Pelembagaan Pangaji
Dalam thesisnya, Pelembagaan Dan Pengembangan Sistem Manajerial Pangaji dalam Modernisasi Pendidikan Islam Di Ternate, Kasman Hi. Ahmad (mantan Rektor UMMU Ternate) menyebutkan, risetnya menjelaskan bahwa penyebaran agama Islam di Ternate telah mendorong lahirnya lembaga pangaji sebagai sarana aktivitas. Munculnya lembaga Pangaji seiring dengan penyebaran dan dakwah Islam di Ternate, yang ditindak lanjuti dengan transformasi ajaran-ajaran Islam baik yang terdapat dalam al-Qur’an, Hadits, maupun yang telah dibahas dalam kitab-kitab klasik. Sejak permulaan penyebaran Islam di Ternate, tidak diragukan lagi bahwa Membaca al-Qur’an merupakan pengajaran utama dalam pendidikan Islam di Ternate, khususnya pada pendidikan Islam tingkat dasar yang menekankan pada pengajaran membaca al-Qur’an termasuk membaca dan menulis huruf Arab. Lahirnya Pangaji dan proses awal pendidikan Islam ini tidak dapat dilepaskan dari peran besar seorang pedagang sekaligus mubaligh asal Jawa, Datu Maula Hussein. Beliau adalah guru pertama yang mengajarkan membaca dan menulis al-Qur’an dan bahasa Arab di Ternate, yang kemudian berkembang dan meluas keseluruh daerah sekitarnya dalam bentuk Pangaji-pangaji.
Sebuah wawancara yang dilakukan Kasman dengan Adnan Amal, menggambarkan secara mendalam peranan yang dimainkan Datu Maula Hussein tersebut seperti di bawah ini:
Penyebaran di Ternate dan sekitarnya pada masa-masa awal tidak bisa dipisahkan dari kerja keras Datu Maula Hussein, seorang pedagang sekaligus mubaligh asal Jawa. Ia tiba di Ternate pada tahun 1465. Hussein adalah seorang mubaligh besar pada masanya. Ia memiliki pengetahuan agama Islam yang luas dan dalam, serta pakar tilawah dan kaligrafi Arab. Pada waktu senggang, terutama di malam hari, ia membaca al-Qur’an dengan tilawah dan suara yang merdu, serta membuat kaligrafi di atas potongan-potongan papan. Keahliannya ini membuat pribumi Ternate terpesona dan kagum. Itulah sebabnya, setiap kali ia mendendangkan ayat-ayat suci al-Qur’an, banyak orang berdatangan untuk mendengarkannya. Jumlah pengagumnya kian bertambah dari waktu ke waktu. Akhirnya, ada di antara pribumi tersebut yang memintanya mengajarkan mereka membaca al-Qur’an. Hussein menjelaskan bahwa al-Qur’an adalah kitab suci agama Islam yang berisi kalam ilahi (verbum dei). Kitab suci ini hanya boleh diajarkan kepada mereka yang telah menganut agama Islam. Mendengar penjelasan Hussein, orang-orang Ternate tidak keberatan dengan syarat tersebut, dan mulailah mereka berbondong-bondong memeluk agama Islam. (Wawancara, Ternate, 17 Agustus 2006).
Dari gambaran tersebut, nampak bahwa, pangaji selain sebagai lembaga pendidikan Islam tempat diajarkannya cara membaca dan menulis al-Quran, juga dijadikan sebagai sarana transmisi Islam masa awal yang paling efektif dengan Datu Maula Hussein sebagai tokoh utamanya.
Dengan semakin banyaknya orang-orang Ternate–demikian juga orang-orang Tidore, Bacan dan Jailolo—yang masuk Islam, Hussin membuka pengajian untuk mengajarkan al-Qurang dan Islam. Upayanya bisa dikatakan sukses dan merembet sampai kelingkungan istana. Hussein diminta membaca al-Qur’an dan menjelaskannya di depan kolano, parabobato serta keluarga istana, yang berujung dengan pengucapan dua kalimat syahadat sebagai pertanda masuk Islamnya mereka.
