Salah satu catatan menarik dalam kehidupan manusia adalah bahwa manusia sangat antusias dan bersemangat mencari harta. Namun, di sisi lain manusia tidak begitu keras dan gigih dalam beribadah kepada Allah. Padahal, kalau dilihat hakekat kehidupan dunia bersifat sementara. Demikian juga manusia dalam hidup memiliki keterbatasan usia dan tidak terlalu panjang umurnya.
Pada sisi lain Allah sebagai Pemilik dan Penguasa kehidupan ini telah menjamin hidup manusia dengan rezeki dan banyak fasilitas sumber daya kehidupan untuk keberlangsungan hidup manusia, semua disediakan. Karenanya, boleh dikatakan manusia tidak perlu khawatir kekurangan pangan dan makanan. Allah menjamin semua makhluknya yang hidup di bumi ini.
Teks Al-Qur’an dengan tegas menyatakan rezeki dijamin Allah. Dalam surat Hud ayat 6 Allah berfirman, ” Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semua dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz)”.
Kemudian dalam surat al-Zariyat ayat 58 firman Allah dalam makna yang sama, menyatakan,” Sungguh Allah, Dialah pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kukuh”.
Disamping Allah menjamin rezeki untuk kehidupan manusia, Allah juga memanggil manusia untuk beribadah kepada-Nya. Dalam surat al-Baqarah ayat 21 Allah berfirman,” Wahai manusia ! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa” .
Kemudian dalam surat an-Naml ayat 36 Allah juga berfirman. ” Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat untuk menyerukan,” sembahlah Allah, dan jauhilah Tagut”.
Dalam surat Yasin ayat 61 Allah mengatakan,” Sembahlah Aku , inilah jalan yang lurus”.
Perintah yang sama difirmankan Allah dalam surat Thaha ayat 132 ,” Dan perintahkanlah keluargamu melakukan shalat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa”.
Ayat yang kita kutip di atas yang menyatakan Allah menjamin rezeki bagi manusia, dan ayat kedua yang menghimbau manusia untuk beribadah kepada Allah menarik kalau diproyeksikan pada kehidupan nyata manusia saat ini.
Potret yang nampak adalah bahwa manusia begitu sangat terpacu mencari harta dan kekayaan. Obsesi manusia adalah mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Bekerja dengan segala daya dan upaya dikerahkan. Dengan cara yang halal, tentu tidak masalah, namun cara-cara yang illegal dan haram tidak urung pula dilakukan untuk menghimpun materi dan kemewahan.
Manusia moderen mengejar materi karena nafsu melihat harta dan kekayaan merupakan segala-galanya. Sebagai prestise sosial dan dianggap orang sukses. Kepemilikan harta tidak cukup sekedar lebih dari kebutuhan, tetapi melebihi dengan jumlah mencapai puluhan, ratusan miliar bahkan triliunan.
Sekarang ini kita dengan mudah melihat harta kekayaan seseorang, terutama setelah menjadi pejabat karena kekayaannya harus dilaporkan dan publik bisa mengetahui. Coba perhatikan laporan harta kekayaan pejabat (LHKP) ada yang mencapai ratusan miliar dan bahkan triliunan. Kekayaan tersebut selain dalam bentuk rupiah maupun mata uang asing, juga kekayaan berupa tanah, rumah, kendaraan mewah, surat berharga, tabungan dan bentuk lainnya. Kekayaan mereka mungkin bisa untuk hidup banyak turunan tidak bakal habis.
Kekayaan yang dimiliki manusia dalam jumlah besar tersebut menunjukkan bahwa manusia mengejar harta kekayaan sebagai tujuan hidup utama. Dan, melupakan sisi lain yang penting diisi dalam kehidupan.
Rezeki manusia yang sudah dijamin oleh Allah diburu oleh manusia siang dan malam, tanpa mengenal waktu. Seolah-olah hidup ini hanya diabdikan untuk harta dan kekayaan. Harta didewakan bagaikan tuhan. Dalam masyarakat moderen harta disembah sebagai berhala. Seperti kata pakar hukum tata negara Prof Dr. Jimly Ashiddiqie sekarang ini akal sehat telah dikalahkan oleh akal bulus dan akal fulus. ” Akal fulus untuk kekayaan, dan akal bulus untuk jabatan”,kata Ketua Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi ini.
Lalu bagaimanakah sikap manusia dengan himbauan Allah untuk beribadah kepada-Nya?
Manusia beribadah kepada Allah agar memperoleh kehidupan yang baik, kekal dan abadi di akhirat. Kesenangan di dunia hanya bersifat sementara. Di dunia tidak ada kebahagiaan yang hakiki. Sedangkan kebahagiaan di akhirat adalah kebahagiaan yang tiada duanya disediakan oleh Allah. Dan, untuk memperoleh kebahagiaan yang sesungguhnya tersebut hanya bisa diperoleh melalui kesungguhan beribadah kepada Allah dan berbuat amal shaleh.
Namun, di sinilah manusia terlupa dan tidak mengindahkan kebahagiaan hidup yang sesungguhnya di akhirat. Manusia tertutup mata dan batinnya hanya melihat kebahagiaan dunia yang bersifat fatamorgana. Hanya bayang-bayang kebahagiaan yang palsu dan menipu.
Kalau dalam mencari rezeki yang sudah dijamin oleh Allah manusia berjibaku tidak kenal lelah dan tidak kenal waktu menguras tenaga dan segala kemampuan, tidak demikian halnya manusia dalam beribadah kepada Allah. Manusia lalai dan santai seperti tidak ada motivasi kuat untuk melaksanakannya, bahkan ada yang lupa sama sekali tidak mengerjakan ibadah baik yang fardhu maupun yang sunat.
Pernahkah kita melihat di masjid jamaah berebut dan berdesakan untuk saling mendahului dapat shalat shaf paling depan. Padahal, shalat di dekat imam dan shaf terdepan merupakan keutamaan. Atau, pernahkah kita melihat ketika terjadi bencana alam manusia saling berebut untuk berinfaq dan bersedaqah membantu para korban bencana.
Para pejabat baik eksekutif, legislatif, eksekutif dan pengusaha, yang umumnya memiliki kekayaan yang lebih, pernahkah kita mendengar mereka bersedia dipotong gajinya untuk membantu masyarakat yang korban kebakaran, musibah banjir, gempa, kebakaran dan lainnya. Padahal ini adalah panggilan amal shaleh yang termasuk bagian sari ibadah yang diminta oleh Allah. Rasanya, hal ini jarang atau tidak pernah terjadi.
Demikianlah kontras yang kita temukan antara obsesi manusia mencari dan menumpuk kekayaan harta yang tidak pernah luntur dan padam, berbanding terbalik dengan kurangnya gairah dan motivasi untuk memperbanyak ibadah yang diseru dan dipanggil oleh Allah. Manusia memburu harta yang disediakan Allah, tapi melupakan panggilan ibadah yang diminta oleh Allah.
Kemauan beribadah seperti larut dalam godaan kemerlapan kehidupan duniawi. Manusia yang hidup semata mengejar harta sebenarnya hidup dalam kekosongan dan kehampaan jiwa atau rohaniah. Ia hanya memenuhi kebutuhan fisik-jasmaniah, padahal manusia juga adalah makhluk rohaniah. Sebagai makhluk rohaniah manusia harus memiliki Iman kepada Allah sebagai Khaliq. Untuk itulah manusia yang sadar dan memiliki Iman, ia tidak hanya hidup mengejar harta, tetapi juga mengejar ibadah dan amal shaleh sebagai prioritas utama dalam kehidupan dan bekal untuk akhirat.


