Cakrawala

Antara Kebenaran Politisi dan Kebenaran Akademisi

Akhir-akhir ini kita melihat adanya perbedaan pendapat antara politisi dan akademisi dalam melihat kebenaran, terutama terkait masalah politik khususnya soal pemilu dan kehidupan demokrasi. 

Perbedaan itu terlihat dalam cara pandang melihat kepentingan. Politisi melihat masalah politik dan demokrasi bersifat kebutuhan jangka pendek, sementara akademisi melihat politik atau demokrasi dalam kebutuhan jangka panjang, lebih luas dan mengutamakan kualitas.

Politisi melihat politik untuk kepentingan jangka pendek,hanya untuk mendapatkan kekuasaan. Dalam pemilu politisi bagaimana mendapatkan suara dengan berbagai cara, trik dan kiat terkadang tanpa memperdulikan etika, aturan dan ketentuan-ketentuan yang telah disepakati. Yang ditargetkan adalah kemenangan dan meraih suara terbanyak, bagaimanapun caranya. Misalnya, dengan cara money politik atau memberi uang, sembako dan lainnya. Politisi mungkin tidak memikirkan bagaimana membentuk pemilih yang cerdas, pemilih yang mampu melihat program yang ditawarkan, jejak rekam partai dan politisi serta integritas ataupun kompetensi mereka.

Ini berbeda dengan cara pandang para ilmuwan atau akademisi dalam melihat kehidupan demokrasi. Bagi akademisi demokrasi tidak cukup hanya sekedar himpunan angka-angka. Seorang akademisi akan melihat demokrasi adalah terbukanya peluang pencerdasan pemilih. Bukan proses pembodohan pemilih. 

Pencerdasan dalam arti lahirnya pemilih yang kritis. Pemilih yang bisa menilai kehidupan politik baik ketika pemerintahan sedang berjalan, kebijakan yang dilahirkan,dan pada saat tahun politik ketika ada bursa pemilihan baik presiden, anggota dewan, kepala daerah maupun anggota DPD atau senator.

Dua pandangan kubu yang berbeda di atas tentu memiliki konsekuensi. Konsekuensi pandangan politisi yang hanya melihat kebutuhan jangka pendek tampaknya lebih menguntungkan mereka, menguntungkan partai dan menguntungkan kandidat. Sebab, jika menang mereka mendapatkan jabatan, mendapat fasilitas, serta mendapat kesenangan secara ekonomis karena akses-akses dan kesempatan yang mereka peroleh. 

Sementara rakyat yang tidak kritis dalam memilih hanya menjadi ‘alat’ untuk bantu loncatan para politisi meraih ambisi kekuasaan. Karena itu bagi para politisi mereka tidak punya keinginan untuk memajukan kecerdasan pemilih. Mereka lebih mengutamakan hal-hal yang bersifat imimg-iming seperti janji-janji yang muluk serta pemberian kebutuhan sesaat seperti sembako, uang dan lainnya dalam trik-trik seperti ‘serangan fajar’ dan semacamnya. 

Dengan pemilih yang tidak mampu menganalisa kekuataan dan keunggulan partai, kandidat dan calon atau kader partai, tentu politisi punya kepentingan untuk mempertahankan status quo para pemilih sehingga tidak berkembang kemampuan atau daya kritis menentukan pilihannya. 

Sedangkan bagi para ilmuwan dan akademisi, keadaan situasi atau iklim budaya yang tidak mendukung kemajuan manusia atau masyarakat adalah keadaan yang mencemaskan. Termasuk dalam kehidupan politik dan demokrasi. Ia   sesuatu yang bisa dinilai bakal mengancam peradaban, mengancam kemajuan intelektual manusia, mengancam kemajauan dunia pendidikan dan pada akhirnya tentu memundurkan peradaban bangsa. Karena itu bagi para ilmuwan dan akademisi sebuah kehidupan demokrasi yang berlangsung tidak normal, tidak tercipta kebebasan memilih, adanya kecurangan, dan ketidaknetralan penguasa adalah sinyal atau warning kemunduran sebuah bangsa menuju keterpurakan, dan bahkan mungkin kehancuran.

Para ilmuwan dan akademisi lebih melihat masalah dengan menggunkaan logika sehat dan hati nurani. Dan punya concern yang tinggi memajukan peradabaan bangsa dan ilmu pengetahuan. Mereka tidak punya kepentingan dan minat untuk ambisi kekuasaan. Ini tentu berbeda dengan politisi atau partai yang cenderung berfikir pragmatis dan melihat pentingnya merebut posisi-posisi kekuasaan, yang kadang berdalih untuk kesejahteraan rakyat, namun lebih cenderung memperjuangkan kepentingan kelompoknya. Seperti, misalnya, keadilan yang sering diharapkan oleh rakyat selalu gagal diwujudkan partai atau koalisi pemenang pemilihan umum ketika sudah memerintah.

Maka, kedepan seharusnya partai dan politisi lebih banyak mendengar kebenaran yang disampaikan para  ilmuwan supaya demokrasi yang sehat bisa berkembang, sekaligus kemajuan bangsa juga terwujud. Allahu a’lam.  

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button