Upaya membangun umat Islam dalam setiap kehidupan politik, sosial dan ekonomi penting terus dikembangkan. Hal ini disebabkan karena posisi dan peran umat Islam masih belum maksimal dalam setiap masa atau orde kehidupan. Bangsa Indonesia yang telah memasuki tiga zaman sejak orde lama, orde baru, dan era reformasi sekarang ini peran umat Islam baik dari segi politik, ekonomi, sosial, pendidikan dan lainnya belum pernah muncul pada posisi yang terdepan. Padahal, umat Islam merupakan penganut agama mayoritas.
Kehidupan politik tampaknya menunjukkan bahwa suatu peran yang menonjol dalam sebuah kelompok kalau kontribusinya besar dalam dua sektor, yaitu politik dan ekonomi. Namun, ini tidak menutup kemungkinan peran-peran lain di luar hal tersebut. Pada era orde baru sekitar tahun 70-an ketika politik menjadi peran yang dianggap segalanya, kalangan intelektual Islam pada waktu itu memunculkan kredo “ Islam yes, partai Islam no”. Pandangan ini mengandung arti bahwa politik bukan satu-satunya peran yang menentukan dan utama, peran umat Islam dalam budaya, pencerdasan umat, pendidikan dan semacamnya juga sangat strategis yang harus digarap. Bahkan, dari peran inilah kemudian mampu melahirkan orang-orang Muslim terdidik yang selanjutnya terekrut ke dalam birokrasi pemerintahan.
Pada saat ini dirasakan umat Islam perlu membangun suatu arus utama atau mainstream pemikiran di tengah kehidupan politik dan ekonomi di mana kekuatan umat Islam sangat lemah. Sebab, jika umat terjebak dalam rutinitas tanpa melakukan suatu pencarian peran tertentu, dikhawatirkan umat akan terus tertinggal dan terkebelakang dalam perjalanan bangsa ke depan.
Secara parsial keinginan untuk membangun mainstream tersebut bisa kita lihat, meskipun ini mungkin suatu kesadaran yang bisa disebut baru merupakan potensi yang tersebar di beberapa institusi umat, antara lain adalah:
Pertama, Muhammadiyah, NU, dan Persis yang beberapa waktu lalu menerima Izin Usaha Pertambangan (IUP) dari pemerintah, bisa kita lihat sebagai bagian untuk membangun ekonomi umat. Memang, ini ide yang kontroversial jika ormas masuk bisnis tambang, yang dianggap merusak lingkungan dan sarat konflik dengan warga. Namun, cita-cita Muhammadiyah untuk membangun suatu bisnis pertambangan yang manusiawi, pro-lingkungan, tidak merusak, dan yang positif untuk rakyat, tentu cita-cita prinsip ini perlu didukung. Artinya, dalam konteks mencari arus utama pemikiran Islam, gagasan ini merupakan suatu langkah untuk menemukan arus utama tersebut, terutama di bidang ekonomi.
Demikian juga ketika Muhammadiyah menarik dananya yang disimpan di Bank Syariah Indonesia (BSI) yang berjumlah sekitar Rp 13 triliun, karena dianggap dananya selama ini cenderung digunakan untuk pembiayaan corporate, padahal Muhammadiyah berharap juga disalurkan kepada UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) yang menjadi komitmen Muhammadiyah untuk membantu ekonomi umat. Mungkin harapan ini tidak terpenuhi sehingga dilakukan penarikan dana.
Menurut Azyumardi Azra, Muhammadiyah organisasi yang memiliki potensi besar untuk berperan membangun ekonomi umat. Dari segi human resources , Muhammadiyah memiliki sekitar 20 juta anggota terdaftar dan sejumlah besar simpatisan. Manajemen organisasi berjalan baik, berkat dukungan struktur organisasi yang kokoh dan tersebar di pelosok Nusantara. Muhammadiyah kaya asset fisik yang bisa menunjang usaha-usaha ekonomi. Kemudian Muhammadiyah organisasi yang berkarakteristik urban-base. Ini potensi yang amat strategis dalam upaya pengembangan ekonomi kaum muslimin. Ekonomi Indonesia sangat terpusat di wilayah urban, dan dengan kian dominannya sektor industri dan jasa, membuat kedudukan kota makin penting. Dan, wilayah urban kini tidak terbatas di kota –kota besar saja. Kini semakin banyak desa yang menjadi kota-kota kecil yang jelas sangat potensial untuk digarap Muhammadiyah ( Azyumardi Azra, Muhammadiyah dan Pengembangan Ekonomi Santri, dalam Muhammadiyah Dalam Sorotan, editor, Usman Yatim dan Almisar Hamid, PT Bina Rena Pariwara, Jakarta, l993 hal.328-329).
Menurut berita Suara.com (11 Juni 2024) aset Muhammadiyah ditaksir berjumlah Rp 400 triliun. Jumlah ini belum termasuk kekayaan kas yang dimiliki amal usaha yang tersimpan di bank yang jumlahnya lebih dari Rp1000 triliun.
