Narasi tentang Wali Songo ternyata tidak memperbincangkan hanya tentang Islam di Tanah Jawa. Impak dakwah Islam pun pernah memapar Maluku Utara. Ketertarikan para pelaut Eropa lebih materialistik pada kawasan Moloku Kie Raha, karena motif memburu benefit sebagai “Negeri Rempah-rempah”. Tidak demikian bagi masyarakat Muslim Maluku Utara yang tertarik pada purifikasi dakwah Wali Songo nan masyhur, khususnya kepada Sunan Giri.
Menurut penelitian, masuknya Islam ke Ternate ada beberapa versi. Penulis-penulis Barat menjelaskan bahwa Islam masuk ke Ternate pada paruh kedua abad ke 15. Tome Pires yang menulis catatan perjalanannya antara tahun 1512-1515 mengatakan bahwa agama Islam telah terdapat di Maluku sekitar lima puluh tahun silam. Antonio Galvao yang pernah menjadi kepala orang Portugis di Ternate (1536-1539), dan pengalamannya itu telah dicatatnya dalam “Histoa das Molucas” (1544), menyatakan bahwa Islam telah masuk ke kepulauan ini delapan puluh tahun lampau. (Jacobs, Hubert. Th. M 1966, Sejarah Gereja di Indonesia, Jakarta: Badan Penelitian Kristen, h. 334). Versi yang lain, Antonio Pegafetta yang tiba di Tidore pada tahun 1521 menyebutkan bahwa orang-orang Islam itu telah ada di Maluku kira- kira lima puluh tahun lalu. (Italian Embasy, 1963., II Marcopolo, No. 14-14, Jilid V, Juli-Desember, h. 6).
Antonio Galvao merekam cerita masyarakat setempat tentang kedatangan Islam di Ternate. Menurut keterangan sebagian masyarakat, salah seorang putri bangsawan Jawa tiba di Ternate. Ia menikah dengan Raja Ternate yang terlebih dahulu harus berpindah agama menjadi Islam. Raja itu bernama Tidore Vongi. Cerita yang lain mengatakan bahwa Raja Ternate pergi ke Malaka. Ketika kembali ke Ternate ia singgah di Jawa dan mengawini salah seorang putri bangsawan di sana. Mereka kembali lalu mengislamkan masyarakat di Ternate. Peristiwa pengislaman Raja ini terjadi pada tahun 1460. (Jacobs, Hubert. Th. Th. M., op cit., h. 83-84). Raja yang dimaksud adalah Gapi Baguna atau Marhoem.
Hamka, menyatakan bahwasanya yang mula-mula memeluk agama Islam ialah ‘Kolano’ (gelar Raja-raja Maluku sebelum Islam) yang bernama Gapi Baguna. Bagindalah Raja yang telah menerima seruan Dato’ Maula Husain itu dan mempelajari Islam dengan sebaik-baiknya. Disebut dalam catatan orang Ternate bahwa raja itu setelah Islam memakai nama ‘Marhum’. Besar sekali kemungkinan bahwa nama besar baginda bukan itu. Sebab telah biasa bila seorang raja telah mati baru disebut saja namanya dengan panggilan ‘Marhum’ yang kadang-kadang orang masih takut menyebut nama baginda sebenarnya, karena takut kena ‘tulah’. Baginda Marhum ini memerintah sejak tahun 1465 sampai mangkatnya pada tahun 1486. (Hamka, 2005., Sejarah Umat Islam, Singapura: Pustaka Nasional Pte Ltd., h. 807-808.
