“Labbaik. Kupenuhi panggilan-Mu Ya Allah. Tak ada sekutu bagi-Mu.” Kalimat ini diucapkan serempak oleh jemaah haji begitu tiba di Haramain.
Ibadah haji substansinya sama dari masa ke masa. Rangkaian kegiatannya secara massal dilaksanakan di Mekkah, Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Puncak ibadah haji adalah wukuf di Arafah tanggal 9 Dzulhijjah. Dalam Tahun Kalender Hijriyah, Dzulhijjah merupakan bulan ke-12. Dengan demikian, umat Islam sedunia yang diwakili oleh para jemaah haji menghadapi pergantian tahun dengan prosesi ibadah haji. Peristiwa ini memberi isyarat agar kita umat Islam memiliki kesadaran waktu, melakukan muhasabah dan menyambut pergantian tahun dengan spirit perubahan menuju keadaan yang lebih baik. Pelopor perubahan adalah para haji yang baru kembali dari tanah suci dengan visi meraih haji mabrur. Perubahan menjadi pribadi yang lebih baik pascahaji diharapkan mendorong perubahan umat yang lebih baik dengan panduan nilai-nilai tauhid dan kemanusiaan.
Setiap jemaah haji menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, bangunan Ka’bah atau Baitullah yang merupakan magnet kota suci Mekkah Al-Mukarramah. Ka’bah adalah kiblat seluruh umat Islam ketika melaksanakan shalat. Juga secara simbolik melambangkan kesatuan tujuan hidup umat Islam.
Umat Islam dari berbagai suku bangsa, warna kulit, kewarganegaraan dan lapisan sosial datang ke Haramain untuk beribadah haji dengan sepenuh hati dan imannya, bukan hanya dengan panca-indra semata. Perjalanan haji berbeda dari perjalanan wisata. Haji adalah perjalanan ibadah yang menghadirkan pengalaman spiritual luar biasa seumur hidup. Saudara-saudara kita itu bersedia mengeluarkan biaya berapa saja dengan satu niat yaitu haji untuk ibadah.
Keberkahan dan kemakmuran negeri Mekkah dijamin Allah sampai akhir zaman. Ekonomi Arab Saudi ditopang dengan “ekonomi haji” secara berkelanjutan dan petrodollar dalam hal ini minyak bumi yang menyumbang 90% dari ekspor Arab Saudi.
Sebagai negara dan entitas bangsa, Arab Saudi terus membangun.
Dibandingkan pengalaman haji nenek moyang kita puluhan dan ratusan tahun lampau dengan kondisi sekarang, sudah banyak perubahan di sana-sini. Ka’bah, Maqam Ibrahim dan Hijir Ismail takkan pernah bergeser. Tetapi Masjidil Haram dan kawasan sekitarnya semakin luas dan megah untuk menampung jutaan jemaah haji setiap tahun. Tidak tampak lagi deretan bukit-bukit batu yang mendominasi pemandangan sekeliling Al-Haram seperti terlihat pada foto-foto tempo dulu.
Pembangunan dua kota suci Mekkah dan Madinah, termasuk pengembangan fasilitas baru untuk melayani jemaah haji di Arafah, Muzdalifah dan Mina, sejak tiga dekade terakhir, cukup revolusioner.
Bukit-bukit yang kokoh telah ditembus dengan terowongan untuk memperdekat jarak lalu lintas. Sejak beberapa dekade terakhir, bangunan mewah pencakar langit bertaburan di berbagai sudut kota Mekkah dan Madinah, termasuk di sekeliling Masjid Nabawi. Pemondokan jemaah haji telah semakin memenuhi standar kelayakan untuk kenyamanan jemaah haji.
Mekkah dan Madinah telah menjadi kota modern dengan atmosfir spiritualnya yang tetap terjaga dalam menyambut kedatangan jemaah haji setiap bulan haji.
Negara Arab Saudi bertransformasi menjadi negara modern dalam melayani para tamu Allah (dhuyufur rahman).
Jamarat yakni tempat melontar jumrah dibangun bertingkat guna menghindari risiko bertumpuknya jemaah haji.
Pemerintah Kerajaan Arab Saudi di bawah kepemimpinan Yang Mulia Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud dan Putra Mahkota Pangeran Mohammad bin Salman selaku Khadimul Haramain (Pelayan Dua Tempat Suci) melalui Kementerian Haji dan Umrah sangat menyadari jumlah jemaah haji yang besar dari seluruh dunia. Panggilan niat dan kemampuan umat Islam untuk berangkat haji dari tahun ke tahun semakin meningkat, sementara lokasi di Arafah, Muzdalifah dan Mina tidak bertambah. Oleh karena itu Arab Saudi menerapkan pengaturan, termasuk urusan visa haji tanpa toleransi dan pengembangan fasilitas manasik haji secara inovatif.
