Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah karangan khas berjudul “Suara dari Savanajaya: Kami Hanya Bisa Sumeleh …” di harian Kompas. Saya sendiri tergugah membacanya lantaran ada kata sumeleh. Apa pula ini?
Tapi biarlah kata yang satu itu. Sebab, yang terpenting adalah apa yang kemudian saya tangkap dari tulisan tersebut. Yakni, sebuah “jeritan” saudara kita yang kini disebut pemukim eks tapol Pulau Baru. Berbeda dengan sesama lainnya, mereka tidak lagi berniat untuk pulang ke asalnya. Mereka sudah menjadi asing dengan kampung, tempat tinggal mereka dahulu, yang dibayangkan sangat indah. Tampaknya pemeo lama “makan tidak makan asal kumpul sama-sama di kampung halaman” tidak berlaku bagi mereka. Mungkin sudah ketinggalan zaman.
Begitu memang seharusnya. Rasulullah berpesan: Seandainya seseorang di kampungnya sulit mencari rezeki, karena sudah sempit lahan, disuruh hijrah. Dan hijrahnya itu dinilai sebagai jihad fi sabilillah, berjuang di jalan Allah. Kalaupun kelak ia meninggal di tempat hijrah, dia tergolong mati syahid. Demikian pula insya Allah, saudara-saudara kita yang kini mukim di Savanajaya, Pulau Baru, yang memilih tetap tinggal di sana karena masih mampu mendapatkan rezeki, daripada kembali ke kampung karena dicurigai.
Meski begitu, saya tidak mampu membayangkan bagaimana malangnya nasib-nasib saudara kitaitu. Seakan sejarah tidak mampu memaafkan dan melupakan kesalahan mereka yang silam. Tiga puluh tahun lebih telah berlalu, kesalahan yang semula hanya berlaku untuk diri kemudian meluas kepada istri, anak, dan juga keturunan.
Adakah yang disebut dosa turunan dalam Pancasila? Atau lebih-lebih lagi dalam Islam? Jawabnya tidak ada, tentu. Dosa hanya dipikul oleh si pembuat. Dan, adakah dosa yang tak terampuni di mata Tuhan? Juga tidak. Setiap dosa apa pun bentuk dan wujudnya, asal bukan dosa syirik, menyekutukan allah, terbuka bagi ampunan-Nya. Mari kita camkan dengan jujur, apa sikap kita di waktu yang lalu?
Savanajaya, pilihan nama yang indah, tempat bekas tahanan politik, dikenal dengan sebutan Pulau Baru. Semua tapol sudah diberi pengampunan, Sebagian besar sudah kembali ke Pulau Jawa. Adakah mereka kembali ke tempat asalnya? Tak perlu ditelusuri, lupakanlah. Kalaumereka sudah diberi pengampunan, marilah bersikap seperti Khalik: memberi ampunan bagi hamba yang sesat jalan.
Tapi itu kan Tuhan. Bagaimana dengan kita? Sekali lagi, mari saling menjawab sendiri. Dan untuk itu, ada baiknya kita merenungi kisah berikut.
“Oalah, Nak. Setiap kali ada tamu dating dari Jawa, perasaan saya langsung sumedhot. Hati merasa sedih. Dan angan pun lalu terbang menerawang jauh…. Kapan saya bisa melihat kembali Pulau Jawa tempat saya lahir dan dibesarkan,” tutur Ny R.A Kustoyo, 60 tahun, dengan nada terbata-bata. Ada juga ungkapan, “Saya terkena stroke sejak setahun lalu. Di atas kursi ini saya menghabiskan hari-hari saya di Savanajaya. Selebihnya, saya hanya bisa tiduran di dipan sembari menyaksikan kesibukan Bapak melayani pembeli.”
Berkisah pula R. Kustoyo Siswohandoyo (65), seorang sarjana teknik sipil, mantan pegawal rumah tangga Istana Negara di tahun 1957, dan kemudian menjadi pegawai tinggi PT Semen Gresik: “Terus terang, Diajeng kecewa. Apa boleh buat. Sebagai istri saya, maka Diajengmenurut kehendak suami.” Kini, karena sudah tak punya apa-apa, kecuali warung ukuran 8 x 4 meter yang belum sempat dijual, pasangan sepuh itu hanya bisa mengandalkan larisnya warung mereka sebagai sandaran hidup.
Kecewa, karena tak jadi pulang, dan kini terbaring lumpuh akibat stroke, tak membuat Ny. Kus putus harapan. Justru dalam kondisi demikian, Ny. Kus mampu melihat kesungguhan cinta dan kesetiaan suaminya. Dan itu terasakan, manakala Pak Kus, suaminya, dengan sigap, telaten, dan penuh kasih sayang tak pernah terambat meladeni semua keinginan dan kebutuhannya: mulai dari makan, buang air, pindah tempat tidur, dan lain-lain.
Perasaan kecewa berlangsung reda. Tumbuhlah perasaan sumeleh (pasrah) kepada Yang Khalik. “Kita kan anya makhluk ciptaan-Nya. Jadi, mau mati di Pulau Baru atau di Jawa, ya sama saja. Terserah Sing Agawe Gesang (Yang Membuat Hidup),” kata Ny. Kus dengan nada yakin.
Demikian kisah saya kutip. Walau tidak seluruhnya, namun pada dasarnya secara harfiah itulah di antara yang dituturkan. Kata Rasulullah, cintailah sesamamu seperti kamu mencintai dirimu sendiri. Kalau mereka dahulu pernah bersalah, dan kini bertobat serta diampuni, selayaknya kita menerima mereka tanpa cacat dan cela berdasarkan cinta, kasih, serta maaf dan ampunan.
Kini aku mengerti, sungguh mengerti, apa makna sumeleh itu. Mampukah aku juga bersikap sumeleh dalam hidup ini?

Penulis: Bismar Siregar (1928-2012), hakim karier dengan jabatan terakhir Hakim Agung (1984-2000); dan menulis untuk berbagai media massa.
Sumber: PANJI MASYARAKAT, 23 JUNI 1997
