Cakrawala

Kesenian Islam dan Tantangan Lahirnya Karya Islami Membesarkan Allah

Kesenian dan rasa keindahan adalah naluri manusia yang tidak bisa dihapuskan dalam kehidupan. Kesenian bisa disebut fitrah manusia. Seandainya dalam kehidupan ini tidak ada kesenian maka bisa dibayangkan wajah atau roman muka  yang tegang, kaku dan menyeramkan. Karena itu, kesenian dengan tepat digambarkan oleh  Herbert Read yaitu usaha manusia untuk menciptakan bentuk-bentuk yang menyenangkan.

Apa yang dikemukan oleh Herbert Read menjadi konsep yang diterapkan oleh –bukan hanya para pekerja seni– tapi saat ini menjadi industri dalam kehidupan moderen. Berbagai kegiatan kesenian sekarang ini yang sudah menjadi komoditi dan industri dikelola secara profesional dengan tujuan mendapat keuntungan. Misalnya, dapat dilihat pada seni pertunjukan seperti sinetron, perfilman, televisi yang  semuanya ini juga didukung oleh iklan sebagai sumber pemasukan.

Kesenian–sebagai bagian dari kebudayaan– dengan tujuan mengejar target laba, memotivasi para stakeholder di bidang kesenian,  -seperti ungkap Herbert Read–untuk berkreasi menciptakan kesenian yang menarik dan menyenangkan  masyarakat. Kalau dalam istilah pengelola televisi menayangkan sinetron atau konten tv yang bisa mendongkrak rating tinggi.

Suatu kesenian yang dikelola dalam masyarakat yang kapitalistik  dapat dipastikan bukan berorientasi idealisme, tetapi orientasi benefit atau keuntungan lebih kuat pengaruhnya. Dengan demikian aspek yang terkait dengan norma, nilai-nilai dan juga segi etika relatif tipis pertimbangannya.

Seni dan Islam

Bagi agama Islam masalah seni jelas harus didudukkan porsinya pada tempat yang benar, yaitu tidak melanggar prinsip-prinsip aqidah dan konsep tauhid   yang merupakan konsep inti Islam.

Secara filosofis seni sekarang terbelah pada dua kelompok atau aliran. Pertama, yang mengatakan seni hanya untuk seni atau L’Art pour L’Art, kedua seni untuk.”sesuatu”.

Seni untuk seni adalah paham yang meyakini seni itu netral. Seni itu bebas nilai, tanpa pengaruh dan kontrol siapapun, termasuk kontrol dari agama dan norma. Satu-satunya  ukuran   yang dipakai adalah selera keindahan sang seniman. Prinsipnya adalah “dengan kebebasan kita mencipta”.

Paham kesenian yang egoistik dan individualistik ini sering menimbulkan kontroversi. Pahamnya kadang melewati batas dan acap berbenturan dengan keyakinan masyarakat. Contoh kasus terakhir adalah yang terjadi di Perancis dengan adanya upaya menggambarkan Nabi Muhammad melalui karikatur   Mereka melabrak hal yang dianggap sakral bagi yang beragama Islam.

Paham seni untuk seni membiarkan imajinasi berkembang secara liar tanpa batas. Dalam seni lukis misalnya menggambarkan wanita cantik telanjang dianggap biasa saja. Demikian pula dalam seni drama berpelukan wanita dan pria hal yang lumrah. Tari telanjang atau tari perut yang bersifat erotis, tidak menyalahi dan dinilai   sebagai peristiwa seni.

Dalam puisi ada kata-kata yang tidak punya arti,  gambar -gambar yang disusun berbaris berbentuk kotak, dan lainnya, sudah dianggap sebagai puisi. Demikian juga dalam novel absurd dan tidak jelas alur ceritanya, sudah dianggap sebagai karya sastra, meski yang paham betul maksudnya adalah si pengarang sendiri. Namun, ini semua dianggap bagian dari kebebasan penganut seni untuk seni.

Sementara seni untuk “sesuatu” adalah dimana si seniman dirampas kemerdekaan ciptanya, dipaksa mengabdi kepada sesuatu yang terletak di luar bidang kesenian ( Sidi Gazalba, Pandangan Islam Tentang Kesenian, Bulan Bintang, Jakarta, l977 hal .60).

Sejarah Indonesia di masa orde lama pernah mengalami hal seperti ini. Yaitu munculnya seniman  Lekra yang merupakan bagian dari ounderbouw partai PKI yang menekankan bahwa seni itu untuk rakyat atau seni untuk revolusi. Dengan demikian seni diarahkan untuk kepentingan partai dan ideologi. Akibat seni yang terpengaruh oleh politik akhirnya menimbulkan berbagai ekses dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Menurut Yusril Ihza Mahendra, terjadi saling tuding di antara paham seni untuk seni dengan seni untuk sesuatu. Paham seni untuk seni memandang paham seni untuk sesuatu, bukanlah seni yang sejati, oleh karena mereka telah menjadi budak yang memperhambakan dirinya kepada sesuatu yang bukan seni. Mereka telah mengorbankan daya cipta seni yang tak mungkin akan berkembang dengan leluasa, jika mereka mengingkari seni sebagai sesuatu bidang kegiatan manusia  yang mandiri. Oleh karenanya menurut mereka, paham seni untuk sesuatu haruslah ditolak, itu bukan seni namanya .

Tetapi penganut paham seni untuk sesuatu menuduh paham seni untuk seni sebagai kegiatan yang tak akan mendatangkan manfaat apa-apa bagi kepentingan dan kemaslahatan masyarakat, karena ia bersifat egoistis dan individualis. Pendukung paham seni untuk sesuatu ini juga berpandangan bahwa tiap-tiap pekerjaan yang tak membawa kemaslahatan bagi masyarakat adalah pekerjaan yang sia-sia. Oleh karena itulah maka paham seni untul seni haruslah ditolak ( Yusril Ihza Mahendra, Sastra Islam, Sastra karena Allah untuk Manusia, Majalah Horison, XVIII/235 Tahun 1984).

Bagi Islam seni yang baik dan seni yang jahat dengan jelas disebut dalam Al-Qur’an surat asy-Syu’araa ayat 224-227. ” Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat  Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap-tiap.lembah (maksudnya: mempermainkan kata-kata dan tidak mempunyai tujuan yang baik dan tidak mepunyai pendirian). Dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakannya. Kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman fan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali”.

Menyimpulkan makna ayat di atas Prof. A. Hasymy mengatakan ciri-ciri seniman atau sastrawan muslim adalah, pertama, hati dan jiwanya penuh keimanan, kedua, kerjanya senantiasa beramal saleh, berbuat bakti,  ketiga, pancaran iman menjelma dalam amal perbuatannya, keempat, mereka selalu mengenang Allah, sehingga berwujud dalam karya-karyanya ( Prof. A. Hasymy, Kesusastraan Islam Menurut Al -Qur’an, Majalah Mimbar Ulama, No.6, Desember l976 hal. 56).

Dengan lebih tegas Drs  Sidi Gazalba mengatakan, seni Islam adalah karena Allah, tapi untuk manusia. Tiap gerak dalam diin (agama) selalu berpangkal pada Allah dan berujung pada manusia. Tiap laku perbuatan muslim mestilah karena Allah untuk manusia. Demikian pula berseni, mencipta, membawakan karya seni atau menikmati seni. Seni karena Allah, tapi untuk manusia akan mencegah terjadinya penyelewengan . Penyelewengan itu terjadi kalau manusia melewati batas.

Menurut Sidi Gazalba, seni sejati mengandung moral. Seni dan moral berjalin ketat. Dengan meningkatkan seni itu karena Tuhan, dengan sendirinya ia mengandung moral. Tuhan menyuruh kepada yang baik, dan melarang dari yang buruk. Suruhan dan larangan Tuhan itulah yang membentuk syariat, berlaku dalam agama dan juga kebudayaan dan kesenian. Islam menghendaki supaya berseni itu dijalankan dengan akhlak Islam. Karya seni Islam mestilah jauh dari nilai haram. Sekalipun yang mencipta suatu karya seni itu seniman beragama Islam, tetapi apabila mengandung nilai haram, ia  keluar dari kategori seni Islam. Seni yang dibawakan atas nama Islam mestilah untuk kebaikan.

Buya Hamka dalam sebuah tulisannya mengungkapkan bahwa seni yang bernilai tinggi adalah yang menjadikan seniman itu bertumpu pada budi (etika), pada kebenaran (al-haqq) dan membawa  seniman pada fana (hilang) ke dalam baqa (Hamka, Pandangan Hidup Muslim, Bulan Bintang, Jakarta, l992 hal. 136).

Pandangan Buya Hamka di atas mengingatkan kita pada  puisi Taufiq Ismail. Taufiq Ismail menyebut puisinya sebagai kesenian zikir. ” Kesenian saya memiliki standar estetika, mengingatkan orang untuk memuji Allah. Ia mengingatkan orang untuk zikir,”tuturnya, seperti dimuat dalam Prisma ekstra, 1984 hal. 63 dan 65.

Filsafat zikir itulah yang melahirkan puisi Taufiq Ismail yang berjudul ” Sajadah Panjang” dinyanyikan oleh Bimbo:

Ada sajadah panjang
Dari kaki buaian
Sampai ke tepi kuburan
         Hamba
Kuburan hamba
Bila mati
………………
Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan rukuk
Hamba sujud tak lepas kening
            Hamba
Mengingat
Dikau
sepenuhnya

Tidak diragukan lagi Taufiq Ismail dan puisi zikirnya satu model seni dan sastra Islam yang memiliki makna spritual yang dalam. Pada kesenian moderen yang hedonistik sekarang ini nilai etika dan moral keagamaan sudah tidak diperhatikan, yang penting adalah aspek bisnis dan komersialnya. Seniman muslim yang punya niat dan idealisme luhur ditantang untuk melahirkan karya Islami yang bermutu mengajak manusia pada kebesaran Allah dan mencontohkan nilai-nilai kebajikan dan amal shaleh kemanusiaan. Allahu’alam.

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda