Setiap pergerakan nilai tukar rupiah melemah dan dolar menguat adalah sinyal kabar buruk bagi ekonomi Indonesia. Kita pernah mengalami hal itu sekitar tahun l998 sehingga akan selalu ada trauma bila muncul berita rupiah melemah terhadap dolar.
Pada sesi pertukaran dolar-rupiah pada 15 Mei 2026 rupiah sempat menembus level Rp 17.600 per 1 US$. Kekhawatiran pun muncul berita ini berdampak pada naiknya harga barang-barang dan melemahnya daya beli masyarakat.
Namun, di tengah berita tersebut muncullah pidato presiden yang seakan menepis kekhawatiran tersebut. Dalam pidatonya pada peresmian Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (6/5/2026) Presiden Prabowo Subianto melihat kondisi ekonomi Indonesia masih aman, baik pangan maupun energi. Indonesia masih dalam keadaan stabil.
Presiden mengaku heran dengan adanya pernyataan yang menyebutkan Indonesia bakal menghadapi krisis dengan nilai tukar rupiah yang terus merosot. “Sekarang ada yang sebentar-sebentar Indonesia akan collaps, akan chaos, rupiah begini, dolar begini, mau dolar berapa ribu borang rakyat di desa enggak pakai dolar kok. Pangan aman, energi aman. Banyak negara panik Indonesia masih oke,” ujar Prabowo. Dengan nada bergurau dia mengatakan, selama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa masih bisa tersenyum ,semua pihak bisa tenang, tidak usah khawatir. Dan yang pusing itu mereka yang suka ke luar negeri.
Pidato Presiden yang sempat viral tersebut diartikan sebagai optimisme keadaan ekonomi Indonesia, meski ada juga yang melihat pelemahan rupiah jangan dianggap masalah sederhana.
Para ekonom dan pengamat umumnya memang melihat pelemahan rupiah tidak bisa dihindari dampaknya terhadap kehidupan ekonomi masyarakat. Menurut Ruli Alqodri Mustafa, pelemahan rupiah memiliki dampak langsung terhadap masyarakat, kenaikan biaya impor dapat memicu inflasi, terutama pada sektor energy, pangan, obat-obatan, teknologi dan bahan baku industri.
“Dunia usaha menghadapi kenaikan biaya produksi, sementara perusahaan dan pemerintah yang memiliki kewajiban utang dalam dolar AS menghadapi peningkatan beban pembayaran. Pada saat yang sama daya beli masyarakat melemah dan kepercayaan konsumen cenderung menurun,” papar Ruli Alqodri Mustafa dari The Twins Prime Economics Studies Cilegon Banten.
Ruli melihat, dalam jangka pendek rupiah masih berpotensi berada dalam tekanan apabila suku bunga AS tetap tinggi, konflik geopolitik global meningkat, serta arus modal asing terus keluar. Namun dalam jangka menengah, rupiah masih memiliki peluang untuk kembali stabil apabila pemerintah dan otoritas ekonomi mampu memulihkan kepercayaan pasar melalui reformasi yang konsisten dan kredibel.
“Karena itu, Bank Indonesia perlu menjaga kredibilitas kebijakan moneter melalui stabilisasi nilai tukar, penguatan instrumen pasar keuangan, serta menjaga daya tarik aset rupiah secara hati-hati. Kementerian Keuangan juga perlu menjaga disiplin fiskal, memperkuat penerimaan negara, serta mengurangi ketergantungan terhadap impor dan pembiayaan asing. Di sisi lain, pemerintah harus memperkuat kepastian hukum, menjaga stabilitas politik, mempercepat industrialisasi nasional, serta memperluas penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional,” papar Ruli, yang alumni FEB UI itu.
Menyinggung sikap masyarakat menghadapi pelemahan rupiah menurut Ruli, masyarakat perlu bersikap tenang, rasional dan tidak panik. Fluktuasi nilai tukar merupakan bagian dari dinamika ekonomi global yang harus dihadapi dengan kesiapan dan kedewasaan. “Masyarakat perlu lebih bijak mengelola keuangan, mengurangi konsumsi yang tidak produktif, memperkuat dana darurat, serta menghindari utang konsumtif,” katanya,
Sementara itu, menurut Mohammad Nur Rianto Al Arif, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, di pedesaan pelemahan rupiah bukan hanya urusan kurs dan pasar keuangan. Pelemahan rupiah berdampak pada harga pupuk yang naik ,biaya solar yang membengkak, harga pakan ternak yang makin mahal, hingga daya beli masyarakat desa yang perlahan terkikis. “Ketika rupiah melemah terhadap dolar AS , ekonomi pedesaan sebenarnya sedang menghadapi tekanan yang tidak kecil”, ujar Mohammad Nur Rianto Al Arif dikutip dari artikelnya di uinjkt.ac.id.
Menurut Mohammad Nur, desa adalah fondasi ekonomi Indonesia. Sebagian besar produksi pangan nasional berasal dari wilayah pedesaan. Ketika desa terguncang, stabilitas ekonomi nasional sesungguhnya ikut terancam. “ Ironisnya ,narasi mengenai pelemahan rupiah sering kali terlalu berpusat pada pasar keuangan, investor asing, dan cadangan devisa.
“Diskusi mengenai dampaknya terhadap ekonomi rakyat di desa justru relatif minim. Padahal, masyarakat pedesaan adalah kelompok yang paling sedikit memiliki bantalan ekonomi untuk menghadapi kenaikan harga,” ujarnya.
Mohammad Nur menjelaskan, pelemahan rupiah memiliki efek berantai. Ketika dolar menguat, biaya impor naik . Indonesia masih bergantung pada berbagai bahan baku impor, termasuk pupuk, pestisida, gandum, kedelai, hingga pakan ternak . Akibatnya , biaya produksi di sektor pertanian dan peternakan ikut meningkat. “Petani adalah kelompok pertama yang merasakan dampaknya. Harga pupuk nonsubsidi melonjak karena sebagian bahan bakunya berasal dari impor. Harga pestisida pun ikut naik. Begitu pula suku cadang alat pertanian yang banyak menggunakan komponen luar negeri,” papar Mohammad Nur.
Mohammad Nur menambahkan, fenomena ini menciptakan paradoks. Desa menjadi produsen pangan, tetapi kesejahteraan petaninya justru tertinggal. Ketika rupiah melemah, beban produksi naik, tetapi nilai tukar petani tidak otomatis membaik.
Di sisi lain, pelemahan rupiah juga memicu tekanan inflasi, terutama pada barang-barang konsumsi yang memiliki kandungan impor tinggi. “ Masyarakat desa yang pendapatannya relatif terbatas menjadi kelompok yang paling sensitif terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok,” tegas Mohammad Nur.
Pada sisi lain penjelasan dari Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, terungkap bahwa pelemahan rupiah memang ada dampak buruknya, tapi efek positifnya juga banyak. “Inilah yang dimaksud Presiden. Memang ada dampaknya, tapi dampak positifnya juga ada dan tinggi. Misalnya bawang putih ada pengaruhnya karena impor, tapi beberapa komoditas kita juga melakukan ekspor,” ujar Amran Sulaiman pada media briefing, di Jakarta, Selasa 19 Mei 2026 . Amran menyebutkan, penguatan dolar AS justru membawa keuntungan di sektor pertanian karena bisa meningkatkan nilai ekspor. Komoditas pertanian dan perkebunan mendapat berkah dari pelemahan nilai mata uang ini.
Baik dan buruknya dari efek pelemahan rupiah yang paling merasakan tentu masyarakat bawah, terutama kalau harga kebutuhan pokok pada naik dan langka. Dan inilah yang terjadi sekarang, masyarakat mulai mengeluhkan barang=barang kebutuhan pokok mulai naik sekarang.

