Malam nishfu sya’ban (15 Sya’ban) di Damaskus tempo dulu. Menyambut malam penuh berkah ini, masjid-masjid di seluruh negeri berhias dengan memasang lampu. Masjid Jami’ Damaskus pun terang benderang dengan kandil-kandil yang bergelantungan di hampir setiap bagian. Kebiasaan ini, menurut shahibul hikayat, Ibn Katsir, berlangsung setiap malam Nishfu Sya’ban sejak tahun 450 H, dan tak ada orang yang mengusik. Tapi malam itu, di suatu waktu pada abad 8 H, Muhammad ibn Abi Bakr ibn Ayub Az-Zar’i, yang dikenal sebagai Ibn Qayim Al-Jauziyah, membuat keputusan kontroversial. Ulama besar pengasuh madrasah Ash-Shadriyah ini menyuruh orang mencopoti semua kandil dan hanya menyisakan satu saja.
https://googleads.g.doubleclick.net/pagead/ads?gdpr=0&us_privacy=1—&gpp_sid=-1&client=ca-pub-6975646565507985&output=html&h=280&adk=4073550084&adf=2633262484&w=600&abgtt=6&fwrn=4&fwrnh=100&lmt=1736810182&num_ads=1&rafmt=1&armr=3&sem=mc&pwprc=6424621173&ad_type=text_image&format=600×280&url=https%3A%2F%2Fpanjimasyarakat.com%2F2024%2F09%2F12%2Fibn-qayim-sosok-sufi-yang-rasional%2F&fwr=0&pra=3&rh=150&rw=600&rpe=1&resp_fmts=3&wgl=1&fa=27&uach=WyJXaW5kb3dzIiwiMTAuMC4wIiwieDg2IiwiIiwiMTMxLjAuNjc3OC4yMDUiLG51bGwsMCxudWxsLCI2NCIsW1siR29vZ2xlIENocm9tZSIsIjEzMS4wLjY3NzguMjA1Il0sWyJDaHJvbWl1bSIsIjEzMS4wLjY3NzguMjA1Il0sWyJOb3RfQSBCcmFuZCIsIjI0LjAuMC4wIl1dLDBd&dt=1736810181792&bpp=3&bdt=1496&idt=-M&shv=r20250109&mjsv=m202501090101&ptt=9&saldr=aa&abxe=1&cookie=ID%3D9c3493f4247f26dc%3AT%3D1730608121%3ART%3D1736810177%3AS%3DALNI_MaX8JqtACDibKwh0M9lG65lwWbxQw&gpic=UID%3D00000f5e841bcd04%3AT%3D1730608121%3ART%3D1736810177%3AS%3DALNI_MYHgiV2NGjThtXl2g-kHZBhDQl_Aw&eo_id_str=ID%3Db829a250c1d1ed39%3AT%3D1730608121%3ART%3D1736810177%3AS%3DAA-AfjZDlyLQch3Y-p_fSNO2qbbE&prev_fmts=0x0%2C1200x280&nras=3&correlator=6617126502060&frm=20&pv=1&u_tz=420&u_his=21&u_h=1080&u_w=1920&u_ah=1040&u_aw=1920&u_cd=24&u_sd=1&dmc=8&adx=487&ady=2022&biw=1903&bih=953&scr_x=0&scr_y=399&eid=31088669%2C31089624%2C95350246%2C95347432%2C95348348&oid=2&pvsid=3451683259038760&tmod=1711068816&uas=0&nvt=1&ref=https%3A%2F%2Fpanjimasyarakat.com%2Ftasawuf%2F&fc=1408&brdim=0%2C0%2C0%2C0%2C1920%2C0%2C1920%2C1040%2C1920%2C953&vis=1&rsz=%7C%7Cs%7C&abl=NS&fu=128&bc=31&bz=1&td=1&tdf=2&psd=W251bGwsbnVsbCxudWxsLDNd&nt=1&ifi=4&uci=a!4&btvi=1&fsb=1&dtd=554
Alasannya, penyambutan malam Nishfu Sya’ban secara demikian adalah bid’ah, tidak ada dalam tuntunan Islam. Tentu saja keputusan ini menghebohkan masyarakat. Tapi, menurut si empunya cerita, para ahli ilmu dan ahli agama menyambutnya dengan gembira, dengan rasa syukur kepada Allah. Dukungan dan restu juga diberikan Sultan Hasan ibn Muhammad ibn Qalawun.
