Jejak Islam

Ragam Seni Mushaf Nusantara (1)

Written by Panji Masyarakat

Puluhan jenis mushaf (lembar-lembar teks) Alquran di Indonesia, atau yang dikenal Mushaf Nusantara, memiliki nilai seni tingi. Ragam hiasnya menyimpan iluminasi yang luar biasa indahnya, yang tak kalah agung dibandingkan dengan seni mushaf yang terdapat di negeri-negeri Islam lainnya. Keotentikan mushaf-mushaf Nusantara, yang dibuat para ulama pada abad-abad ke-17 sampai 19 M, itu terletak pada gayanya yang meneguhkan ragam hias seni budaya lokal daerah yang pernah menjadi pusat pengembangan Islam. Sayang, kekayaan budaya Mushaf Nusantara yang satu ini terabaikan kelestariannya.  

Sejarah Seni Mushaf

Seni penulisan mushaf diperkirakan pertama kali tumbuh di Kufah atau Bagdad pada abad ke-9 M. Yakni sebagai perkembangan lebih lanjut ari kaligrafi atau tulisan indah pada abad permulaan perkembangan Islam. Zaid ibn Tsabit, yang dikenal memiliki keahlian menulis indah, menjadi penulis wahyu Alquran atas perintah Nabi.  Tugas ini dipertegas dengan sabda Nabi s.a.w.:  “Tidak ada yang boleh ditulis kecuali wahyu.” Perintah Nabi dimaksudkan agar wahyu tidak tercampur dengan perkataan Nabi, sehingga orisinalitas firman Allah SWT bisa dijaga. Kepercayaan kepada salah satu sahabat Nabi ini diteruskan sampai masa kekhalifahan Utsman ibn Affan. Di era inilah hasil kodifikasi Alquran ditulis kembali dalam ejaan baru.

Di Kufah dan Bagdad, pada masa dinasti Abbasiah (750-1258 M), terdapat sejumlah kalangan yang ahli di bidang penulisan mushaf. Misalnya Ibn Muqlah yang hidup pada pertengahan abad ke-10 M. Ibn Muqlah membuat beberapa kaidah atau proporsi kaligrafi utama yang enam (Al-Aqlamus Sittah: tsulutsi, naskhi, rayhani, muhaqqaq, tawqi, dan riqa). Demikian juga Ibn Al-Bawwab (w. 1022 M.) yang disebut-sebut murid penerus Ibn Muqlah. Ibn Al-Bawwab berhasil membuat 64 buah mushaf, yang oleh banyak kalangan dikatakan belum tertandingi keindahannya.

Beberapa abad kemudian ada Yaqut Al-Musta’sim (w. 1298 M.) yang sempat mendapat julukan raja kaligrafi. Konsep Yaqut inilah yang di kemudian hari dijadikan salah satu acuan tradisi seni mushaf di berbagai negeri Muslim, seiring dengan berkembangnya syiar Islam.

Seni mushaf diperkirakan mencapai puncaknya pada abad ke-14 M di Mesir pada masa Dinasti Mamluk, dan kemudian menyurut sejak masa Dinasti Safawiyah di Iran. Pada masa ini bahkan banyak karya seni mushaf yang diperkirakan raib.

Sejarah seni mushaf di Nusantara sendiri diperkirakan baru mulai tumbuh pada akhir abad ke-14 M, bersamaan dengan munculnya berbagai entitas Muslim di kawasan ini. Seni mushaf terus berkembang seiring dengan kegiatan dakwah ulama Nusantara, yang secara intensif menggiatkan pendidikan sepanjang abad-abad ke 17-18 M. setelah mereka belajar di Timur Tengah. Pada periode yang sama di beberapa negeri Muslim, seperti Turki, kawasan Timur Tengah, dan Afrika Utara, seni penulisan mushaf boleh dikatakan redup sama sekali.

Ulama-ulama yang cukup memberi perhatian besar kepada pengembangan seni mushaf di Nusantara antara lain Hamzah Fanshuri (w. 1670 M). Nuruddin Ar-Raniri (w. 1658 m), Abdurrauf Singkel (w. 1693 m), Muhammad Yusuf Al-Maqassari (w. 1789 m di Capetown, Afrika Selatan), Muhammad Arsyad Al-Banjari (w. 1812 M), dan Daud Al-Fatani (w. 1847).

Mushaf-mushaf  Nusantara yang kini pada umumnya berasal dari daerah-daerah tempat para ulama itu. Masuk akal kiranya jika mushaf itu dibuat atau atas perintah ulama di atas untuk keperluan mereka dalam pengajaran Islam.

Bersambung      

Penulis: Agung Y. Achmad, wartawan majalah Panji Masyarakat, 1997-2001, redaktur majalah Panjimas, 2002-2003.. Kini penulis lepas, atara lain untuk kolom bahasa majalah Tempo. Sumber: Panjimas, 6-19 Februari 2003.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda