Ada dua orang wanita Islam yang mendapat tempat mulia dihadapan Rasul. Yaitu Ummu Sulaim binti Milhan r.a. dan Ummu Haram binti Milhan r.a. Kedua wanita ini kakak beradik. Keduanya sangat dihormati oleh Rasul bukan saja karena keimanan dan ketakwaannya, tetapi rumah mereka juga dicintai oleh Rasul karena pernah didiami ketika membangun Masjid Quba.
Ummu Sulaim dihormati Nabi karena ia menyerahkan putranya Anas bin Malik untuk menjadi pelayan Nabi Muhammad. Anas kemudian terkenal sebagai salah satu perawi hadis terbanyak. Ummu Sulaim termasuk wanita yang ikut berperang mengangkat senjata.
Keluarga Milhan sangat dihormati oleh Rasul karena pengorbanan mereka mempertaruhkan nyawa membela perjuangan Islam dan Nabi. Salah seorang di antaranya, Haram bin Milhan, adalah salah satu syahid dalam peristiwa pembunuhan 70 orang sahabat Nabi dalam peristiwa Bir Ma’unah. Mereka yang diutus untuk menyampaikan surat Rasulullah dan mengajarkan Islam kepada penduduk Najd. Salah satu tugasnya menyampaikan surat kepada pembesar Najd, yakni Amir bin Tufail, namun di tempat Bir Ma’unah mereka disergap dan dibantai semuanya oleh Amir bin Tufail.
Untuk menghibur mereka, pada waktu tertentu Nabi mengunjungi mereka dan tidur serta makan di rumah tersebut. “Aku ingin menjadi pelipur lara bagi penghuninya, yang saudaranya gugur bersamaku,” ujar Nabi.
Bila Nabi berkunjung ke Quba, maka sepanjang perjalanan antara Madinah dan Quba masyarakat berebut menawarkan agar Nabi singgah ke rumah mereka. Bagi mereka bila Rasul mampir adalah suatu keberkahan dan kehormatan yang sangat tinggi nilainya.
Nabi yang menetap beberapa hari di Quba di perkampungan Bani Amir bin Auf dalam rangka menuntaskan pembangunan Masjid At-Taqwa, masjid pertama dalam Islam. Ketika berkunjung ke Quba, Nabi selalu singgah di rumah para sahabatnya sekedar beristirahat, bercengkrama dan mengajari mereka. Disitu warga berlomba-lomba melayani Nabi, menghidangkan berbagai makanan yang disukai Nabi. Dan, salah satu rumah yang akrab dan berkesan bagi Nabi adalah rumah keluarga Milhan yang dihuni Ummu Sulaim dan Ummu Haram.
Yang Membuat Rasul Tertawa
Suatu waktu Nabi tidur di rumah keluarga Milhan. Nabi tidur Qailulah (tidur siang pasca shalat zuhur). Nabi tidur sangat nyenyak dan terlelap dengan pulas. Ketika bangun ia tertawa dengan riang.
Ummu Haram bertanya, “Apa yang membuatmu tertawa,ya Rasullullah. Semoga Allah membahagiakan usiamu.” Nabi menjawab, “Diperlihatkan kepadaku sekelompok orang dari umatku, mereka menaiki perahu mengarungi samudera lautan yang kehijauan, seperti raja-raja yang berada di atas baja perang yang kukuh.”
Lalu Ummu Haram berkata, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah Swt agar menjadikanku bagian dari mereka.”
Setelah berkata begitu, Rasullullah kembali tidur, namun setelah bangun kembali beliau tertawa. Ummu Haram mengira pasti Rasul melihat sesuatu yang lain yang berbeda dari yang pertama. Karena itu ia mengulangi pertanyaan yang sama, “Apa yang membuatmu tertawa wahai Rasulullah, semoga Allah membahagiakan usiamu.”
Nabi menjawab dengan jawaban yang sama, “Diperlihatkan kepadaku sekelompok orang dari umatku, mereka menaiki perahu mengarungi samudera lautan yang kehijauan, seperti raja-raja yang berada di atas baja perang yang kukuh.”
Ummu Haram mengajukan permohonan kembali, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah Swt. agar menjadikanku bagian dari mereka.” Nabi menjawab, “Engkau termasuk di antara mereka.”
Perjalanan waktu Ummu Haram menunggu saat janji Rasulullah tersebut terwujud. Ia sempat bersama suaminya menjalani tugas yang dibebankan kepada suaminya, Ubadah ibn Shamith r.a– seorang sahabat yang mengikuti hampir semua peperangan di masa Rasul.
Di masa Khalifah Umar bin Khattab suami Ummu Haram ini ditugaskan ke Palestina untuk menjadi guru mengajarkan agama Islam dan hakim (qadhi) bila muncul permasalahan dan perselisihan. Amirul Mukminin Umar bin Khattab memilih Ubadah ibn Shamith karena ia tahu kealiman dan kedekatannya dengan Rasulullah Saw.
Ummu Haram tinggal di Palestina bersama suaminya. Kedua orang ini dihormati oleh masyarakat dan keputusan-keputusannya dalam menyelesaikan masalah dinilai tepat dan bijaksana. Sementara, Ummu Haram tetap mendampingi suaminya, dan tetap hidup dalam kesederhanaan, tidak sombong dan angkuh. Ia tampil di masyarakat tetap bersahaja sebagaimana ia hidup ketika di kampungnya di Quba.
Namun, Ummu Haram tidak pernah lupa dengan janji Rasulullah bahwa ia akan ikut mengarungi lautan luas, berjihad di jalan Allah dan menyebarkan panji Islam.
Ketika Amr bin Ash r.a. menyerang pasukan Romawi yang ada di Mesir, ia dibantu oleh tentara Islam yang bermarkas di Palestina. Dalam peoerangan ini Ubadah ibnu Shamith ikut serta memimpin seperempat pasukan dan turut serta pula Ummu Haram mendampingi. Ubadah ibn Shamith adalah seorang prajurit penunggang kuda yang trampil dan mumpuni sehingga ia banyak membantu dan andil mengusir pasukan Romawi dari Mesir.
Kemudian waktu Syam dengan ibukotanya Damaskus dengan gubernurnya Muawiyah bin Abu Sufyan pernah minta izin kepada Khalifah Umar bin Khattab untuk menyerang pangkalan angkatan laut Romawi di Kypros (Ciprus), namun Umar belum memberi izin karena sangat hati-hati berakibat buruk bagi tentara Islam.
Izin menyerang tentara Romawi ini baru keluar di masa pemerintahan Khalifah Usman bin Affan. Dan, di masa khalifah ini pula mulai dibangun angkatan laut tentara Islam. Seorang yang dianggap mumpuni membuat kapal-kapal angkatan laut itu adalah Abdullah bin Qais.
Dalam penyerangan pangkalan laut Romawi di Kypros itulah Ummu Haram dan suaminya Ubadah ibnu Shamith ikut serta. Ia ikut berbaris dan antri memasuki perahu, sambil mengumandangkan takbir dan tahlil.
Ummu Haram r.a. terlihat berdiri di tepian perahu, sementara air mata mengalir di kedua pipinya. Terbayang dalam pikirannya, perkataan Rasul. Dalam hatinya berbisik “Engkau benar, wahai Rasulullah. Engkau benar, wahai Rasulullah.”
Penyerangan pun dimulai. Tali-tali tambat kapal pun dilepas. Perahu dan kapal-kapal bergerak membelah lautan yang luas. Dengan menyebut asma Allah Yang Menggerakannya dan Menambatkannya bagai raja-raja yang berada di atas singgasana yang bergoyang-goyang.
Seperti itulah Rasulullah Saw. mengumpamakan orang-orang yang menaiki punggung perahu-perahu yang membawa mereka nenyeberang lautan, naik dan turun terguncang-guncang, seakan mereka raja-raja yang berada di atas singgasana yang bergoyang. Ummu Haram sangat merasakan begitu indah. Dia terangkat ke atas seakan-akan dia melihat ke lembah bukit kecil, kemudian terbawa turun, dia melihat gelombang naik di atasnya seakan-akan gumpalan awan. Semua itu terjadi dalam hitungan detik dan saling menyusul, sehingga terucap kembali dari bibirnya, “Engkau benar, wahai Rasulullah. Engkau benar, wahai Rasulullah.” ( Muhammad Ali Qutub, Mizania, Bandung, 2010).
Peperangan pun terjadi. Tentara Islam mendarat di Kypros dengan mengalahkan pasukan Romawi, dan bersiap menyerang jantung kota. Namun, disinilah akhir perjalanan Ummu Haram yang diramalkan dalam mimpi Rasulullah.
Ketika Ummu Haram diberi tunggangan kuda untuk dinaiki, kuda itu terkejut. Kakinya gemetar sehingga bergoncang. Dan, Ummu Haram terlempar jatuh, dan dalam hitungan detik ia menghembuskan nafasnya terakhir. Menemui Allah Sang Pencipta dengan senyum bahagia.
Ummu Haram memulai hidup dengan Islam. Berawal dari syahadat dan berakhir dengan syuhada. Ia dikuburkan di Kypros yang disampingnya dibangun masjid. Menjadi saksi hidup orang-orang yang memperoleh keberuntungan dan kemenangan. Allahu a’lam bish-shawab.