Ibn Qayim, seperti halnya gurunya, Ibn Taimiah, memang sangat keras terhadap bid’ah. Dalam kitabnya “I’lamul Muwaqqi’in ‘an Rabbil “Alamin” ia menjelaskan, ada dua hal yang menjadi sumber kerusakan agama. Pertama, keyakinan yang salah serta memperbincangkannya, dan itulah bid’ah. Kedua, melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran, dan itulah pengumbaran hawa nafsu. Sebagaimana dalam firman Allah ketika menggambarkan keadaan orang-orang munafik dan musyrik, “… seperti keadaan orang-orang yang sebelum kamu… maka mereka telah menikmati bagian mereka, dan kamu telah menikmati bagiarnmu sebagaimana orang-orang sebelum kamu menikmati bagian mereka, dan kamu mempercakapkan (hal yang batil) sebagai mereka mempercakapkannya.” (Q. 9:69). Menurut Ibn Oayim, yang dimaksud “menikmati bagian” adalah mengumbar hawa nafsu, sedang “memperbincangkan (hal batil)” adalah mempercayai hal yang batil dan memperbincangkannya, dan itulah bid’ah.
https://googleads.g.doubleclick.net/pagead/ads?gdpr=0&us_privacy=1—&gpp_sid=-1&client=ca-pub-6975646565507985&output=html&h=280&adk=4073550084&adf=1568602078&w=600&abgtt=6&fwrn=4&fwrnh=100&lmt=1736810182&num_ads=1&rafmt=1&armr=3&sem=mc&pwprc=6424621173&ad_type=text_image&format=600×280&url=https%3A%2F%2Fpanjimasyarakat.com%2F2024%2F09%2F12%2Fibn-qayim-sosok-sufi-yang-rasional%2F&fwr=0&pra=3&rh=150&rw=600&rpe=1&resp_fmts=3&wgl=1&fa=27&uach=WyJXaW5kb3dzIiwiMTAuMC4wIiwieDg2IiwiIiwiMTMxLjAuNjc3OC4yMDUiLG51bGwsMCxudWxsLCI2NCIsW1siR29vZ2xlIENocm9tZSIsIjEzMS4wLjY3NzguMjA1Il0sWyJDaHJvbWl1bSIsIjEzMS4wLjY3NzguMjA1Il0sWyJOb3RfQSBCcmFuZCIsIjI0LjAuMC4wIl1dLDBd&dt=1736810181792&bpp=3&bdt=1496&idt=-M&shv=r20250109&mjsv=m202501090101&ptt=9&saldr=aa&abxe=1&cookie=ID%3D9c3493f4247f26dc%3AT%3D1730608121%3ART%3D1736810177%3AS%3DALNI_MaX8JqtACDibKwh0M9lG65lwWbxQw&gpic=UID%3D00000f5e841bcd04%3AT%3D1730608121%3ART%3D1736810177%3AS%3DALNI_MYHgiV2NGjThtXl2g-kHZBhDQl_Aw&eo_id_str=ID%3Db829a250c1d1ed39%3AT%3D1730608121%3ART%3D1736810177%3AS%3DAA-AfjZDlyLQch3Y-p_fSNO2qbbE&prev_fmts=0x0%2C1200x280%2C600x280&nras=4&correlator=6617126502060&frm=20&pv=1&u_tz=420&u_his=21&u_h=1080&u_w=1920&u_ah=1040&u_aw=1920&u_cd=24&u_sd=1&dmc=8&adx=487&ady=2862&biw=1903&bih=953&scr_x=0&scr_y=399&eid=31088669%2C31089624%2C95350246%2C95347432%2C95348348&oid=2&pvsid=3451683259038760&tmod=1711068816&uas=0&nvt=1&ref=https%3A%2F%2Fpanjimasyarakat.com%2Ftasawuf%2F&fc=1408&brdim=0%2C0%2C0%2C0%2C1920%2C0%2C1920%2C1040%2C1920%2C953&vis=1&rsz=%7C%7Cs%7C&abl=NS&fu=128&bc=31&bz=1&td=1&tdf=2&psd=W251bGwsbnVsbCxudWxsLDNd&nt=1&ifi=5&uci=a!5&btvi=2&fsb=1&dtd=640
Dua hal inilah, kata Ibn Qayim, akar dan sumber segala kejahatan, segala bencana dan musibah. Gara-gara keduanya, orang mendustakan para rasul, orang mendurhakai Allah, orang terperosok ke dalam api neraka, dan orang mendapat siksaan. Dengan pandangannya ini, Ibn Oayim bersama gurunya Ibn Taimiah dijadikan rujukan oleh kaum muslim modernis, termasuk pengikut Muhammadiyah, Al-Irsyad, dan Persatuan Islam di Indonesia atau Persis.
Menebar Cinta
Kado terbaik untuk orang terdekat
Ibn Qayim lahir di Damaskus (sekarang ibu kota Suriah) pada 691 H atau bertepatan dengan 1292 M. Ayahnya, Abu Bakr, adalah seorang ulama yang luas ilmunya, yang menjadi wali (yayim) di Al-Jauziyah, sebuah madrasah di Damaskus. Itulah sebabnya dia dijuluki Ibn Qayim Al-Jauziyah, atau anaknya wali Al-Jauziyah. Ia pun dikenal dengan julukan Syamsuddin atau ‘mataharinya agama’. Berbagai kesaksian menyebutkan, Ibn Qayim adalah seorang yang halus budi bahasanya, fasih bicaranya, mulia akhlaknya. Kepada setiap orang ia selalu memperlihatkan wajah sejuk, penuh rasa cinta, tak pernah hasud dan menyakiti siapa pun. Dia pun seorang ahli ibadah yang tekun. “Tidak pernah aku kenal seorang pun di zaman kita ini orang yang lebih banyak ibadahnya,” tutur Ibn Katsir. “Kalau salat, lama sekali. Dia perlama ruku dan sujudnya.” Kabarnya pula, setiap habis salat subuh, beliau tetap duduk di atas sajadahnya membaca zikir hingga matahari terbit.