Masyarakat Ternate sekarang ini mempunyai versi lain tentang masuknya Islam di negerinya ini. Menurut tuturan yang disampaikan oleh beberapa informan di Ternate, bahwa telah tiba di Maluku Utara empat orang Syekh dari Irak. Kedatangan mereka berempat dikaitkan dengan pergolakan politik di Irak. Keempat orang asing yang berfaham Syi’ah itu adalah Syekh Mansyur, Syekh Ya’kub, Syekh Amin, dan Syekh Umar. Syekh Mansyur menyiarkan agama Islam di Ternate dan Halmahera muka, daerah pulau Halmahera yang berhadapan dengan Ternate. Setelah beliau wafat dimakamkan di puncak Gamalama Ternate. Syekh Ya’kub menyiarkan agama Islam di Tidore dan Makian dan setelah meninggal dimakamkan di puncak gunung Kie Besi, Makian. Akan halnya Syekh Amin dan Syekh Umar, keduanya menyiarkan agama Islam di Halmahera belakang (bagian Timur), Maba, Patani dan sekitarnya. Mereka berdua dikabarkan kembali ke Irak.
Jika keterangan ini benar, maka keempat syekh itu dianggap sebagai orang-orang Islam pertama yang datang ke Maluku. Dan pergolakan politik yang terjadi di Irak kemungkinan besar jatuhnya Bani Abbasyiah, pada pertengahan abad ke-8 (1258).
Akan tetapi Naidah dalam “Hikayat Ternate” nya tidak merekam cerita tentang kedatangan keempat syekh di atas. Ia menceritakan tentang kedatangan seorang keturunan Nabi Muhammad SAW, Jafar Shadiq (juga disebut Jafar Nuh) yang tiba di Ternate pada hari Senin, 6 Muharram 643 H, atau 1250 M. Penggambaran silsilah keturunan Jafar Sadik, dari Rasululullah, menurunkan Siti Fatimah al-Zahra, lalu menurunkan Sayyid Imam al-Husain, lalu menurunkan Saiyyidina Ali Saiyyidina Baqil. Saiyyidina Syeikh Ja’far al-Shidiq menikah dengan Nursafah dan menurunkan delapan orang anak: empat putri dan empat putra, yaitu: putri sulungnya Tjitma Dewi, dan Kaitjil Buka yang menjadi Sultan Bacan, disusul seorang putri bernama Sadnawi, seorang putra yang menjadi Sultan Jailolo bernama Daradjati, adiknya seorang putri bernama Saharnawi, lalu putranya Sahadjati menjadi Sultan Tidore, selanjutnya putri bernama Sahnawi, dan putra bungsunya Masyhur Malamo menjadi Sultan Ternate. Empat putra laki-laki Jafar Sadik diterakan dalam catatan Departemen Pendidikan & Kebudayaan yang dimuat dalam buku, Sejarah Daerah Maluku [1967], Jakarta: Pusat Penelitian & Pencatatan Kebudayaan Daerah, h. 45.
Tentang Hikayat Ternate
Perlu diingat, Nadiah adalah seorang petugas keraton yang menjabat sebagai hukum Soasio (hakim). Oleh karena itu tidaklah mengherankan kalau kedatangan Jafar Shadiq lebih ditekankan dan dihubungkan dengan terbentuknya kerajaan-kerajaan di Maluku. Jadi ia tidak memberikan keterangan secara pasti bahwa Jafar Shadiq adalah orang Islam pertama yang datang ke Maluku. Namun suatu keterangan yang berharga darinya ialah bahwa raja-raja pertama kerajaan-kerajaan Maluku, pada abad ke-13 sudah beragama Islam.
Menurut Valentijn, sebagaimana dikutip oleh Saleh Putuhena, sejak raja Ternate Comala atau Etsili Naay (memerintah 1304-1317) yang ibunya orang Melayu itu, telah terdapat orang-orang Jawa dan Melayu di Ternate. Sedangkan pada masa pemerintahan raja Sida Arif Malamo atau Etsili Aiya (1322- 1331) di Ternate telah dijumpai sekelompok orang-orang Arab dan Jawa (Saleh Putuhena [2001], “Proses Perluasan Agama Islam di Maluku Utara”, dalam M. Jusuf Abdulrahman, et.al. (Editor), Ternate Bandar Jalur Sutera, Ternate: Lintas, h. 61).