Datu Maula Hussein adalah guru spiritual Zainal Abidin, mulai dari masa kanak-kanaknya hingga dinobatkan sebagai Sultan Ternate. Seperti terlihat dalam kenyataan sejarah, Islam memperoleh kekuatan politik setelah bertakhtanya Zainal Abidin pada 1486. Keberadaan lembaga pendidikan Islam Pangaji, juga mendapat legitimasi politik dari kekuaasaan istana pada masa Zainal Abidin. Faktor penerimaan dan legeitimasi pendidikan Pangaji seperti ini, nampaknya membedakan keberadaan Pangaji di Ternate dan pesantren di Jawa, Surau di Padang, Meunasah di Aceh. Abdjan Jahja, menjelaskan, bahwa, perbedaan eksistensi Pangaji dengan pesantren di Jawa dan lembaga pendidikan sejenis di tempat lain di Indonesia adalah, pemunculannya di mulai dari keraton dan mendapat perhatian maksimal untuk dikembangkan dari atas. Sementara pesantren, lebih didasarkan pada keberadaan Kiyai dan dukungan utama dari masyarakat sekitar sebagai pendukung utama dalam pengembangannya dari bawah (Abdjan Jahja, Wawancara, Ternate, 15 Agustus 2006).
Apa yang dinyatakan oleh Jahja di atas, merupakan suatu kenyataan pendidikan Islam awal di Ternate yang dipelopori oleh Zainal Abidin. Sebagaimana diketahui bahwa pada 1494, Zainal Abidin melakukan perjalanan ke Giri, Jawa Timur, untuk belajar agama Islam pada Sunan Giri, salah satu dari sembilan wali (walisongo) yang terkenal itu. Maula Hussein menyertainya dan kembali untuk seterusnya ke kampung halamannya. Dengan demikian Zainal Abidin adalah sultan Ternate bahkan Maluku pertama yang belajar agama langsung pada Sunan Giri. Setelah tiga bulan belajar di madrasah Sunan Giri, Valentijn menyebutnya madrasah yang diasuh Sunan Giri sebagai Sekolah Tinggi Agama (Godsdienst Hoge School (Valentijn, Francoise, 1724., Oud en Nieuw Oost Indien, Vol. 1, Beschrijving der Moluccas, Dordrecht-Amsterdam, h. 378.).
Ia kembali ke Ternate dengan memboyong beberapa Ulama Jawa untuk mengajarkan Islam di Ternate. Salah satu upaya Zainal Abidin yang terpenting untuk mengembangkan Islam, selain mendirikan sejumlah sekolah atau tempat-tempat pengajian dengan guru-guru ulama yang diboyong dari Giri, adalah membentuk lembaga jolebe, sebagai salah satu perangkat agama kerajaan. Dengan demikian, ia telah meletakkan dasar untuk menjadikan Ternate sebagai kerajaan Islam. Pengganti Zainal Abidin adalah Bayanullah (1500-1522), yang melanjutkan tugas-tugas penyebaran Islam ke daerah- daerah. Masa kedua sultan Ternate inilah yang juga dapat dikatakan sebagai peletak dasar atau embrio pelembagaan Pangaji di Ternate dan sekitarnya.
Kini, Islamisasi telah berkembang di seluruh kepulauan Ternate. Islam hadir di tengah-tengah kehidupan masyarakat Ternate, bukan saja sebagai sistem keagamaan semata, namun sekaligus merupakan kekuatan sosial politik yang cukup diperhitungkan. Tetapi hal itu tidak berarti bahwa masyarakat Ternate telah sepenuhnya menerima atau mengamalkan Islam secara murni. Karenanya hingga kini kegiatan Islamisasi tetap berlanjut, dan pada kenyataannya hal ini merupakan suatu proses yang tidak pernah selesai. Jika dianalisis lebih jauh, setidaknya ada tiga faktor yang mempercepat proses penyebaran Islam dan pelembagaan pendidikan pangaji di Ternate:
Pertama, karena ajaran Islam menekankan prinsip ketauhidan dalam sistem ketuhanannya. Suatu prinsip yang secara tegas menekankan kepercayaan kepada Tuhan (Allah) Yang Maha Tunggal. Pada gilirannya ajaran ini memberikan pegangan kuat bagi para pemeluknya, untuk membebaskan diri dari ikatan kekuatan apapun selain Allah. Ajaran tauhid ini menunjukkan dimensi pembebasan manusia dari kekuatan-kekuatan asing. Sebagai konsekuensinya, Islam juga mengajarkan prinsip-prinsip keadilan dan persamaan dalam tata hubungan kemasyarakatan. Hal itu merupakan ajaran baru yang bertentangan, secara diametral, dengan sistem hubungan kemasyarakatan waktu itu, sistem kasta atau dano-dano yang berasal dari ajaran Hindu.