https://googleads.g.doubleclick.net/pagead/ads?gdpr=0&us_privacy=1—&gpp_sid=-1&client=ca-pub-6975646565507985&output=html&h=280&adk=4073550084&adf=785595235&w=600&abgtt=6&fwrn=4&fwrnh=100&lmt=1736810182&num_ads=1&rafmt=1&armr=3&sem=mc&pwprc=6424621173&ad_type=text_image&format=600×280&url=https%3A%2F%2Fpanjimasyarakat.com%2F2024%2F09%2F12%2Fibn-qayim-sosok-sufi-yang-rasional%2F&fwr=0&pra=3&rh=150&rw=600&rpe=1&resp_fmts=3&wgl=1&fa=27&uach=WyJXaW5kb3dzIiwiMTAuMC4wIiwieDg2IiwiIiwiMTMxLjAuNjc3OC4yMDUiLG51bGwsMCxudWxsLCI2NCIsW1siR29vZ2xlIENocm9tZSIsIjEzMS4wLjY3NzguMjA1Il0sWyJDaHJvbWl1bSIsIjEzMS4wLjY3NzguMjA1Il0sWyJOb3RfQSBCcmFuZCIsIjI0LjAuMC4wIl1dLDBd&dt=1736810181792&bpp=2&bdt=1496&idt=-M&shv=r20250109&mjsv=m202501090101&ptt=9&saldr=aa&abxe=1&cookie=ID%3D9c3493f4247f26dc%3AT%3D1730608121%3ART%3D1736810177%3AS%3DALNI_MaX8JqtACDibKwh0M9lG65lwWbxQw&gpic=UID%3D00000f5e841bcd04%3AT%3D1730608121%3ART%3D1736810177%3AS%3DALNI_MYHgiV2NGjThtXl2g-kHZBhDQl_Aw&eo_id_str=ID%3Db829a250c1d1ed39%3AT%3D1730608121%3ART%3D1736810177%3AS%3DAA-AfjZDlyLQch3Y-p_fSNO2qbbE&prev_fmts=0x0%2C1200x280%2C600x280%2C600x280&nras=5&correlator=6617126502060&frm=20&pv=1&u_tz=420&u_his=21&u_h=1080&u_w=1920&u_ah=1040&u_aw=1920&u_cd=24&u_sd=1&dmc=8&adx=487&ady=3757&biw=1903&bih=953&scr_x=0&scr_y=399&eid=31088669%2C31089624%2C95350246%2C95347432%2C95348348&oid=2&pvsid=3451683259038760&tmod=1711068816&uas=0&nvt=1&ref=https%3A%2F%2Fpanjimasyarakat.com%2Ftasawuf%2F&fc=1408&brdim=0%2C0%2C0%2C0%2C1920%2C0%2C1920%2C1040%2C1920%2C953&vis=1&rsz=%7C%7Cs%7C&abl=NS&fu=128&bc=31&bz=1&td=1&tdf=2&psd=W251bGwsbnVsbCxudWxsLDNd&nt=1&ifi=6&uci=a!6&btvi=3&fsb=1&dtd=652
Kesufian Ibn Qayim lebih menitikberatkan pada akhlak, penyucian jiwa—hal yang sebenarnya juga ada pada ajaran Ibn Arabi dan Al-Hallaj. Hanya saja, pandangan metafisika mereka berbeda. Kalau Ibn Gayim, sebagaimana para mutakallimin (ahli ilmu kalam atau tauhid) pendekatannya rasional (rational thinking), maka yang dua yang terakhir pendekatannya intuitif (intuitive thinking).
Pandangan ontologis mereka, karena itu, juga sangat berbeda. Jika Ibn Qayim lebih menekankan pada perbedaan antara alam dan Tuhan—alam ya alam, Tuhan ya Tuhan—maka dua yang lain lebih menekankan pada kesatuan. Alam dan Tuhan, menurut dua sufi intuitif ini memang beda, tapi satu. Artinya, kualitas Tuhan ada pada alam, begitu pula sebaliknya.
Karena keluhuran budi dan cintanya yang dia tebarkan kepada setiap orang, maka ketika beliau meninggal dunia pada malam Kamis 13 Rajab 751 H, seluruh negeri berduka. Berduyun-duyun orang datang memenuhi jalan. Mereka berebut untuk membawa jenazahnya ke kuburan, setelah disalati di Masjid Jami’ Damaskus.
Sumber: Panji Masyarakat, 1 Desember 1999.