Memperhatikan keterangan dari berbagai sumber di atas, dapat disimpulkan bahwa orang-orang asing yang beragama Islam telah berada di Maluku (Ternate) setidak-tidaknya pada abad ke-13. Sejak itu Ternate memainkan peranan penting dalam penyebaran Islam di Maluku Utara dan sekitarnya. Kedudukannya yang strategis sebagai pusat cengkeh, komoditi perdagangan yang sangat diperlukan dunia, sehingga Hamka menamakan kawasan ini sebagai “Negeri cengkeh yang utama” (Hamka, op cit., 805.). Selain itu faktor komitmen penguasa, dalam hal ini Sultan.
Sampai dengan masa Kaicil Sia yang oleh Naidah disebut Tjitjo, syariat atau agama belum kuat. Tetapi setelah Marhum (1463-1486) yang bersama anaknya Zainal Abidin memperdalam agama Islam di Jawa dan setelah mereka kembali, Islam di Ternate lebih mantap (Sartono Kartodirjo, dkk. [1977], Sejarah Nasional Indonesia III, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 94.)
Zainal Abidin (1486-1500) sebagai Sultan pertama dari Ternate memperkokoh agama Islam dalam kerajaan. Pelantikan Zainal Abidin sebagai Sultan, digunakan juga sebagai awal dari diterimanya Islam secara formal dalam kerajaan. Ia menggunakan gelar “sultan” (untuk pertama kali) yang islami, dan melepaskan titel tradisional “kolano”, yang telah digunakan raja-raja sebelumnya sejak berabad-abad yang silam (M. Adnan Amal, wawancara) Sejak itu, para Sultan ketika di sumpah dinyatakan fungsinya sebagai khalifah Allah di bumi untuk memelihara agama dan memakmurkan masyarakat (Saleh Putuhena, Op.Cit.). Atas dasar itu Sultan berusaha untuk menyebarkan Islam ke daerah-daerah kekuasaannya.
Meskipun agama Islam masuk ke kerajaan Tidore, Jailolo dan Bacan bersamaan dengan Ternate, tetapi peran Ternate cukup dominan. Kedudukan Ternate sebagai pusat perdagangan cengkeh menyebabkan para pendatang dari luar terlebih dahulu singgah atau transit di sini. Peristiwa kedatangan Jafar Shadiq di Ternate dan empat keturunannya menjadi raja-raja pertama dalam lingkungan Moloku Kie Raha, sebagaimana dijelaskan, setidak-tidaknya memberikan informasi bahwa orang-orang Islam pertama yang datang ke Tidore, Jailolo dan Bacan melalui Ternate. Meskipun dua orang raja dari kerajaan Tidore pada abad ke 14 yaitu Akhiruddin (1343) dan Hasan Syah (1372) tetapi mereka belum menggunakan gelar Sultan. Sultan pertama Tidore adalah Tjiliati atau Sultan Jamaluddin yang diangkat pada tahun 1495, sembilan tahun setelah Zainal Abidin. Besar kemungkinan, Jailolo dan Bacan baru menggunakan gelar Sultan setelah Ternate.
Sultan Zainal Abidin merupakan tokoh yang masyhur dalam sejarah pengembangan Islam di Maluku. Selain giat mengorganisasikan dakwah di kalangan penduduk, ia bersikap ramah kepada mubaligh-mubaligh yang datang dari Arab, Jawa maupun Melayu. Hubungan baik di antara para mubaligh dengan penduduk pribumi juga dijalin dengan ikatan perkawinan, sehingga mempercepat tersebarnya Islam di Maluku. (Saifuddin Zuhri [1980]. Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia, al-Ma’arif, Bandung, h.369).
