Cakrawala

HIJRAH NABI: DARI SINI ZAMAN KEEMASAN ISLAM DIMULAI

“The Hijrah was the turning point in Muhammad’s career and in the history of Islam.(Hijrah adalah titik balik dalam perjalanan Muhammad dan sejarah Islam))” — W. Montgomery Watt

Pernyataan jujur orientalis di atas benar adanya. Jika saja pernyataan jujur dari para orientalis dan pemikir Barat modern yang lain dituliskan tentu daftarnya akan panjang. Peristiwa hijrah Nabi Muhammad saw. dari Makkah ke Madinah pada tahun 622 M merupakan momentum paling menentukan dalam sejarah peradaban manusia. Hijrah bukan sekadar perpindahan geografis dari satu kota ke kota lain, melainkan transformasi besar yang mengubah Islam dari sebuah gerakan dakwah yang tertindas menjadi fondasi lahirnya sebuah masyarakat dan peradaban yang kelak mencapai puncak kejayaan. Karena itu, hijrah dapat dipandang sebagai tonggak pertama lahirnya zaman keemasan Islam (The Golden Age of Islam).

Sebelum hijrah, umat Islam di Makkah menghadapi tekanan dan diskriminasi yang berat. Dakwah Nabi memperoleh penolakan keras dari kaum Quraisy karena dianggap mengancam tatanan sosial, politik, dan ekonomi yang telah mapan. Dalam situasi tersebut, ruang untuk mengembangkan ajaran Islam secara komprehensif sangat terbatas. Islam lebih banyak tampil sebagai gerakan moral dan spiritual yang berjuang mempertahankan eksistensi.

Keadaan berubah ketika Nabi hijrah ke Madinah. Di kota inilah Islam memperoleh kesempatan untuk membangun tatanan sosial yang lebih luas. Hijrah menjadi titik awal lahirnya masyarakat baru yang berlandaskan nilai-nilai keadilan, persaudaraan, kesetaraan, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Madinah tidak hanya menjadi pusat dakwah, tetapi juga pusat pembangunan peradaban. Profesor Harun Nasution, seorang arsitek modernisasi total kampus IAIN, menulis bahwa Islam zaman kemajuan Islam dimulai  sejak Nabi Muhammad bermigrasi dari Mekah ke Madinah, kemudian dilanjutkan oleh para generasi sahabatnya hingga mencapai puncaknya di masa Dinasti Abbasiyah.

Salah satu langkah penting Nabi setelah hijrah adalah mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Ansar. Kebijakan ini menunjukkan bahwa fondasi masyarakat Islam dibangun di atas solidaritas sosial, bukan kesukuan atau status ekonomi. Dalam masyarakat yang sebelumnya terpecah oleh ikatan tribal yang kuat, Nabi berhasil menghadirkan model komunitas yang menjadikan iman dan nilai kemanusiaan sebagai perekat utama.

Konstitusi Pertama di Dunia

Tonggak penting lainnya adalah lahirnya Piagam Madinah. Dokumen ini sering disebut sebagai salah satu konstitusi tertulis paling awal dalam sejarah dunia. Piagam Madinah mengatur hubungan antara berbagai kelompok masyarakat yang berbeda agama dan suku, termasuk kaum Muslim, Yahudi, dan komunitas lainnya. Melalui piagam tersebut, Nabi membangun tata kelola masyarakat yang menekankan prinsip keadilan, kesetaraan hak, tanggung jawab bersama, dan penyelesaian konflik secara damai.

Sejumlah pemikir Barat memberikan apresiasi terhadap model masyarakat Madinah yang dibangun Nabi. Mereka melihat adanya prinsip-prinsip yang sejalan dengan konsep negara hukum modern, kontrak sosial, dan masyarakat sipil (civil society). Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai yang dikembangkan Nabi memiliki relevansi universal yang melampaui batas ruang dan waktu.

Dari Madinah pula lahir fondasi institusi-institusi sosial yang menjadi ciri peradaban Islam. Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan, musyawarah, pelayanan sosial, dan pengembangan ilmu pengetahuan. Tradisi literasi dan pencarian ilmu yang kemudian berkembang pesat pada masa Dinasti Umayyah dan Abbasiyah berakar dari budaya keilmuan yang telah ditanamkan Nabi sejak periode Madinah.

Keberhasilan membangun masyarakat yang stabil dan berkeadaban menjadi modal penting bagi ekspansi peradaban Islam pada abad-abad berikutnya. Dalam kurun beberapa abad setelah hijrah, dunia Islam tampil sebagai pusat ilmu pengetahuan, teknologi, kedokteran, matematika, astronomi, filsafat, dan seni. Kota-kota seperti Baghdad, Damaskus, Kairo, Cordoba, dan Bukhara berkembang menjadi pusat intelektual dunia yang menarik para ilmuwan dari berbagai bangsa dan agama.

Kemajuan tersebut tidak lahir secara tiba-tiba. Zaman keemasan Islam merupakan buah dari fondasi yang dibangun Nabi di Madinah. Nilai-nilai keterbukaan, penghargaan terhadap ilmu, keadilan sosial, dan tata pemerintahan yang baik telah ditanamkan sejak masa hijrah. Dengan kata lain, hijrah merupakan benih yang kemudian tumbuh menjadi pohon peradaban besar yang menaungi berbagai bidang kehidupan.

Bersatu dalam Keberagaman

Dalam konteks kekinian, makna hijrah perlu dipahami secara lebih luas. Hijrah bukan hanya perpindahan fisik, tetapi juga transformasi menuju kondisi yang lebih baik. Semangat hijrah mengajarkan pentingnya keberanian melakukan perubahan, membangun solidaritas sosial, memperkuat persatuan dalam keberagaman, serta mengembangkan ilmu pengetahuan sebagai sarana memajukan peradaban.

Peringatan Tahun Baru Islam hendaknya menjadi momentum refleksi untuk menghidupkan kembali spirit hijrah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Di tengah berbagai tantangan sosial, politik, ekonomi, dan budaya, Indonesia memerlukan semangat transformasi yang berorientasi pada kemajuan dan kemaslahatan bersama.

Selamat Tahun Baru 1448 Hijriyah

Penulis: Prof. Dr. Didin Saepudin Buchori, Guru Besar Sejarah Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Didin Saepudin Buchori

Prof. Didin Saepudin Buchori, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button