Di bulan Zulhijjah yang mulia ini jutaan hamba Allah berduyun-duyun mengunjungi rumah Allah untuk menunaikan ibadah haji sebagai penyempurna keislaman seorang Muslim.
Haji adalah ibadah yang komplit karena bukan hanya dilakukan oleh badannya tetapi juga hartanya dan kalbunya. Karena itu Ibadah haji disebut ibadah badaniyah, ibadah qolbiyah sekaligus ibadah maaliyah.
Prosesi ibadah haji diawali dari miqat. Miqat artinya batas tempat dan waktu memulai haji. Titik berangkat bertempat di Birr Ali atau Zulhulaifah. Di sini kita berganti pakaian. Seluruhnya berwarna putih. Laki-laki hanya menggunakan dua helai kain putih yang dililitkan ke tubuhnya tanpa sedikitpun ada jahitan. Wanita seluruh tubuhnya tertutup rapat kecuali muka dan telapak tangannya. Di sini kita berniat Ihram artinya kita siap mengharamkan yang menjadi larangan Ihram.
Perlambang Keangkuhan
Pakaian sering menjadi perlambang keangkuhan seseorang. Banyak orang mendemonstrasikan status sosial dengan mengenakan pakaian mahal, rancangan ahli fashion bernilai fantastis, dengan harga bahan yang tidak dapat dijangkau orang kebanyakan. Lalu pakaian pun bisa menjadi batas palsu yang menyebabkan garis demarkasi. Muncullah egosentrisme ”inilah aku” dan bukan ”inilah kita”. Dengan pakaian Ihram keangkuhan itu dikubur dalam-dalam. Kita bisa sejajar dengan semua golongan dan status manusia. Pejabat sederajat dengan rakyat, si kaya sederajat dengan si papa, raja selevel dengan hamba sahaya dan kaum cerdik pandai setara dengan kaum awam dan rendahan. Semua sama di hadapan sang Maha Pencipta. Yang membedakannya hanya satu yaitu pada ketakwaannya. ”Inna akramakum indallahi atqaakum”
Sesampai di Makkah kita menuju pusat Kiblat dunia bernama Ka’bah. Kabah laksana matahari sebagai pusat tata surya yang dikelilingi planet-planet. Kita saksikan jutaan manusia mengelilinginya bak bintang-bintang yang beredar dalam orbitnya. Kabah melambangkan keabadian Allah, sedang manusia-manusia yang bergerak mengelilinginya melambangkan kesementaraan ciptaan-Nya. Itulah simbol bahwa posisi manusia akan berpindah dari alam satu ke alam lainnya. Dulu kita tidak pernah ada, lalu berada di alam rahim ibu kita, kemudian lahir ke dunia menjadi bayi, lalu berubah menjadi anak-anak, remaja, dewasa, tua, lanjut usia dan kembali menjadi tidak ada seperti semula; sedangkan Allah tetap dalam keabadian-Nya, kekekalan-Nya.
Selesai tujuh kali thawaf, kita menuju tempat sa’i. Sa’i adalah berjalan cepat antara Shafa dan Marwa sebanyak tujuh kali. Apa filosofi Sa’i? Sa’i artinya usaha atau ikhtiar. Sa’i melambangkan bahwa manusia tidak boleh berdiam diri, ia harus gesit, cekatan, terus bergerak sampai kita mendapatkan sesuatu yang kita tuju. Dalam hidup tidak ada yang bisa dicapai kalau kita hanya berdiam diri, berpangku tangan, menunggu bintang jatuh dari langit, atau menunggu emas menyembul dari bumi.
Harimau akan tetap lapar kalau dia hanya mengurung diri di sarangnya. Dia harus bergerak cepat kilat mengejar mangsanya sampai berhasil diterkam di tangannya. Harimau itu telah menjalankan sa’i, menjalankan ikhtiar, mencari takdir tidak mati kelaparan
Seekor burung terbang jauh di pagi hari dalam keadaan perut kosong tidak pernah ia pulang dengan perut kosong pula. Si burung pun telah menjalankan sa’i, berusaha, berikhtiar untuk mempertahankan hidupnya. Itu pula yang dilakukan siti Hajar istrinya Nabi Ibrahim a.s., ketika harus berlari-lari mencari seteguk air demi mempertahankan hidup sang putra tercintanya, Ismail a.s.
Simbol Pikiran Buruk
Setelah putaran ketujuh di bukit Marwah, kita menggunting rambut, seberapa helai saja. Bercukur adalah simbol membuang pikiran-pikiran buruk yang ada dalam otak kita, otak kotor, otak mesum, gagasan jahat, pola pikir sesat, khayalan kotor, senang melihat penderitaan orang lain atau menderita melihat kesenangan orang lain.
Gunakanlah otak kita untuk berfikir menciptakan kreativitas-kreativitas yang berguna untuk orang banyak, bukan seperti yang kita alami sekarang dengan adanya media sosial, orang bisa dengan begitu mudahnya mencaci, menghujat, menciptakan konten-konten yang merusak dan terlebih memanfaatkannya untuk melakukan kejahatan yang disebut cyber crime. Karena itu bijaklah dalam bermedia sosial sebab apa yang kita lakukan selama di dunia akan terekam ”jejak digital” amal perbuatan kita
Ketika hari mulai memasuki tanggal 8 Zulhijjah jamaah haji bersiap-siap menuju padang Arafah. Jamaah akan menjalani wukuf. Apa makna dan filosofi wukuf? Wukuf artinya berhenti. Setelah bergerak saat Thawaf dan Sa’i saatnya jamaah haji kini berhenti sejenak.
