Kekejaman zionis Israel makin menjadi-jadi. Kini yang menjadi sasaran wilayah Lebanon. Ini adalah pertempuran baru yang meluas setelah perang Hamas (Palestina) versus Israel di Gaza yang meletus sejak Oktober 2023 lalu. Kini Israel menyerang milisi Hizbullah yang bermarkas di Lebanon.
Milisi Hizbullah turut berperang melawan Israel sebagai tanda kesetiakawanan atau solidaritas terhadap Hamas Palestina yang berperang dengan penjajah Israel. Hizbullah menyerang Israel dengan roket di daerah perbatasan. Hizbullah menyatakan, akan berhenti menyerang Israel jika negara zionis ini telah menyetop serangannya ke Gaza.
Perseteruan Israel-Hizbullah tampaknya makin kental setelah Israel membunuh Fuad Shukr, komandan militer senior Hizbullah di Libanon 30 Juli 2024 lalu. Sejak kematian Shukr, serangan Hizbullah makin rutin ke Israel hingga membuat negara Yahudi ini merasa terusik, dan memutuskan untuk menyerang milisi ini di perbatasan utara negaranya.
Tampaknya Israel telah membuka front baru pertempuran dengan Hizbullah. “ Kami mengalihkan pasukan, sumber daya dan energi ke utara,” kata Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant, 18 September kemarin.
Pernyataan Gallant ini tidak lama setelah munculnya insiden ledakan pager dan walkie-talkie di Lebanon. Seperti diketahui ledakan alat komunikasi ini terjadi pada Selasa dan Rabu (17 dan 18 September 2024) yang menewaskan setidaknya 37 orang dan melukai sebanyak 3000 warga. Pager dan walkie-talkie meledak ketika penggunanya sedang melakukan aktivitas berbelanya, berjalan-jalan, menghadiri acara, di supermarket dan aktifitas lainnya yang menimbulkan kepanikan.
Serangan dengan cara “teroris” yang dilakukan Israel ini dianggap oleh PBB sebagai kejahatan perang dan melanggar hukum internasional.
“ Hukum internasional melarang penggunaan perangkat jebakan yang berupa benda portable yang tampak tidak berbahaya,” kata Volker Turk,Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia. Ia menambahkan, itu merupakan kejahatan perang pada saat kekerasan dilakukan dengan tujuan menyebarkan teror di antara warga sipil. “PBB harus melakukan investigasi yang independen, teliti dan transparan,” tegasnya.
Menurut sumber Lebanon, pager yang dipasok dari Taiwan yang dipesan Hizbullah sebanyak 5000 unit beberapa bulan lalu telah dimasukkan bahan peledak oleh agen Israel, Mossad.
Pasca peledakan pager, hanya selang dua hari, pada Jum’at (20 September 2024) zionis Israel melakukan serangan udara ke Lebanon. Serangan mematikan ini menewaskan sedikitnya 45 orang, termasuk perempuan dan anak-anak, dan melukai puluhan orang di pinggiran kota Beirut. Menurut Hizbullah, sebanyak 16 orang anggotanya tewas, termasuk dua orang petingginya, Ibrahim Aqil pemimpin senior dan komandan tertinggi Ahmed Wahbi, menjadi syahid.
Tidak cukup sampai disitu, pada 23 dan 24 September, zionis Israel kembali melakukan serangan udara besar-besaran membombardir Lebanon. Akibatnya sebanyak 558 orang menemui ajalnya, termasuk 50 orang anak-anak, dan 1.835 orang mengalami luka-luka. Dan, terdapat juga empat orang para medis tewas terkena serangan Israel yang menimpa ambulan dan klinik.
Serangan Israel menyasar puluhan kota dan desa. Terdapat sekitar 10 distrik yang menjadi sasaran serangan udara Israel. “ Mengerikan sekali, rudal-rudal terbang di atas kepala kami. Kami terbangun karena suara bom, kami tidak mengangka hal ini terjadi,” keluh seorang perempuan, cemas.
Serangan Israel terhadap Libanon telah menyebabkan 27.000 warga Lebanon Selatan dan wilayah Bakaa mengungsi ke sejumah tempat penampungan. Kota-kota selatan dan pinggiran Beirut yang rusak akibat bombardir Israel memaksa puluhan ribu warga mencari daerah yang aman untuk bermukim. Sebanyak 252 sekolah pemerintah berubah menjadi tempat penampungan pengungsi.
Perkembangan ketegangan Hizbullah-Israel menimbulkan kekhawatiran Sekjen PBB , Antonio Gutteres. Ia tidak ingin Lebanon menjadi “ Gaza yang baru”, nasibnya sama dengan Gaza.
Perang Hamas-Israel di Gaza telah menewaskan lebih 41 ribu jiwa dan hancurnya kawasan tersebut. Kini ketegangan di Lebanon antara Hizbullah-Israel jika tidak bisa diatasi akan menjadi kuburan manusia dan kehancuran negara itu lagi. Semua ini ternyata tidak bisa dan sulit diatasi. Diplomasi tidak lagi berjalan. Kekuatan militer dan ambisi politik menjadi faktor sulitnya masalah ini diselesaikian. Apalagi dengan sikap Israel yang tidak pernah mematuhi perintah badan dunia PBB dan seruan dunia untuk menghentikan kekejamannya. Dunia seolah hanya bisa menyaksikan peristiwa kekejaman dan tidak ada yang mampu menghentikan.