Sistem e-hajj diciptakan dalam rangka adaptasi dengan kemajuan teknologi informasi. Inovasi layanan haji tak akan berhenti pada satu titik tertentu saja. Otoritas Perawatan Masjid Nabawi menerapkan mekanisme baru terhadap para jemaah haji yang ingin memasuki area Raudhah Al Sharifa di Masjid Nabawi Madinah. Setiap jemaah haji yang mau masuk ke area Raudhah harus terlebih dahulu terdaftar dan terjadwal melalui aplikasi Nusuk yang berlaku satu kali dalam setahun
Jemaah haji lanjut usia (lansia) semakin bertambah sebagai fenomena demografi dan daftar tunggu calon jemaah haji yang panjang di beberapa negara tertentu. Pemerintah Arab Saudi membuat sarana dan fasilitas pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan para jemaah haji. Mulai 2024 dioperasikan mobil golf untuk tawaf mengelilingi Ka’bah yang ditujukan untuk lansia dan jemaah disabilitas atau yang memiliki kendala fisik. Mobil golf beroperasi di rooftop Masjidil Haram.
Dalam kaitan itu jangan dilupakan, filosofi utamanya ialah “manusia melayani manusia.” Pelayanan, pembinaan dan perlindungan jemaah haji semenjak dari tanah air, selama berada di tanah suci dan saat kembali ke daerah masing-masing. Motto “Haji Ramah Lansia” yang di-endorse oleh Kementerian Agama sejak tahun lalu bisa menjadi inspirasi bagi negara-negara muslim lainnya. Indonesia adalah negara dengan jumlah jemaah haji terbesar. Kuota jemaah Indonesia tahun 2024 ini adalah yang terbanyak sepanjang sejarah penyelenggaraan ibadah haji dengan totalnya mencapai 241.000 orang.
Perlu digarisbawahi, nilai sakral ibadah haji dan keagungan panggilan Nabi Ibrahim sama sekali tidak berubah pasca transformasi Arab Saudi dengan pembangunan berskala besar pada abad 21 ini. Transformasi Arab Saudi dalam konteks pengaturan ibadah haji dan pelayanan justru membuktikan bahwa Islam tidak menolak modernisasi, transformasi dan reformasi dalam kehidupan umatnya. Islam adalah agama yang membawa semangat kemajuan dan keadaban.
Transformasi Arab Saudi dalam pelayanan haji tak dapat dipisahkan dari Visi 2030 Arab Saudi sebagai peta jalan Arab Saudi menuju masa depan.
Visi 2030 yang diluncurkan pada tahun 2017 meliputi 13 target yang ingin dicapai ialah: (1) Riyadh akan menjadi salah satu dari 10 kota ekonomi terbesar di dunia, (2) Asir akan menjadi tujuan wisata global, (3) Al-Ula akan menjadi museum arkeologi terbesar di dunia, (4) Jeddah akan menjadi salah satu dari 100 kota teratas di dunia, (5) Makkah Al-Mukarramah akan menjadi kota pintar pertama di dunia Islam, (6) The Line sebagai kota netral karbon pertama di dunia, (7) Liga Saudi akan menjadi salah satu dari 10 liga terkuat di dunia, (8)
Trojena akan menjadi tujuan gunung bersalju global, (9) Gerbang Diriyah yang bersejarah akan menjadi destinasi wisata dunia, (10) Amala akan menjadi kota rumah sakit terbesar di dunia, (11)
Kepulauan Laut Merah akan menjadi proyek pulau wisata terbesar di dunia, (12) NEOM adalah proyek terbesar dalam sejarah manusia, dan (13) Arab Saudi akan menjadi tujuan dunia.
Masyarakat dunia membayangkan ke depan akan terjadi gelombang perubahan dan evolusi dahsyat yang lahir dari kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Tapi semua itu takkan merubah rukun haji dan syarat haji. Ibadah haji harus dilakukan secara fisik di tempat yang ditentukan sesuai sunnah Nabi. Ibadah haji sepenuhnya mempedomani pola dan tata cara yang diajarkan dan dipraktikkan oleh Nabi Muhammad Saw tanpa perubahan atau revisi.
Para jemaah haji tidak perlu ragu, nilai ibadah haji yang begitu agung takkan tenggelam dengan terjadinya perubahan wajah kota Mekkah dan transformasi lingkungan fisik tempat dilaksanakannya ibadah haji. Penghayatan spiritualitas haji yang merupakan rukun Islam terakhir dan mahkota ibadah harus senantiasa terukirdi hati setiap muslim yang dipanggil dan dimampukan untuk haji dan umrah. Yang terpenting ialah luruskan niat haji karena Allah serta mematuhi protokol perjalanan yang dikeluarkan oleh otoritas negara setempat dalam hal ini Arab Saudi dan negara asal jemaah haji. Wallahu a’lam bisshawab.
