melemahkan syahwat seksual (atau ”wijaun” dalam bahasa Arabnya). Dalam sabdanya yang lain, Nabi pernah mengatakan, sesungguhnya setan itu bergerak dalam diri manusia melalui aliran darah dalam tubuh. Untuk itu, sempitkanlah jalannyaitu dengan cara mengurangi makan.Siti Aisyah juga pernah berkata, kenyang itu adalah suatu bid’ah yang pertama kali muncul setelah wafat Rasul, dan apabila suatu kaum, perutnya selalu kenyang, maka terarahlah nafsu mereka kepada dunia semata-mata.
Pendidikan mengurangi makan, dengan jalan puasa, dilakukan Rasulullah kepada sahabatnya, memang betul-betul terlihat hasilnya, dengan munculnya kader-kader Islam yang mengalahkan segala macam syahwat. Mereka dapat melakukan ketaatan, dalam mencapai derajat yang tinggi, baik di sisi Allah Swt., maupun di hadapan pandangan manusia. Kehidupan mereka, selalu menjadi model yang dapat dicontoh setiap saat. Sikap demikian, kiranya penting untuk ditumbuhsuburkan di tengah keadaan ekonomi yang krisis. Dengan cara itu pula, puasa mendorong menciptakan pola hidup sederhana.
Kedua, puasa adalah ibadah yang memiliki kekhususan di banding ibadah lainnya. Pengarang kitab Durratun Nashihin, Hasan Ibnu Sakir, menyebutkan. “ ibadah puasa itu bersifat tidak nampak wujudnya (sirrun). “Ibadah itu tak dapat dilihat siapa pun, kecuali Allah sendiri. Demikian pula yang berhak menilai dan mengganjarnya, hanya Allah jua. Di sini, yang menjadi landasan puasa itu, adalah iman. Puasa melatih agar manusia selalu merasa dilihat Allah, dan pada gilirannya ia akan merasa malu berbuat maksiat atau kejahatan yang dilarang-Nya. Selama berpuasa, sungguhpun makanan dan minuman “serba lezat tersedia di rumah dan perut kita sedang lapar — dan haus, sementara itu orang lain pun tak ada yang melihatnya, namun kita dilarang melakukannya, karena Allah mengetahui dan melihat apa yang akan kita kerjakan itu. Keadaan ini dilatih terus-menerus sampai satu bulan. Namanya, sehingga rasa iman itu mendarah daging dalam jiwanya. Akhirnya ia betul-betul percaya, pada saat ia sendiri, sebenarnya ia berdua dengan Allah, dan saat ia berdua, sebenarnya Ia bertiga dengan Allah dan seterusnya, Dalam dirinya, tertanam kejujuran dan keikhlasan. Sikap demikian, amat diperlukan, di tengah masyarakat yang mengidap penyakit korupsi dan manipulasi. Untuk itu, puasa dar ditempatkan sebagai alternatif memulihkan kembali sikap jujur dan rasa malu manusia, yang kian ‘mahal’ akhir-akhir ini.
Ketiga adalah ibadah yang berdiri di atas dasar kesabaran : kesabaran menaati perintah Allah, kesabaran meninggalkan perbuatan terlarang, sabar menanggung penderitaan, lapar dan dahaga. Dalam hal ini, Rasulullah sering berkata, “Puasa adalah setengah dari kesabaran,”
(Surat Az-Zumar ayat 10) juga menyatakan, ”Hanya orang-orang sabarlah yang akan disempurnakan ganjarannya dan tidak akan ada perhitungan lagi (hisab) di akhirat”, Kesabaran ini amat penting kita miliki dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kita tidak akan mudah putus asa, patah semangat, dan kehilangan gairah kerja. Kesabaran mutlak diperlukan setiap individu dalam segala profesinya, mulai dari pemimpin, guru, usahawan, sopir, petugas keamanan dan lain-lain.
Keempat, puasa melatih seseorang agar memiliki rasa sosial dan kasih sayang terhadap sesama makhluk Allah. Hal ini muncul dari perasan lapar selama berpuasa satu bulan, kemudian menginsafkan rasa kelaparan itu kepada akir-miskin dan kaum melarat yang memerlukan uluran angannya. Puasa juga akan mengikis habis sikap egoisme, dan individualisme, yang cenderung berkembang di masyarakat perkotaan dewasa ini.
