Bintang Zaman

Bung Karno (1): Korban Prasangka Rasial

Written by A.Suryana Sudrajat

Sukarno melewatkan sebagian masa kecilnya di Tulungagung bersama kakeknya. Sang kakek lebih banyak menuruti kemauan cucunya,  dengan membiarkannya nonton wayang semalaman. Ia pun mulai mengidentifikasi dirinya dengan tokoh-tokoh pewayangan yang dikaguminya, seperti Bima yang tak kenal kompromi dengan musuh itu.

“Ayahku menginginkan aku menjadi seorang kstaria, yang akan mengabdi kepada Tanah Air. Keinginannya begitu kuat sehingga ia mengubah namaku, yang mula-mula Kusno, menjadi Sukarno. Sukarno berasal dari Karna, seorang pahlawan terbesar dalam cerita Mahabharata. Karna adalah pejuang bagi negaranya, dan seorang patriot yang saleh.”

Ini adalah kenangan Bung Karno pada 1940-an mengenai masa kecilnya. Ayahnya, Raden Sukemi, adalah bangsawan rendahan Jawa. Karena itu dia bisa masuk sekolah pendidikan guru (Kweekschool) di Probolinggo, Jawa Timur. Sukemi memulai pekerjaannya sebagai guru, pada akhir abad ke-19, di sebuah sekolah pendidikan pegawai negeri bumiputera di Bali, di sinilah dia menikah dengan gadis Bali, Ida Ayu Nyoman Rai, secara Islam – karena itu dia dikeluarkan dari kasta Brahmana-nya. Pada pergantian abad Sukemi dipindahkan ke Jawa, dan lahirlah anak keduanya pada 6 Juni 1901 di Surabaya. Anak itu diberi nama Kusno, yang kemudian dipindahkan jadi Sukarno itu.

Kusno melewatkan sebagian masa kecilnya di Tulungagung, di bawah asuhan kakeknya. Sang kakek lebih banyak menuruti kemauan cucunya. Misalnya, dia membiarkan saja si Kusno asyik nonton wayang semalaman sehingga sekolahnya terganggu. Di sini Kusno mulai mengidentifikasi dirinya dengan tokoh-tokoh pewayangan yang dikaguminya, seperti Bima yang tak kenal kompromi dengan musuh itu.

Kusno harus melupakan hobi nontonnya ketika ayahnya membawa ke tempat bekerjanya yang baru di Mojokerto. Sukemi ingin memberikan pendidikan yang lebih baik kepada Kusno dengan memasukkannya ke Sekolah Dasar Eropa (Europese Legere School). Sekolah ini mensyaratkan calon muridnya mampu berbahasa Belanda, dan untuk itu sang ayah menggaji seorang wanita Belanda untuk mengajari si anak.

Waktu itu belum lazim bagi penduduk pribumi memasuki sekolah Eropa. Karena itu, mereka yang berhasil duduk di sekolah ini dan duduk di tengah tengah anak kulit putih dan anak-anak Indo, yang tak kalah sombongnya, sering menjadi korban prasangka rasial atau rasisme. Tak terkecuali  Sukarno, yang menyelesaikan pendidikan ELS-nya pada 1915. Waktu itu Sukarno sudah mulai mempercayai janji yang terkandung dalam dunia pewayangan, sebagaimana ditulis Tjipto Mangunkusumo pada 1914 dari tempat pembuangannya. Tokoh yang kemudian menjadi salah seorang guru Sukarno ini menyatakan, “Terbitnya matahari akan disertai oleh  kemenangan akhir ksatria, oleh pengemban ide tentang kebaikan, yang – untuk dapat mencapai cita-citanya – tidak akan ragu-ragu mempertaruhkan jiwanya, karena dia tahu bahwa kemenangan berada di pihaknya jika ia cukup kuat untuk mengejar cita-citanya tanpa ragu.”

Sukarno kemudian mengayunkan langkahnya ke Surabaya, masuk Hogere Burger School (HBS), dan terpenting berguru kepada Tjokroaminoto, pemimpin Sarekat Islam yang kharismatis itu. Di sini Bung Karno mulai mengenal Islam, sebagai ajaran yang revolusioner dan punya semangat melawan kaum kolonial yang sudah merendahkannya ketika di ELS. Kelak ketika Bung Karno menjadi orang nomor satu Republik, Barat dan antek-antek Nekolim (neokolonialisme dan imperialisme)-nya tetap menjadi musuh bebuyutan revolusinya. Seruannya adalah kebangkitan bangsa-bangsa Afrika. Bersambung

Smber: Majalah Panji Masyarakat, 17 Juni 1998.

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda