Aktualita

Ambruknya Bangunan Pesantren Al Khoziny, Pelajaran Pahit jangan sampai Terulang

Seperti kata peribahasa mujur tidak bisa diraih, malang tidak bisa ditolak. Pondok Pesantren Al Khoziny yang berlokasi di Jalan Khr. Abbas I No.18, Buduran, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, pada Senin, 29 September 2025 lalu sekitar jam 15.00 WIB ambruk. Data terakhir dari BNPB mengungkapkan 52  orang meninggal hingga hari ketujuh pencarian, 5 Okober 2025.

Rincian jumlah korban pencarian selama sepekan sebanyak 156 orang, yang selamat 104 orang, yang meninggal 52 orang, termasuk temuan bagian tubuh yang terpisah.

Korban baru yang ditemukan sebanyak 12 orang di bangunan reruntuhan lantai empat mushalla.Menurut Mayjen TNI Budi Irawan, jenazah yang paling banyak ditemukan di lantai satu sisi utara. Data sementara diperkirakan masih ada 26 orang yang tertimbun di reruntuhan.

“Ini data dari pihak pondok pesantren, itu akan terbukti akurat bila seluruh pembersihan telah mencapai titik lantai dasar yang menjadi akhir pencarian,” jelas Budi Irawan, Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB.  Ia menambahkan, pembersihan reruntuhan dan puing sudah mencapai 60 persen.   

Kejadian naas yang menimpa Pesantren Al Khoziny  pada saat  pembangunan gedung pesantren sedang berlangsung. Saat itu sedang dilakukan pengecoran, diduga tiang penyangga tidak tahan memikul beban pengecoran sehingga terjadilah ambruk hingga lantai dasar.  Bersamaan pada waktu itu para santri yang menjadi korban sedang melakukan ibadah shalat ashar. Jumlah santri yang berkumpul di lantai bawah sekitar 100 orang, mayoritas remaja laki-laki.  Tim  yang melakukan pencarian juga sempat menemukan jasad korban yang sudah terpotong bagian tubuhnya antara lain kaki kanan, telapak kaki dan pinggul. Potongan tubuh itu kemudian diidentifikasi di RS Bhayangkara, Surabaya.

Santri yang meninggal di antaranya Maulana Alfan Abrahahimafic (15), Mochammad Mashudulhaq (14) asal Surabaya, dan Muhammad Soleh (22) asal Bangka Belitung.

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Al Khoziny Buduran, KH Abdus Salam Mujib, pembangunan gedung pesantren Al Khoziny sudah berlangsung kurang lebih 10 bulan. Dan pengecoran yang dilakukan merupakan tahap terakhir. Gedung terdiri dari tiga lantai plus tambahan sebuah dek di puncaknya yang dilakukan pengecoran. “Pengecoran dilakukan dari pagi hari mungkin memakan waktu empat sampai lima jam selesai,” ujarnya.

Sebelum kasus gedung Pesantren Al Khoziny yang runtuh, pada 7 September 2025 sebuah bangunan majelis taklim berlantai 2 di Ciomas, Bogor, juga rubuh. Pada saat itu sedang berlangsung acara peringatan Maulud Nabi. Diperkirakan bangunan tidak kuat menahan jumlah jamaah yang melebihi kapasitas. Sebanyak 50 orang tertimpa material bangunan hingga mengalami luka-luka, dan empat orang meninggal dunia yang semuanya kaum ibu.

Peristiwa rubuhnya bangunan pesantren dan bangunan keagamaan ini merupakan pelajaran berharga yang perlu dicermati. Di Indonesia jumlah pesantren mencapai jutaan berikut santri dan pendidiknya yang harus terjamin keselamatannya.

Tentu tidak terbayangkan berapa besar kerugian baik fisik material, apalagi spiritual dan sumber daya manusia yang tidak terhitung kerugiannya bagi bangsa, negara dan agama kalau peristiwa ini terulang lagi. Harapannya, kualitas dan kelayakan bangunan yang bakal didirikan harus lebih teliti diperhatikan. Ini sebuah pelajaran pahit dan getir.    

Arfendi Arif

Arfendi Arif, Redaktur Panji Masyarakat, pengasuh Majalah Inhouse Magazine, dan penulis buku dan biografi. Tinggal di Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, Banten.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button