Sekitar tiga tahun yang lalu saya membezuk Wakil Presiden Ke-9 Republik Indonesia Dr. H. Hamzah Haz yang sedang dirawat di Paviliun Kartika RSPAD Gatot Soebroto Jakarta. Pak Hamzah Haz ketika itu menjalani perawatan dan pemulihan kesehatan dalam waktu yang agak lama. Saya berada di kamar perawatan beliau di lantai 2 Paviliun Kartika hampir satu jam. Saat itu tidak ada tamu lain yang berkunjung.
Saya bezuk Pak Hamzah Haz sebagai tokoh bangsa yang berjasa di era pembangunan dan pernah menjadi orang nomor dua di Republik Indonesia. Pak Hamzah Haz sangat well come dikunjungi, meski tidak kenal sebelumnya dan saya tidak mempunyai hubungan organisasi. Sewaktu beliau mengemban tugas dan jabatan negara, saya pernah satu atau dua kali mengikuti acara yang dihadiri beliau selaku Wakil Presiden, tetapi tidak ada interaksi secara personal. Satu kali tanpa sengaja pernah berjumpa di masjid saat beliau masih menjabat. Setelah seseorang tidak lagi menduduki jabatan tinggi dan punya pengaruh kekuasaan, hubungan kemanusiaan memiliki nilai yang penting dan berharga, berbeda dibanding saat menjabat dimana dahulu banyak orang ingin mendekati.
Saya mengenang kegiatan nasional yang dibuka secara resmi oleh Wakil Presiden Hamzah Haz di Istana Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta yaitu Silaturahmi dan Rakornas II Badan dan Lembaga Amil Zakat Seluruh Indonesia tahun 2003. Kegiatan tersebut atas prakarsa Direktorat Pengembangan Zakat dan Wakaf di bawah pimpinan Drs. H. Tulus dalam periode Menteri Agama Prof. Dr. Said Agil Husin Al Munawar.
Pak Hamzah Haz antusias menanggapi masalah zakat, infak dan sedekah yang saya utarakan di rumah sakit sore itu. Masalah zakat secara langsung berkaitan dengan pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan rakyat. Meski dalam kondisi sakit, saat itu beliau penuh semangat menuturkan keutamaan dan manfaat zakat, infak dan sedekah sesuai dengan janji Allah dalam Al-Quran. Pak Hamzah Haz mengutip terjemahan ayat Al-Quran, janji Allah akan memberi balasan berlipat ganda kepada orang-orang yang menafkahkan dan menginfakkan hartanya di jalan Allah.
Sebelum pamit saya minta izin untuk mengabadikan momen yang berharga itu dengan foto bersama. Kenangan yang tak terlupakan, Ibu Hamzah Haz mengarahkan saya supaya duduk di springbed, di atas tempat tidur di samping Pak Hamzah Haz, supaya lebih dekat. Setelah pertemuan di rumah sakit itu, saya tidak pernah berjumpa lagi dengan beliau.
Rabu, 24 Juli 2024, Indonesia berduka, Wakil Presiden ke-9 Republik Indonesia Hamzah Haz berpulang ke rahmatullah di kediamannya di daerah Matraman Jakarta Timur. Dalam pemberitaan media, beliau terjatuh sewaktu akan melaksanakan shalat Dhuha pukul 09. 45 WIB dan menghembuskan napas terakhirnya saat itu. Pak Hamzah Haz wafat dalam usia 84 tahun.
Lahir di Ketapang, Kalimantan Barat, 15 Februari 1940, Hamzah Haz dikenal sebagai politisi negarawan dari partai politik Islam yang meniti karier dalam pengabdian panjangnya kepada negara dan bangsa. Ia tokoh politik berpengalaman luas dimulai dari lingkup lokal sampai menjadi tokoh yang berkiprah di tingkat nasional.
Hamzah Haz menempuh Pendidikan Akademi Koperasi Negara Yogyakarta Jurusan Ekonomi Perusahaan (1962), dan Fakultas Ekonomi Universitas Tanjungpura, Pontianak (1970). Pengalaman pekerjaan dan organisasi, Guru Sekolah Menengah Ketapang (1960-1962), wartawan surat kabar di Pontianak (1960-1961), Pimpinan Umum Harian Berita Pawau, Kalimantan Barat, aktivis dan pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (1962), Ketua Badan Pemeriksa Induk Koperasi Kopra Indonesia (1965-1970), Ketua Presidium KAMI Konsulat Pontianak (1968-1971), Asisten Dosen di Universitas Tanjungpura (1968- 1971), serta Anggota DPRD Tingkat I Provinsi Kalimantan Barat (1968-1971) sebelum berkiprah di level nasional.