Menurut Saleh Putuhena, penerimaan dan penyebaran Islam telah terlaksana melalui beberapa saluran yaitu: kawin-mawin, pendidikan/dakwah dan saluran politik. (Op.Cit. h.65). Pada awalnya kemajuan Islam berjalan lambat dan mendapat oposisi yang kuat dari penduduk yang masih terikat kepercayaan lama, sehingga penyembahan terhadap patung-patung masih berlangsung bercampur dengan ajaran-ajaran al-Qur’an. Penaklukan Portugis juga memperlambat gerakan dakwah. Mereka menangkap dan memecat qadi yang mengajarkan al-Qur’an kepada penduduk dan mereka sendiri menyebarkan agama Kristen (Thomas W. Arnold, op cit.).
Pada awal perkembangannya agama Islam dianut oleh para pejabat Istana seperti sultan dan keluarganya, pejabat-pejabat istana, para bangsawan diikuti keluarganya dan kemudian diikuti lapisan masyarakat pada umumnya. Jalur dakwah seiring dengan jalur kegiatan ekonomi di Maluku, dari Ternate dan Tidore yang menjadi pusat kegiatan politik, ekonomi dan dakwah, kemudian Islam memasuki gugusan pulau-pulau di sekelilingnya (Ibid.).Pengislaman “wilayah seban” kesultanan Ternate sudah barang tentu tidak terlepas dari peranan pusat kekuasaan itu sendiri. Pada masa pemerintahan Sultan Babullah (1570-1584) kekuasaan kesultanan Ternate sangat luas dengan batas-batas sebelah selatan sampai Bima. sebelah barat sampai Makassar, sebelah timur sampai Banda dan sebelah utara sampai Mindanau. Kepulauan Ambon yang terdiri dari pulau Buru, Saparua, Hitu Ambon dan Seram (barat) adalah wilayah kesultanan Ternate (Saleh Putuhena, Op.Cit.).
Sebagai Pemerintahan Islam, Kesultanan Ternate ketika pengangkatan Sultan pertama, Sultan telah mendekritkan agama Islam sebagai agama warga negara. Setiap warga negara kesultanan harus memeluk agama Islam. Meskipun demikian agama Islam tidak ditetapkan sebagai dasar Kesultanan. Pelaksanaan ajaran Islam dalam kesultanan ditetapkan secara bertahap. Dengan demikian kesultanan Ternate bersama Kesultanan lainnya dalam lingkungan Moloku Kieraha telah memainkan peranan penting dengan bertambahnya penduduk agama Islam. Wilayah pusat Kesultanan dan wilayah pinggiran kesultanan, warganya adalah menganut agama Islam. Oleh karena itu sampai sekarang daerah Maluku Utara mayoritas penduduknya beragama Islam. Begitu pula daerah Maluku Tengah yang pernah menjadi wilayah Ternate penduduknya beragama Islam. Misalnya negeri-negeri Islam di Saparua, di Haruku dan di Ambon serta Buru adalah eks konfederasi kerajaan-kerajaan Vazal Ternate. Selain Banggai dan Tobungku di Sulawesi Tengah yang pernah menjadi daerah kekuasaan Ternate, Bolaang Mongondow dan Gorontalo di Sulawesi Utara mendapat pengaruh pengislamannya dari Ternate. Sultan Babullah bahkan pernah mengirim sejumlah guru agama untuk mengajar di kesultanan Mangindanau di Philipina Selatan. (Hamka, [2005], Sejarah Umat Islam, Singapura: Pustaka Nasional Pte Ltd., h. 807-808).
Kekuatan politik dan ekonomi yang dimiliki Ternate menjadi sarana penting dalam penyiaran Islam selanjutnya di samping saluran perkawinan dan pendidikan Dakwah Islam mencapai puncaknya ketika motivasinya didorong oleh unsur politik untuk mengusir penjajah dari Tanah Air dan upaya untuk membendung gerakan misionaris Kristen yang dilakukan bersamaan dengan penjajahan, terutama dilakukan oleh Portugis, Spanyol dan Belanda di daerah Maluku (Ternate). (Bersambung)