Hidup adalah gerak. Gerak akan berakhir dengan penghentian. Dan penghentian terakhir kita adalah kematian. Semua makhluk tidak satupun yang mampu menghindarinya. Allah berfirman: ”Katakanlah bahwa kematian yang kamu lari daripadanya sesungguhnya ia pasti akan menemui kamu.” (Q.S. Al-Jumu’ah: 10).
Arafah adalah miniatur padang Mahsyar. Kita semua akan dikumpulkan di padang Mahsyar akhirat dan mempertanggung jawabkan segala perbuatan kita. Kita punya mulut, tapi hari itu terkatup rapat, karena mulut adalah lubang tempat keluarnya kebohongan-kebohongan. Yang bersaksi waktu itu bukanlah mulut. Kita punya mata saat itulah ia bersaksi, kita punya telinga saat itu ia mengungkapkan pernyataannya, kita punya kaki di padang itu ia berterus terang kemana ia pernah melangkah, kita punya tangan saat itulah ia terbuka mengeluarkan testimoninya.
Tangkaplah makna wukuf di Arafah sedalam-dalamnya sebagai refleksi bahwa kita kelak akan memanen hasil perbuatan kita ketika menjalankan peranan di panggung dunia. Amal kebaikan sekecil atom sekalipun akan diketahui.
Demikian pula perilaku buruk yang disembunyikan sekecil atom sekalipun pasti akan ditayang-ulang dan diberi balasannya tanpa pandang bulu. Karena itu selama badan kita diberi kekuatan tanamlah kebaikan semaksimal mungkin untuk bekal keselamatan kita sebelum dijemput malaikat maut.
Setan dalam Diri
Sesampai di Mina, kita berangkat menuju jamarat untuk melempar di tiga tempat yaitu jamaratul ula, jamaratul wustha dan jamaratul aqabah. Prosesi melempar jumrah adalah simbol permusuhan abadi kepada syetan laknatullah.
Setan bisa menggoda dan mengobrak-abrik iman kita sehingga iman kita bisa berguncang karenanya. Seorang pejabat yang hidupnya sudah dipenuhi segala kebutuhannya dengan fasilitas negara bisa dibisiki syetan untuk berbuat yang merugikan negara, seorang pemimpin bisa dihasut syetan untuk merampas hak rakyat banyak dan berlaku zalim kepada mereka, pedagang bisa dibisiki syetan sehingga ia bisa berlaku curang dalam menimbang barang yang dijualnya sehingga tiap hari ia menabung api neraka dari perilaku curangnya. Karena itu lemparlah setan yang ada dalam diri kita sekeras-kerasnya agar kita terbebas dari bisikan dan provokasinya, seperti jamaah haji melempar jamarat.
Usai haji para jamaah kembali pulang ke tanah air dengan harapan membawa oleh-oleh berupa kebaikan demi kebaikan, kemuliaan akhlak, ketinggian martabat, kesucian kalbu dan gelar haji mabrur. Lalu bangkitkanlah negeri ini bernama Indonesia menjadi negeri yang bersih, negeri yang baldatun thoyyibatun wa robbun ghafur, bebas dari kerusakan, kemaksiyatan, bencana, penyelewengan dan persekongkolan jahat.
Kurban Simbol Kecintaan
Kita yang berada di negeri sendiri disunnahkan menyembelih hewan kurban sebagai pertanda ketaatan, dan ketakwaan kita. Allah tidak akan melihat jasad dan harta kita, Allah juga tidak akan melihat daging dan darah hewan yang kita sembelih tetapi keikhlasan dan ketakwaan kita. Allah berfirman: ”Tidak akan sampai kepada Allah daging dan darah hewan qurban itu tetapi yang sampai kepada Allah adalah ketaqwaan kamu sekalian.” (Q.S. Al-Hajj 37)
Berkurban adalah simbol ketaatan dan ketakwaan kita kepada Allah. Seorang mukmin ketika mendengar panggilan Allah dan Rasul-Nya ia hanya mengatakan sami’na wa atho’na (kami mendengar dan kami mentaati). Berqurban juga simbol rasa syukur kita kepada Allah karena Allah telah memberi nikmat yang begitu besar sehingga kita patut mensyukurinya dengan menyembelih hewan qurban.
Berkurban adalah simbol cinta kepada Allah, karena ciri orang yang mencintai Allah adalah kesiapan berqurban dengan apa yang kita miliki. Berqurban juga adalah wujud kepedulian sosial kepada para kaum duafa, fuqara dan masakin. Kata Nabi, bukan seorang mukmin orang yang bisa tidur kekenyangan sementara tetangganya tidak bisa tidur karena kelaparan. Dan yang tidak boleh dilupakan berqurban adalah juga simbol kesiapan kita membunuh nafsu kebinatangan yang ada dalam diri kita seperti keserakahan, kebuasan, tidak punya rasa malu, dan tidak tahu berterima kasih.
Semoga Allah kjadikan kita seperti Nabi Ibrahim a.s. yang keimanan dan ketauhidannya tidak goyah hanya karena seorang anak yang begitu dicintainya tetapi harus dikorbankan. Dan semoga pula Allah menjadikan hati kita selalu siap mengikuti panggilan Allah seikhlas Nabi Ismail a.s. menerima perintah untuk diqurbankan demi meneguhkan keimanan dan ketaatan. Amin. Yaa rabbal ’aalamiin

Penulis: Prof. Dr. Didin Saepudin, M.A., Guru Besar Universitas Islam negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta; Rektor Universitas Ibn Khaldun Bogor, periode tahun 2004-2008; Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Bogor Masa Bakti 2010-1015
Sumber; Khotbah Idul Adha Masjid Darul Arqom, Pamulang, Tangerang Selatan, Senin, 17 Juni 2024 M/10 Zulhijjah 1445 H