Sebagai kader partai politik, ia terpilih sebagai anggota DPR/MPR-RI hasil Pemilihan Umum 1971 dan duduk sebagai wakil rakyat di lembaga legislatif beberapa periode mewakili Partai Nahdlatul Ulama (NU) dan seterusnya mewakili Partai Persatuan Pembangunan (PPP) setelah fusi dalam kerangka penataan politik Orde Baru.
Sewaktu menjadi anggota DPR/MPR-RI, Hamzah Haz sangat berkompeten dalam mengawal politik anggaran berimbang masa Orde Baru dan mengerti strategi mitigasi krisis APBN. Ia layak dikenang sebagai “sang penjaga APBN” yang sulit tergantikan di masa sekarang. Dalam era pemerintahan Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto, fungsi check and balance DPR terhadap Pemerintah dijalankannya dengan baik sesuai koridor sistem politik yang berlaku di masa itu.
Kendati tidak populer sebagai politisi PPP yang amat vokal, namun ia selalu kritis substantif serta loyal sebagai wakil rakyat dari partai di luar pemerintahan masa itu. Dalam masalah kebijakan keuangan negara dan APBN yang digelutinya, Hamzah Haz sering menyampaikan pemikirannya kepada publik sejak era 70 – 80-an melalui tulisan maupun dialog pembicaraan.
Hamzah Haz mengemban amanah partainya sebagai Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) periode 2003 – 2008, setelah periode kepemimpinan Buya Ismail Hasan Metareum, S.H. Di masa kepemimpinan Hamzah Haz, Partai Persatuan Pembangunan Kembali menggunakan tanda gambar Ka’bah. Tanda gambar partai warisan para ulama dari awalnya pernah diganti dengan tanda gambar bintang.
Setelah reformasi, kiprah politik Hamzah Haz bergeser dari lembaga legislatif di Senayan ke lembaga eksekutif. Ia diangkat menjadi Menteri Negara Investasi/Kepala BKPM (1998-1999) di masa Presiden B.J. Habibie, menjabat Wakil Ketua DPR-RI (1999-2001), dan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dan Pengentasan Kemiskinan (1999) di masa Presiden K.H. Abdurrahman Wahid.
Pengabdiannya kepada negara dan bangsa mencapai puncak sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia periode 2001-2004, mendampingi Presiden Megawati Soekarnoputri. Ia menjabat sebagai Wakil Presiden mulai pertengahan 2001 hingga 20 Oktober 2004. Dalam perkembangan ketatanegaraan Indonesia, Hamzah Haz merupakan Wakil Presiden “penutup” era pemilihan oleh anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), sebelum perubahan Pemilihan Presiden/Wakil Presiden secara langsung oleh rakyat pasca amandemen Undang-Undang Dasar 1945.
Proses demokrasi berdasarkan Pancasila di awal reformasi telah memberi ruang dan kesempatan kepada seorang putra Indonesia asal Ketapang yang memiliki kapasitas dan kualitas pribadinya di dunia politik bisa menjadi Wakil Presiden RI.
Ia memiliki perhatian yang besar terhadap keseimbangan antara pembangunan materil dan mental spiritual/keagamaan agar kemajuan bangsa ini tidak mengalami kepincangan. Dalam pembukaan Lokakarya Dakwah Nasional yang diselenggarakan oleh Badan Musyawarah Organisasi Islam Wanita Indonesia (BMOIWI) di Jakarta tahun 2003, Wakil Presiden Hamzah Haz dalam kata sambutannya menegaskan bahwa kita patut bersyukur karena para Pendiri Republik ini (The Founding Fathers) telah mewariskan sebuah bangsa yang besar dan memiliki kepribadian yang kuat, yakni sebuah bangsa yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa.
