Bintang Zaman

Al-Kindi. Filoosof Muslim Pertama

Dikenal sebagai Filosof dari Arab Al-Kindi hidup di masa pemerintahan Al-Ma’mun, Al- Mu’tasim, dan Al-Mutawakkil dari Dinasti Abbasiyah. Dua khalifah pertama memberi fasilitas kegiatan studinya, sedang yang terakhir justru mei lyita perpustakaannya. Bagaimana pandangannya tentang agama dan filsafat? Berikut tulisan Mulyadi Kartanegara tentang pengarang prolifik dan ensiklopedik itu.

Al- Kindi, atau nama lengkapnya Abu Yusuf Ya’qub, lahir di Kufah, menjelang akhir abad VIII Masehi, dari keluarga berada dan terpelajar. Ayahnya, Ishaq ibn Sabbah, diangkat sebagai gubernur Kufah oleh Khalifah Abbasiyah Al Mahdi (775-785M) dan Harun Ar-Rasyid (785-807). Sekalipun sibuk dengan kegiatan-kegiatan politiknya, Gubernur Ishaq memberi perhatian yang lekat terhadap pendidikan putra kesayangannya itu. Dan dengan kekayaan yang dimilikinya ia memberikan fasilitas dan sekolah yang terbaik bagi anaknya. Sebagai tanda terima kasih kepada keluarganya, Al-Kindi membalasnya dengan ketekunan dalam belajar.

Al-Kindi  senang sekali belajar, dan bertekad untuk mengejar pendidikannya setinggi mungkin. Karena itu, segera setelah ia lulus dari sekolah dasar, ia meminta ayahnya untuk memindahkannya ke Basrah, sebuah pusat kegiatan intelektual, untuk meneruskan se-kolahnya. Di sana ia mempelajari ilmu-ilmu keagamaan, matematika, dan filsafat. Ia menjadi begitu tertarik dengan filsafat terutama ketika ia pergi ke Baghdad, pusat termaju dari kebudayaan dan ilmu pengetahuan.

Sebagai ibu kota Kekaisaran Abbasiyah, Baghdad barangkali merupakan kota yang termegah di seluruh dunia pada saat itu. Kota tersebut terkenal dengan istana-istananya yang agung, taman-tamannya yang indah, pemandian umum, tempat-tempat hiburan, dan pasar-pasar yang sarat dengan aneka barang. Sebagai pusat pemerintahan, Baghdad dihubungkan dengan kota-kota provinsi oleh jaringan jalan-jalan besar, sistem perposan, dan buku-buku petunjuk bagi berbagai provinsi.

Suasana Intelektual

 Sebagai pusat pengkajian ilmu, Baghdad juga sibuk dengan kegiatan ilmiah yang didukung sepenuh hati oleh para pemimpin yang sedang memerintah. Salah satu kegiatan ilmiah itu adalah penerjemahan berbagai karya asing ke dalam bahasa Arab. Untuk menampung kegiatan-kegiatan tersebut, Khalifah Ma’mun mendirikan sebuah pusat pengkajian dan penerjemahan, yang disebut Balai Kearifan (Baitul Hikmah).

Ketika Al-Kindi sampai di Baghdad, lembaga ini telah berdiri dan proses penerjemahan telah berlangsung. Al-Kindi sangat senang dengan suasana intelektual di sana dan ikut terlibat aktif dalm proyek penerjemahan orang lain, seperti tentang teologi Aristoteles. Untuk mengalihbahasakan istilah-istilah filosofis dan ilmiah tertentu yang ia temukan dalam karya-karya asing, ia menciptakan beberapa kata baru dalam bahasa Arab, seperti jirm untuk tubuh, thinah untuk materi, dan at-tawahhum  untuk imajinasi.

Segera ia dikenal sebagai seorang sarjana terkemuka di Ibu Kota Kerajaan. Dengan alasan ini, di samping yang lainnya, Al-Ma’mun (813-833) memintanya untuk bergabung dalam lingkaran para sarjana yang sedang sibuk mengumpulkan karya-karya ke dalam bahasa Arab. Al-Kindi memperoleh perlindungan dan dukungan (patronage) yang dermawan dari Al-Ma’mun dan saudaranya, Al- Mu’tashim (833-842). Selama masa perlindungan ini Al-Kindi bekerja dengan giat dan memberikan sumbangan besar bagi perkembangan ilmu dalam berbagai bentuk. Misalnya, ia menghimpun bermacam-macam karya (buku-buku, manuskrip, dan risalah) dalam pelbagai bidang dalam perpustakaannya yang luas.

Sebagai penulis Al-Kindi sangat prolifik dan ensiklopedik. Ia menulis sekitar 270 karya dalam hampir semua bidang yang dikenal pada masanya, seperti aritmatika, geometri dan musik, juga astronomi, farmakologi, meteorologi, kimia, kedokteran, astrologi, dan polemika. Ia juga menulis dalam semua cabang ilmu filsafat, seperti logika, fisika, metafisika, psikologi, dan etika.

Dalam menulis karya-karya tersebut, pertama ia mengemukakan sejelas mungkin pandangan-pandangannya sesuai dengan kepentingan-kepentingan baru. Prosedur atau metode penelitian ini didasarkan pada  kepercayaannya akan akumulasi progresif oleh    pengetahuan yang benar yang telah kita capai berkat  usaha-usaha para pemikir sebelumnya. “Kebenaran,”  tulisnya, “mesti dicari dari sumber mana pun ia berasal, karena tidak akan ada yang lebih dicintai oleh para pencari kebenaran daripada kebenaran itu sendiri. Kita harus memeriksa dengan teliti dan kemu-dian menambahkan pernyataan- pernyataan atau penemuan-penemuan para pendahulu kita menurut kaidah-kaidah bahasa dan zaman kita sendiri.”

Dengan teori yang sama, Al-Kindi juga mengkritik teori Yunani tentang pengubahan logam-logam yang tidak berharga ke logam-logam mulia. Banyak ilmuwan pada masa Al-Kindi percaya bahwa hal itu mungkin di-lakukan dan mereka berusaha mengubah logam-logam tertentu seperti tembaga dan besi menjadi perak dan emas. Tetapi Al-Kindi menolak keabsahan teori tersebut. Dalam salah satu karyanya, ia menulis: “Adalah mustahil bagi ahli kimia untuk mengubah logam- logam yang lain menjadi perak atau emas, karena manusia tidak mungkin bisa menirukan dengan sempurna proses alam.” Dengan begitu Al-Kindi telah meningkatkan kimia dari semacam kultus ke ilmu pengetahuan (science). Dalam bidang tersebut, dia menekankan pentingnya riset lapangan dan eksperimen yang harus dilakukan di laboratorium dalam rangka memperbaiki dan mengembangkan teori-teori yang telah ada. Karena itu, ia melakukan eksperimennya sendiri di sebuah laboratorium. Ia mensintesiskan beberapa campuran dan berhasil dalam memproduksi alat-alat perang, kaca, perhiasan, dan minyak wangi. Dalam melakukan hal tersebut, ia menggunakan proses pemurnian kimiawi seperti penyulingan, penguapan, peleburan, dan pengendapan.

Ketika Al-Ma’mun meninggal dunia pada tahun 833, Al-Mu’tashim Billah menggantikannya sebagai khalifah. Seperti Al-Ma’mun, ia juga melindungi Al-Kindi dan membiarkan perpustakaannya tak terjamah. Lebih dari itu, Al-Mu’tashim meminta Al-Kindi menjadi tutor bagi putranya, Ahmad. Al-Kindi mempersembahkan karyanya, Tentang Filsafat Utama (Fil-Falsafatil-Ula’) kepada Al-Mu’tashim.

Fasilitas Dicabut

 Al- Kindl hidup di sebuah rumah, tidak jauh dari istana. Tetangganya yang bernama Abu Ma’syar mengobarkan api kefanatikan orang awam terhadap apa yang ia pandang sebagai bahaya filsafat. Secara rahasia Al-Kindi mengirim seorang teman kepada Abu Ma’syar untuk membuktikan nilai dan keabsahan filsafat. Akhirnya sang teman memenangkan hati Abu Ma’syar. Ia menerangkan kepada Abu Ma’syar bahwa baik filsafat maupun agama mempunyai tujuan yang sama, yaitu pengetahuan tentang keesaan Tuhan dan menuntut keutamaan dengan mendorong manusia mencapai kehidupan moral yang lebih tinggi. Dilaporkan bahwa Abu Ma’syar menjadi yakin akan kebenaran argumen tersebut dan ia menghentikan kegiatan-kegiatan yang bermusuhan terhadap Al-Kindi. Kemudian dia menjadi muridnya tanpa pernah merasa curiga bahwa orang yang memenangkan hatinya terhadap filsafat adalah utusan rahasia dari sang filosof muslim pertama.

Al-Kindi, yang memperkenalkan metode takwil dalam menafsirkan Al-Qur’an, tetap mendapatkan kemurahan hati penguasa ketika Al-Mu’tashim— penguasa tempat ia mengabdikan sebagian besar karyanya—digantikan oleh Al Watsiq (842-847). Tetapi, pada masa pemerintahan Al-Mutawakkil (847-861), yang bereaksi terhadap heterodoksi Al- Ma’mun dan Al Mu’tashim, Al-Kindi mengalami nasib sial. Dikatakan bahwa Banu Musa, ilmuwan bersaudara terkenal yang mengabdi kepada Al-Mutawakkil, melakukan persekongkolan terhadap Al-Kindi sehingga ia kehilangan kemurahan hati Al-Mutawakkil dan dipecat dari pengabdian. Ilmuwan bersaudara ini merasa iri terhadap perpustakaan pribadi Al-Kindi yang luas (disebut Al-Kindiyah) dan mereka berhasil membujuk sang khalifah untuk menyitanya dan memberikannya kepada mereka, seperti yang telah mereka lakukan terhadap perpustakaan Hunain ibn Ishaq. Meskipun Al-Kindiyah kemudian dipulihkan kembali, Al-Kindi tidak pernah berhasil meraih kembali hati dan hak-hak istimewa Istana. Pada tahun 870, sang filosof yang di Eropa terkenal dengan sebutan “filosof dari Arab”ini meninggalkan dunia yang fana ini.

Penulis:  Mulyadi Kartanegara, lahir di Tangerang 11 Juni 1959, pengajar Fakultas Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah dan Universitas Muhammadiyah Jakarta, memperoleh Ph.D-nya dari University of Chicago, Amerika Serikat.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button