Aktualita

Jangan Jadikan Politik Pertempuran Hidup Mati

Pada bulan November ini Muhammadiyah berusia 111 tahun. Sebuah angka istimewa dan bertepatan dengan berbagai peristiwa penting nasional dan internasional. Nasional ada kenduri besar menyambut pemilu legislatif dan pilpres pada Pebruari tahun depan yang kurang dari tiga bulan lagi.

Karena itu Milad Muhammadiyah di tahun ini mengangkat tema Ikhtiar Menyelamatkan Semesta yang digelar di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sabtu, 18 November 2023.

Dalam acara tersebut Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir MSi menyampaikan beberapa pesan khusus menghadapi pemilu dan pilpres 2024.

Guru Besar Sosiologi UMY ini berharap agar seluruh warga, kader, dan pimpinan Muhammadiyah menjadi uswatun hasanah menghadapi tahun politik ini.

Haedar meminta seluruh warga Muhammadiyah mempedomani khittah kepribadian dan ketentuan organisasi organisasi tanpa tafsir dan kepentingan sendiri-sendiri. Bagaimana bersikap cerdas, rasional, dewasa, bermartabat dan bertanggungjawab dalam menghadapi perbedaan politik.

” Buktikan bahwa Muhammadiyah berbeda dari yang lain, yakni berpolitik cerdas adiluhung,” tegasnya.

Diungkapkannya, Muhammadiyah terus berkiprah dalam membangun kebangsaan ke arah yang lebih berkuitas, agar Indonesia tetap berpijak pada konstitusi dan terhindar dari distorsi dan segala penyimpangan yang terjadi.

“Kita berharap Pemilu 2024 berjalan sukses, luber-jurdil (langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil), bermartabat, aman, damai dan tetap terjaga persaudaraan,” ucapnya.

Dia juga berharap agar Pemilu 2024 tetap berada pada koridor konstitusi, serta tidak ada penyimpangan. Para kontestan termasuk capres-cawapres dan seluruh pendukungnya dapat berkontestasi secara sportif, jujur, cerdas, lapang hati,serta memiliki visi kebangsaan sebagaimana telah diletakkan para pendiri bangsa.

“Jangan jadikan ini sebagai pertempuran politik hidup mati yang meretakkan kekuatan persatuan bangsa,” tandasnya.

Pejabat Jadi Wasit yang Adil

Haedar Nashir juga menghimbau para aparat baik TNI, Polri dan semua pihak agar memiliki jiwa patriotisme dan profesional dalam penyelenggaraan pemilu.

“Penyelenggara pemilu dan pihak terkait harus tegak menjadi wasit yang adil, profesional dan bertanggungjawab. Kepada warga bangsa hendaknya menjaga etika,dewasa, saling menghargai, introspeksi diri, menjadi teladan dalam mengikuti kontestasi demokrasi dan kehidupan kebangsaan” harapnya.

Menyinggung peran dan kiprah Muhammadiyah, Haedar Nashir menjelaskan, di usia 111 tahun Muhammadiyah tidak pernah pasif, apatis dan tutup wajah atas masalah bangsa. Sebaliknya, Muhammadiyah selalu membangun Indonesia secara positif dengan sikap cerdas, sejalan dengan kepribadian amar makruf nahi munkar disertai contoh dan teladan yang baik, bahkan adil serta korektif ke dalam dan keluar secara bijaksana.

“Inilah koridor yang mesti menjadi rujukan seluruh anggota, kader dan pimpinan di lingkungan persyarikatan dari pusat sampai ranting dan jamaah,” papar Haedar.

Ditambahkan, Muhammadiyah selain mengapresiasi kemajuan bangsa, juga prihatin atas berbagai permasalahan dalam kehidupan kebangsaan, baik politik, ekonomi dan budaya yang semakin liberal dan oligarki.

“Demokrasi prosedural dan stabilitas politik belum seimbang dengan demokrasi substantif berbasis nilai luhur Pancasila dan konstitusi. Akibatnya timbul politik uang, transaksional, politisasi hukum dan konstitusi, serta hal yang tidak sesuai dengan semangat reformasi,” tururnya.

Haedar Nashir juga mengingatkan, masalah lain yang masih menuntut solusi sistemik di negara ini ialah korupsi yang masih masif, hutang negara yang besar, kesenjangan sosial ekonomi, eksploitasi Sumber Daya Alam (SDA) dan masalah lainnya.

” Muhammadiyah terus berkiprah membangun Indonesia dan mengawal pemilu sesuai porsinya sebagai organisasi dakwah kemasyarakatan, dan bukan sebagai organisasi partisan politik,” pungkasnya.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button