Lebih lanjut ia mengungkapkan ketika kita membicarakan tentang pembangunan nasional, maka setidaknya ada 4 hal yang harus mendapatkan perhatian serius dari seluruh masyarakat dan pemerintah, yaitu:
Pertama, agama harus menjadi pilar pembangunan nasional. Kedua, peningkatan kualitas pendidikan sumber daya manusia Indonesia. Ketiga, selain bidang agama dan bidang pendidikan, peningkatan ekonomi rakyat juga merupakan pilar pembangunan yang tidak kalah pentingnya. Keempat, modal nasional. Sebagai sebuah negara yang besar, harus diakui secara jujur, bahwa bangsa Indonesia belum memiliki kemandirian di dalam menentukan roda dan kebijakan perekonomian bangsa.
Pada tahun-tahun terakhir sebelum tutup usia, dalam rangkaian peringatan HUT Ke-76 Kemerdekaan RI tahun 2021 melalui kanal Youtube Sekretariat Presiden, Hamzah Haz mengatakan Indonesia harus menunjukkan identitasnya sebagai bangsa yang beragama sebagaimana tercantum dalam Pancasila. Bangsa Indonesia harus menunjukkan identitas bangsa, identitas sebagai bangsa yang beragama, ujarnya melalui video Pesan Pemimpin Bangsa. Ia mengingatkan seluruh komponen bangsa untuk melekatkan Pancasila sebagai jati diri dan kepribadian bangsa sekaligus dasar negara. Pancasila itu luar biasa, merupakan kepribadian bangsa kita yang membedakan bangsa Indonesia dari bangsa lainnya.
Menurut beliau, yang harus diperbaiki pada bangsa kita ialah kemiskinan, baik kemiskinan harta maupun kemiskinan moral. Pembangunan kualitas sumber daya manusia (SDM) dengan meningkatkan pendidikan menjadi mutlak untuk terus menerus ditumbuhkembangkan. Pendidikan harus diprioritaskan dan menjangkau seluruh rakyat. Pendidikan bukan hanya untuk yang kaya. Ia merasa prihatin dengan moral dan disiplin bangsa yang merosot.
Dalam suasana Pemilu dan Pilpres 2019, Hamzah Haz berharap siapa pun yang terpilih perlu fokus memperbaiki moral bangsa. Selain itu, peningkatan kualitas pendidikan tak boleh dikesampingkan. “Siapa pun yang terpilih harus membawa perubahan moral dan meningkatkan kualitas pendidikan,” pintanya.
Beliau mengutarakan, untuk memperbaiki moral, sebenarnya Indonesia memiliki landasannya berupa Pancasila. Utamanya, sila pertama yaitu Ketuhanan yang Maha Esa. Jika semua umat beragama menjalankan syariat agamanya masing-masing, moral bangsa akan terbentuk dengan sendirinya. Ia mencontohkan bagi umat Islam, seharusnya melakukan shalat tepat waktu, nanti moral dengan sendirinya muncul.
Salah satu legacy Hamzah Haz sebelum mengakhiri masa jabatannya sebagai Wakil Presiden RI, di antaranya ialah penanda-tanganan prasasti pembangunan Masjid Baiturrahman, Kompleks Istana Wakil Presiden RI, Medan Merdeka Selatan, Jakarta, tanggal 4 Oktober 2004.
Hamzah Haz akan dikenang bukan sekadar Wakil Presiden, tapi juga politisi negarawan yang berwawasan religius. Ia belajar dari kepemimpinan politik K.H. Dr. Idham Chalid yang lama duduk di pemerintahan, pernah memimpin partai politik PPP dan Ketua Umum PBNU dengan masa bakti paling lama. Sebagai politisi negarawan dalam era yang dekat, komitmen keumatan Hamzah Haz patut diteladani. Begitu pula komitmen nasionalnya telah teruji dalam perjalanan pengabdian sepanjang hayatnya. Salah satu ukuran kenegarawanan adalah bobot ide, gagasan dan pemikiran yang dihasilkan seseorang murni untuk kepentingan negara dan bangsa, menguasai isu-isu strategis, dan konsisten dalam garis idealisme.
Semoga Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang menerima seluruh amal ibadah dan pengabdian almarhum untuk bangsa, negara dan agama, mengampuni kesalahan dan kekurangannya serta menerima arwahnya di tempat yang terbaik.
Selamat beristirahat dengan damai Pak Hamzah Haz.

