Cakrawala

Kolom Ganjar Kurnia: PENYADAPAN

Dahulu yang disadap itu pohon karet, pohon aren, dan pohon kelapa. Sekarang manusia pun ikut disadap. Hebatnya, kalau pohon karet disadap keluar getah, pohon aren dan pohon kelapa keluar nira, sekarang orang menyadap untuk mendapatkan sesuatu yang mungkin jauh lebih manis daripada gula: rahasia.

Bedanya, penyadap pohon harus bangun subuh, membawa pisau, menoreh batang, lalu menunggu getah menetes ke mangkuk. Penyadap modern cukup duduk di ruangan ber-AC, menekan beberapa tombol, lalu menunggu orang lain keceplosan.

Penyadap pohon juga harus berhati-hati. Kalau torehan terlalu dalam, pohonnya bisa rusak. Tetapi dalam penyadapan manusia, semakin dalam rahasia yang diperoleh, konon semakin berharga hasil panennya.

Lebih menarik lagi, dunia penyadapan tampaknya semakin demokratis. Yang disadap, tidak pandang bulu, tidak mengenal jabatan, tidak membedakan golongan. Orang yang sedang membicarakan kebijakan negara, upah buruh, strategi organisasi, bahkan rencana reuni, semuanya berpotensi juga mendapat perhatian.

Inilah mungkin satu-satunya bentuk pemerataan yang benar-benar berhasil. Semua mempunyai kesempatan yang sama untuk didengarkan, tanpa harus meminta.

Yang lebih menggelitik, penyadapan bisa saja dilakukan oleh orang-orang yang tugas sehari-harinya justru menjaga keamanan. Ada yang pundaknya dihiasi bintang. Bukan bintang film, bukan pula bintang dangdut.

Mungkin karena terlalu rajin bekerja. Setelah semua penjahat diawasi, ternyata masih banyak saluran telepon yang belum diperiksa.

“Nomor siapa ini?”

“Orang penting, Pak.”

“Yang ini?”

“Anggota Dewan.”

“Kalau ini?”

“Pengurus LSM.”

“Bagus! Jangan ada yang merasa dianaktirikan!”

Tentu semua dialog itu hanya khayalan. Jangan buru-buru disadap.

Saya jadi berpikir, kalau penyadapan semakin meluas, mungkin kelak kita tidak memerlukan lagi lembaga survei. Untuk mengetahui pendapat masyarakat, cukup mendengarkan percakapan telepon atau isi WA nya. Bahkan rapat pun tidak perlu mengundang semua peserta. Cukup menyadap masing-masing. Hasilnya mungkin lebih jujur daripada notulen rapat resmi. Sebab dalam rapat orang sering mengatakan, “Saya setuju!” Tetapi setelah pulang, ia menelepon kawannya dan berkata, “Sebenarnya saya tidak setuju!” Nah, kalimat kedua itulah yang bisa masuk laporan.

Persoalan menjadi lebih menarik, ketika yang diperiksa adalah penyadap yang informasinya disadap. Mereka diperiksa oleh bawahan atau temannya, yang pada awalnya lupa atau mungkin dianggap tidak perlu untuk disadap. Pening ah!.

Penulis: Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia, DEA, akademisi dan budayawan, pernah menjabat rektor Universitas Padjadjaran, Bandung, periode 2007 – 2015.

Ganjar Kurnia

Akademisi dan budayawan, pernah menjabat rektor Universitas Padjadjaran, Bandung, periode 2007 - 2015.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button