Kedua, Karena daya lentur (fleksibilitas) ajaran Islam, dalam pengertian bahwa ia merupakan kodifikasi nilai-nilai universal. Dengan demikian, ajaran Islam dapat berhadapan dengan berbagai bentuk dan jenis situasi kemasyarakatan. Karena watak ajaran yang demikian itu, maka Islam tidak secara serentak menggantikan seluruh tatanan nilai yang telah berkembang (baku) di dalam kehidupan masyarakat Ternate sebelum datangnya Islam. Bahkan hingga taraf-taraf tertentu, nilai-nilai kemasyarakatan yang telah ada, seperti rendah hati, sabar, mementingkan orang lain dan sebagainya, disubordinasikan ke dalam ajaran Islam. Sebab ajaran-ajaran seperti itu juga terkandung dalam Islam.
Ketiga, pada gilirannya nanti Islam oleh masyarakat Ternate dianggap sebagai institusi yang amat dominan untuk menghadapi dan melawan ekspansi pengaruh Barat, yang melalui kekuasaan-kekuasaan bangsa Portugis dan kemudian Belanda, mengobarkan penjajahan dan penyebaran agama Kristen. Sehubungan dengan proses penyebaran Islam dan pangaji sebagai salah satu pusat aktivitasnya di Ternate, dapat dikatakan bahwa telah terjadi suatu proses singkretisasi cukup tajam antara Islam dan ajaran-ajaran animis dan dinamis yang bersifat paganis dan heterodoks yang terdapat dalam masyarakat Ternate. Alasan untuk menguatkan tesis ini adalah kenyataan bahwa, secara geografis, Ternate terletak sangat jauh dari daerah asal Islam. Karena itu, sulit dibayangkan bahwa dari jarak begitu jauh, kemurnian Islam masih dapat dipertahankan hingga sampai di Ternate. Dengan kata lain, terdapat kemungkinan bahwa, dalam perjalannya menuju Timur, Islam telah bercampur atau dipengaruhi oleh nilai-nilai setempat. Selain itu adanya kenyataan historis, menurut teori yang mereka yakini, bahwa Islam hadir di Ternate tidak dibawa langsung oleh pemeluk Islam asal jazirah Arab, melainkan oleh pedagang Persia dan India, berikut Jawa dan Melayu, semakin menunjukkan indikasi adanya sinkretisme Islam sejak ia pertama kali hadir di Ternate.
Sampai di sini, persoalan sinkretisme Islam di Ternate dapat diterjemahkan dalam dua “corak Islam”. Pertama, bercampurnya ajaran Islam dengan nilai-nilai setempat yang telah dimiliki oleh masyarakat Ternate sejak sebelum datangnya Islam. Kedua, sinkretisme Islam dalam pengertian bahwa ajaran Islam telah bercampur dengan nilai-nilai serta tradisi masyarakat pedagang Asia (India dan Persia) dan Nusantara (Jawa dan Melayu) yang menyebarkan Islam di Ternate.
Corak Islam seperti ini berlangsung terus sampai abad ke-20. Bahkan dalam batas-batas tertentu masih berlansung sampai sekarang. Kenyataan-kenyataan inilah yang kemudian mendorong lahirnya upaya-upaya teratur melakukan pemurnian (purifikasi) Islam, dari campuran adat dan kepercayaan setempat yang paganistik dan heterodoks. Hal itu terjadi setelah kontak Ternate atau Maluku Utara dengan Arabia melalui jaringan “Haji”, dan pengaruh dari bacaan literatur yang ditulis oleh kelompok pembaharu dari Mesir seperti “Almanar”nya Muhammad Abduh. pada Abad 19. Contoh upaya ini seperti dilakukan oleh joguru Thaha Amal, beliau mukim selama empat tahun di Makkah (1914-1918) dan bertemu dengan beberapa tokoh Muhammadiyah. Sekembalinya dari Makkah, Thaha Amal kemudian membuka cabang Muhammadiyah pertama di Maluku Utara yang berkedudukan di Galela pada tahun 1918, enam tahun kemudian setelah Muhammadiyah didirikan oleh Ahmad Dahlan di Yogyakarta tahun 1912 (H. Adnan Amal, Wawancara, Op.cit.)
Analisis ini dicukupkan disini, satu hal yang menarik adalah pelembagaan pangaji, terkait langsung dengan proses penyebaran Islam di Ternate dengan segala implikasinya. Sejak awal pelembagaannya, pangaji telah mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang peranannya cukup signifikan bagi pembangunan sosial, pendidikan dan dakwah di Ternate.