Kelima,puasa akan menumbuhkan kesehatan jasnfani yang lebih baik. Karena dengan menahan dan menghentikan nafsu makan, minum dan hubungan kelamin, berarti “kita beri ”waktupakansi” bagi alat-alar jasmani. Sisa makanan atau kelebihan makanan dalamperut akan dapat menimbulkan keracunan zat yang membahayakan, seperti tersumbatnya pembuluh darah. Kita memang tahu, banyak obat produksi teknologi modern yang bisa menyembuhkan penyakit tersebut, (semacam broklack). Tetapi, penyembuhan dengan puasa, jauh lebih baik, karena sifatnya alamiah, dan lebih ekonomis. Ini diakui para dokter dan ahli kesehatan terkenal di dunia. Untuk itu, kepada mereka yang biasa ‘rakus’ makan dan minum minuman keras, kiranya, tiba sekarang momentum pas untuk penyembuhan diri anda dengan jalan berpuasa.
Keenam, puasa melatih dan mendidik manusia supaya berakhlak baik, dan mulia. Selama seseorang berpuasa, di samping harus menahan makan, minum dan hubungan kelamin, juga harus meninggalkan perbuatan-perbuatan tercela, seperti memfitnah, menggunjing orang, berkata keji dan dusta, berhati iri, dengki, sombong, sentimen, ingin dipuji dan lain-lain. Dengan waktu satu bulan puasa, diharapkan kebiasaan berbuat keji tadi dapat dihindarkan secara total, dan gantinya, tumbuhkanlah sikap-sikap akhlaki yang mul:a. Sikap ini, amat diperlukan terutama bagi mereka yang menyandang ‘jabatan’ sebagai pemimpin ummat, dan pemimpin masyarakat. Oh, iya, para pemuda dan remaja pun, parut, secara dini, membiasakan diri dengan sikap-sikap akhlaki itu.
Tujuan
Tujuh ibadah puasa seperti diterangkan dalam surat Al-Baqarah ayat 183, adalah untuk menjadikan manusia agar bertakwa kepada Allah (la’allakumtattaqun). Yaitu, manusia yang senantiasa) menjalan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya secara konsisten. Sikap taqwa ini, adalah sikap yang paling tinggi di sisi Allah (Inna akramakumindallahiatqakum). Dan untuk itu, Allah menganjurkan, agar manusia membekali diri dengan taqwa, Selanjutnya, Nabi mengatakan, kelebihan seseorang dari lainnya hanya karena takwanya. Kepada Abu ZarAl-Ghifari, yang datang minta nasehat kepada Nabi, ternyata sehat yang beliau adalah “agar bertakwa di mana berada”, Begitu pentingnya takwa, hingga para ulama sepakat untuk mencantumkan takwa sebagai rukun dalam setiap khutbahJumat.
Tercapai – tidaknya tujuan puasa itu, indikasinya terletak pada perubahan sikap orang yang berpuasa itu. Setelah ia puasa adakah imannya bertambah kuat, akhlaknya bertambah mulia, kesabarannya semakin , meningkat? Jika indikasi ini terlihat, berarti puasanya berhasil. Jika tidak, puasanya mardud alias tidak lulus.
Dampak Positif
Bagi kaum materialistikyang tak beriman dan berpandangan picik, mungkin dianggapnya puasa itu hanya perbuatan sia-sia belaka, dan secara material dapat membawa kerugian, dan daya produktifitas kerjanya menurun. Mereka berpendapat demikian, karena sudah terbiasa dengan pepatah, timeismoney , waktu adalah duit. Namun, bagi orang yang beriman dan berpandangan utuh dan luas, tidak akan mengatakan demikian. Bagi mereka yang terakhir ini berpendapat, ibadah puasa itu suatu ibadah yang mengandung makna dan hikmah yang sangat tinggi nilainya yang dapat mengembalikan manusia pada keutuhan dirinya. Yaitu manusia yang tidak hanya memandang waktu hanya uang, tetapi waktu itu, untuk beramal dan mewujudkan cita-cita luhur kehidupan manusia. Beberapa didikan puasa seperti yang diuraikan di atas, merupakan bukti puasa itu betul-betul bermanfaat dan mendorong kemajuan hidup manusia.
Di samping manfaat puasa dirasakan hasilnya di dunia ini, juga (secara ukhrawi) akan mendapat pahala berlipat ganda dari Allah Swt. Sebagai orang beriman, percaya sepenuhnya hal ini.Dengan memahami keistimewaan puasa ini, marilah kita sambut kedatangannya dengan penuh kegembiraan, disertai permohonan dua agar Allah Swt. memberikan kekuatan lahir batin untuk melaksanakan kewajiban puasa yang mulia itu. Amin.


