Hamid Ahmad
“Nggih Mbah pun kulo tekadi, direstui apa tidak direstui para kiai kulo tetepmaju (Ya Mbah, sudah menjadi tekad saya direstui atau tidak direstui para kiai saya tetap akan maju jadi capres),” kata Gus Dur kepada K.H. Muslim Imampuro alias Mbah Lim. Kala itu para kiai NU menyarankan Abdurrahman Wahid agar menarik diri dari pencalonan presiden. Tapi begitulah Gus Dur, kalau punya mau sulit dihalangi. Bahkan kiai-kiai sepuh pun bagai tak kuasa mengurungkan langkahnya. Tapi, ada sejumlah kiai yang dikenal sebagai kiai-kiai khas di kalangan NU, dan pertimbangannya sering didengarkan dan dipakai oleh Gus Dur, kecuali dalam soal pencalonan itu. Berikut profil singkat beberapa dari mereka yang cukup penting.

K.H. Muslim Imampuro (Mbah Lim), w. 2012
Ini dia kiai yang banyak disebut-sebut sebagai penasihat spiritual Abdurrahman Wahid. Ketika Muktamar NU di Cipasung, dia tampil sebagai penyokong berat Gus Dur, yang mendapat tentangan keras dari pihak penguasa.
Penampilan Mbah Lim tergolong eksentrik. Suka mengenakan pakaian tentara. Kerap pula kepanya ditutupi topi bisbol. Bicaranya pun tidak jelas, tidak semua orang bisa menangkap pembicaraannya. Kelewat ekspres dan tidak jelas lafalnya. Sehingga, ke mana-mana dia didampingi penerjemah. Termasuk ketika ia memberikan sambutan. Wawancara dengannya pun dilakukan melalui seorang penerjemah.

Begitupun tingkah lakunya. Pernah seorang bekas santrinya, yang sudah sarjana dan belum juga menikah, tiba-tiba diajaknya pergi ke suatu kota. Di kota itu, mereka tiba sekitar pukul 02.00 pagi. Tapi pintu rumah seorang kiai langsung diketuk, dibuka, dan saat itu juga Mbah Lim mengajukan pinangan kepada putrinya untuk sang jejaka dan diterima. Saat itu juga, sekitar pukul 03.00 dini hari acara akad nikah dilangsungkan.
Kalangan tertentu menyebut Mbah Lim wali atau tepatnya jadzab (majdzub). Wali jenis ini dikenal memiliki perilaku yang tidak lumrah, tidak wajar.
Nama lengkap kakek berusia 70 tahun itu adalah Muslim Imampuro. Rumahnya di Dusun Sumberejo, Desa Troso, Kecamatan Karanganom, Klaten, adalah juga sebuah pesantren dengan nama yang cukup unik. Yaitu Yayasan Pondok Pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti. Kompleks pesantren seluas kurang lebih satu hektare itu terletak sekitar 500 meter dari jalan raya Yogya-Solo, di Karanganom 5 kilometer arah utara Kota Klaten. Sebuah masjid tua yang dikelilingi gedung sekolah (madrasah aliyah dan diniyah) serta tempat tinggal keluarga Mbah Lim itu memang seolah-olah menjadi saksi bisu “kebesaran” namanya.
Setiap hari banyak orang datang sowan ke rumahnya, baik dari orang kebanyakan maupun pejabat. Seperti hari itu, ketika Panji Masyarakatbertandang ke sana, tetamu datang silih berganti. Bermacam tujuan mereka. Ada yang minta didoakan agar usahanya maju, ada yang minta doa agar mendapat jodoh, ada pula yang minta agar bisa naik pangkat. “Aku bukan dukun,” tiba-tiba Mbah Lim menukas. “Kalau ingin berhasil, baca saja surah Al-Fatihah sebanyak 1.000 kali.”
Banyak orang mengenalnya sebagai orang aneh. Tak segan-segan pula ia datang ke rumah kenalannya, baik itu orang biasa maupun pejabat. Ia ketuk pintu rumah pangdam pada dini hari. Atau mengingatkan Soeharto ketika masih berkuasa lewat orang-orang yang dekat dengan kekuasaan, bahkan lewat Mbak Tutut, anak sulungnya yang suatu ketika pernah berkunjung ke rumah Mbah Lim. Kadang ia terlihat di antara para pejabat, atau tokoh terkemuka dengan pakaian seadanya, menggunakan topi pet atau baju loreng ala tentara. Suatu ketika di depan massa ia pernah mencium Megawati, yang bikin banyak kalangan bertanya-tanya: kiai kok mencium lawan jenis bukan muhrimnya?
Mengenai hal ini ia menjelaskan kepada Panji. “Mbak Mega itu pengikutnya macam-macam. Kalau mereka marah bisa runyam, makanya Mbak Mega saya suwuk (tiup dengan bacaan/mantra).

Mbah Lim yang ikut mendorong pencalonan Gus Dur sebagai presiden, setelah pernah menganjurkan Gus Dur untuk mundur. “Gus maju terus pantang mundur. Kalau ada salah-salahnya biar saya yang tanggung dosanya dunia akhirat. Karena kanan-kiri bersikeras, maka Gus Dur wajib maju menjadi calon presiden, demi Indonesia supaya tidak rusak,” katanya.
Gus Dur pun mengatakan, “Ya sudah menjadi tekad saya Mbah, untuk maju. “Jawaban Gus Dur itu disampaikan sebelum kiai khos menyampaikan keputusannya, Selasa sore, untuk menyarankan Gus Dur menjadi capres. Mbah Lim pula yang menyarankan Gus Dur agar memilih Megawati menjadi wakil presiden. “Waktu itu Solo rusuh karena PDI-P ngamuk, saya mengontak Gus Dur dari korem Solo. Yang terima Hatta Radjasa dari PAN. Saya pesan buat Gus Dur dan Amien Rais agar Megawati saja yang menjadi wakil presiden,” kata Mbah Lim.
Mbah Lim lahir di Desa Pengging, Boyolali, Jawa Tengah. Namun ia dibesarkan di Solo, sekitar Palugungan, Pasar Kliwon. Konon Mbah Lim adalah salah seorang keturunan Sunan Pakubuwono IV (Raja Surakarta). Pendidikan formal yang pernah ditempuhnya adalah Madrasah Mambaul Ulum Solo. Selain itu, berbagai pesantren pernah disinggahinya meskipun sebentar. Namun seorang ulama besar di Kota Solo Pada masanya Kiai Siraj, adalah salah seorang guru yang menjadikan Mbah Lim muda sebagai murid kesayangannya. Mbah Lim muda juga dikenal sebagai penghafal Al-Quran dan ahli kitab klasik.
Mbah Lim mukim di Karanganom, Klaten, sejak 1959. Setahun kemudian ia menikah dengan Saadah, gadis Kalioso, Sragen, 1960. Waktu itu Mbah Lim lebih banyak berdakwah ke Jawa Timur, Malang, Singosari, Kediri, sehingga baru tahun 1970-an ia merintis pondok pesantrennya. Tapi sekali lagi, pondok itu kurang terurus karena Mbah Lim tetap lebih banyak di luar. Sekarang pun, setelah madrasah berdiri 1994, pengelolaan pesantren sehari-hari ditangani anak-anaknya.
Gus Dur bertemu dengan Mbah Lim pertama kali pada 1983. “Malam itu malam Jumat kliwon. Mbah Lim langsung mengajak Gus Dur ziarah ke makam Hadratusy Syekh Hasyim Asy’ari. Sampai di Jombang pukul 03.00 dini hari.” Di makam itulah Mbah Lim menegaskan, “Kamu jangan mengaku sebagai cucunya Mbah Hasyim kalau tidak bisa ikut mengatur negara.”
Setahun kemudian, menjelang muktamar di Situbondo 1984, ada semacam tawaran ke Gus Dur oleh Mbah Lim untuk mendirikan Negara Kiai Barokah atau NKB tapi bukan PKB. (Gara-gara ide ini, Mbah Lim sempat dituduh mau mendirikan negara Islam). Atas usulan itu, Gus Dur bilang butuh waktu 50 tahun. Mbah Lim bilang 15 tahun. Dengan tiga periode jadi ketua PBNU. Nah tepat 15 tahun dari khitah, dan Gus Dur memimpin NU tiga periode, dan benar dia pun menjadi Presiden ke-4 Republik Indonesia.
K.H. Muslim Rifa’i Imapuro wafat di Rumah Sakit Islam (RSI) Klaten pada 24 Mei 2012 dalam usia 91 tahun. Ia dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti, berdampingan dengan makam istrinya.
Kepada para santrinya, Mbah Liem selalu mewajibkan menyanyikan Indonesia Raya sebagai lagu pembuka setiap kegiatan. Dia juga peduli terhadap kerukunan antarumat beragama. Dia merintis Joglo Perdamaian Umat Manusia Sedunia di kompleks pesantren. Karena itu pula, seperti halnya Gus Dur, kiai yang pernah memboncengkan Iwan Fals dengan sepeda motornya ini sering disebut tokoh pluralis.
Konon, slogan “NKRI Harga Mati”, yang kini kerap diteriakkan oleh kalangan NU di berbagai kegiatan, berasal dari Mbah Lim. Dalam berbagai kegiatan di pondok, pertemuan kiai maupun acara-acara umum, Mbah Lim selalu meneriakkan slogan “NKRI Harga Mati”. Menurut putranya, Saifudin Zuhri, slogan itu mulai didengungkan oleh ayahnya sejak sekitar tahun 1994-1995 saat pondok pesantren berdiri.

Saifudin mengungkapkan bahwa Mbah Liem pernah menulis, “Dari mana pun kebangsaannya, yang ingin mengganti dasar negara Pancasila,saya, dhoif muslim (Mbah Lim) wajib mengingatkan, mengingatkan.”
Kecintaannya pada NKRI, salah satunya ditunjukkan Mbah Liem saat berpidato yang tema utamanya selalu tentang kebangsaan. Dalam setiap acara, Mbah Liem selalu mengatakan “NKRI Pancasila Aman Makmur Damai Harga Mati.”Di pesantrennya setiap setelah salat berjamaah, para santri diwajibkan membaca doa untuk umat Islam, bangsa, dan negara Indonesia yang di dalamnya terselip doa “NKRI Pancasila Aman Makmur Damai Harga Mati.” Bersambung
*Ditulis bersama Iqbal Setyarso berdasarkan laporan Abdul Rahman Ma’mun(Yogyakarta).
Editor: A. Suryana Sudrajat.
Sumber: Panji Masyarakat, 1 Desember 1999.