Kedua, sektor yang cukup penting digarap oleh umat Islam dan sangat strategis adalah bidang pendidikan. Pendidikan yang baik diharapkan mampu melahirkan out put yang menghasilkan pekerja terdidik, profesional dan menguasai teknologi. Dalam hal ini pernyataan mantan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla patut dicermati. Jusuf Kalla berharap Indonesia belajar ke Cina, Korea dan India yang sukses melahirkan lulusan pendidikan terbaik. Pak JK melihat betapa India mampu melahirkan lulusan pendidikan sehingga pekerjanya memegang posisi penting sebagai CEO (Chief Executive Officer) atau jabatan tertinggi di perusahaan besar luar negeri seperti Microsoft, Twitter atau X berasal dari India. Bahkan calon presiden Amerika Kamala Harris (Wapres Amerika Serikat sekarang) ibunya orang India (Shyamala Gopalan, penelti kanker dari India). Perdana menteri Inggris juga keturunan India (Rishi Sunak). Mereka tidak sekolah di luar negeri, tetapi di India. Menurut JK, pendidikan merupakan kunci pembangunan di semua sektor. Perubahan berbagai negara maju di belahan dunia tidak lepas dari peran pendidikan (Antara, 21 Desember 2023). Apalagi sekarang perkembangan teknologi berada pada puncak revolusi, yang disebut dengan revolusi 4.0, ditandai dengan internet of things, artificial intelligent, dan big data. Dengan revolusi ini, teknologi semakin memudah pekerjaan dan sekaligus menghilangkan banyak pekerjaan manual, seperti pekerjaan merakit di pabrik mobil digantikan oleh robot dan taksi manual digantikan oleh taksi online.
Melihat betapa pentingnya peran pendidikan dalam meraih kemajuan bangsa, maka umat Islam harus lebih serius menggarap dunia pendidikan sebagai basis atau salah satu arus utama untuk mendongkrak kemajuan umat.
Ketiga, memang suatu kenyataan kondisi umat Islam Indonesia jumlahnya mayoritas, tetapi dari segi kemampuan minoritas. Saat ini penduduk Muslim berjumlah 245.973.915 atau 87,08% dari keseluruhan jumlah penduduk Indonesia yang diperkirakan 275,5 juta. Sebagian besar umat bekerja sebagai buruh tani, bermukim di pedesaan, miskin, dan masih banyak yang tidak berpendidikan. Kondisi ini harus menjadi pemikiran bagaimana untuk memajukan mereka. Walaupun ini jelas suatu kondisi yang cukup tidak menguntungkan, namun harus juga dilihat sebagai potensi untuk dikelola menjadi kemajuan.
Bagi tokoh-tokoh dan pemikir Islam, sumber, potensi, jumlah umat yang besar ini harus menjadi bahan untuk diolah menjadi suatu kekuatan. Dalam hal inilah perlu dikembangkan etos kerja, seperti yang disebut oleh Abdul Munir Mulkan (Pergumulan Pemikiran Dalam Muhammadiyah, Sipres,1990 hal.77-78) sebagai Etos Bengkel Sosial. Yaitu, dinisbahkan kepada seorang pekerja bengkel yang memanfaatkan apa saja yang disuguhkan kepadanya untuk dapat diperbaiki, dirakit sehingga melahirkan bentuk yang baru. Demikian halnya, umat Islam dengan potensi, aset dan sumber daya yang dimiliki pastilah bisa dimanfaatkan untuk mencapai kemajuan. Dan, dalam hal ini motivasi tersebut diakui oleh Al-Qur’an bahwa umat Islam adalah umat yang kreatif dan cerdas,” Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah” (Ali Imran ayat 110)”.
Konsep di atas juga bisa menjadi faktor motivasi yang mendorong hasrat untuk berprestasi, yaitu dengan mengembangkan etos need for achievement (n-Ach, David Mc Clelland), yakni menempatkan semua komponen umat sebagai peluang untuk kemajuan, dan bukan sebagai hambatan. Dengan semangat fastabiqul khairat diupayakan potensi umat itu dikelola dengan baik dan dimanfaatkan sehingga menjadi suatu hal yang positif.
Keempat, suatu konsep yang juga relevan dikembangkan adalah perlunya dibangun semangat kerja sama dalam membangun ekonomi, kooperasi atau coorporative, yang dalam Islam disebut konsep ta’awwun (tolong menolong dan bekerja sama). Ini terbukti bahwa coorporative salah satu faktor keberhasilan pengusaha-pengusaha Cina menjadi konglomerasi raksasa ( Azyumardi Azra,l993) kerja sama dan jaringan mereka sangat kuat. Sementara di kalangan pengusaha santri atau umat masih menonjol semangat individualisme atau ingin menonjol sendiri.
Dalam semangat kebersamaan itu bisa dilakukan kerja sama bisnis, bantuan modal, pelatihan keahlian, pemasaran, hingga suatu network bisnis yang menciptakan peluang-peluang mendapatkan keuntungan, membangun dan memperbesar usaha.
Membangun arus utama pemikiran untuk kemajuan umat saatnya dilakukan. Umat Islam jangan hendaknya tenggelam dan terbawa dalam arus dan keriuhan pemikiran dan dunia politik sehingga melupakan pemikiran di sektor lain yang juga strategis dan urgen. Sangat disayangkan, kalau sekarang ini banyak pengusaha, terutama yang Muslim mengejar posisi dan terjun ke dunia politik, sehingga meninggalkan kegiatan bisnisnya. Padahal salah satu pendukung kemajuan bangsa kalau banyak rakyatnya terjun menjadi wirausahawan atau entrepreneur. Idealnya 4 % dari jumlah penduduk harus menjadi pengusaha bila ingin menjadi negara maju. Karena itu umat Islam tidak boleh melupakan kemajuan dunia usaha ini sebagai arus utama pemikiran untuk meraih kemajuan umat.
