Cakrawala

Kolom Ganjar Kurnia: KIPAS ANGIN

Di sebuah desa yang belum terbaca oleh Google Maps, kipas angin sedang mengikuti rapat koperasi. Ia duduk di kursi paling depan, mengenakan dasi merah, kemeja putih, dan tiga baling-baling yang tampak sangat nasionalis. Setiap ketua rapat berkata, “Demi kesejahteraan rakyat,” kipas itu berputar ke kanan. Ketika bendahara menyebut angka triliunan, ia berputar ke kiri. Saat seorang anggota bertanya dari mana uangnya, kipas berhenti mendadak. Ruangan langsung panas.

“Kenapa berhenti?” tanya ketua.
“Saya menunggu petunjuk teknis,” jawab kipas.

Sejak itu masyarakat sadar bahwa kipas angin bukan lagi alat rumah tangga. Ia telah naik pangkat menjadi instrumen pembangunan nasional. Dahulu tugasnya hanya mengusir gerah, sekarang ia diharapkan menggerakkan ekonomi desa, memperkuat ketahanan pangan, membuka lapangan kerja, menjaga stabilitas harga, dan mengibaskan kritik dari telinga pengurus koperasi.

Kabar jutaan kipas angin bernilai triliunan rupiah pun beredar seperti angin pancaroba. Konon, kipas-kipas itu bukan kipas biasa. Mereka memiliki tiga tingkat kecepatan. Kecepatan pertama untuk mengusir udara panas. Kecepatan kedua untuk mengusir pertanyaan kritis. Kecepatan ketiga untuk menerbangkan dokumen sampai tidak diketahui lagi siapa yang menandatanganinya. Tombol “swing” berfungsi menggerak-gerakkan tanggung jawab. Baling-balingnya berputar cepat, tetapi tanggung jawabnya tetap berada di tempat yang tidak diketahui.

Di warung kopi, warga mulai menghitung.
“Kalau satu kipas harganya sejuta, memang mahal,” kata seorang warga.
“Mungkin bisa membaca laporan keuangan,” jawab yang lain.
“Atau menghasilkan angin sekaligus kuitansi.”
“Mungkin pakai kecerdasan buatan.”
“Kecerdasan siapa?”
“kecerdasan yang punya gagasan.”

Seorang petani yang sejak tadi diam berkata bahwa sawahnya tidak memerlukan kipas angin. Sawah membutuhkan air, pupuk, benih, jalan, pasar, dan harga gabah yang selalu menjadi puisi sedih setiap musim panen. Namun pendapat petani dianggap kurang akademis karena tidak disampaikan melalui power point.

Datanglah seorang konsultan membawa tiga puluh tiga slide (sesuai pasal koprasi di UUD 1945). Ia menjelaskan bahwa kipas memiliki hubungan strategis dengan pengentasan kemiskinan: Angin menciptakan kesejukan. Kesejukan menciptakan kenyamanan. Kenyamanan meningkatkan produktivitas. Produktivitas menaikkan pendapatan. Pendapatan memperkuat koperasi. Kesimpulannya: membeli kipas berarti mensejaterakan rakyat kecil.

Peserta rapat bertepuk tangan. Petani tadi ikut mengangguk, bukan karena memahami teori, tetapi karena mengantuk terkena angin.

Lalu, kipas anginpun menjadi benda filosofis dalam politik. Ia mengajarkan bahwa bergerak belum tentu pergi ke mana-mana. Baling-balingnya bekerja keras, tetapi posisinya tetap. Mungkin seperti program pembangunan: rapatnya bergerak, anggarannya bergerak, pejabatnya bergerak, slogannya bergema, tetapi petani tetap meminjam uang ke rentenir untuk membeli pupuk.

Ketika isu pengadaannya kemudian dipersoalkan, kipas menjadi gelisah. Ia merasa tidak pernah mengajukan proposal, tidak menentukan spesifikasi, tidak membuat kontrak, bahkan tidak punya rekening bank. Manusialah yang merancang anggaran, katanya. Manusialah yang menandatangani. Tetapi setiap ada keganjilan, benda-benda selalu lebih dahulu terkenal.

Kipas pun kembali berputar. Ia meniup wajah-wajah yang berkeringat karena gugup, menggoyangkan tumpukan dokumen, dan membuat tirai berkibar seperti bendera kampanye. Mungkin itulah fungsi kipas angin dalam politik: bukan mendinginkan ruangan, tetapi menciptakan kesan bahwa sesuatu sedang bergerak. Walaupun rakyat tidak pernah benar-benar tahu, siapa yang menggerakkan, apa yang diterbangkan, dan mengapa tagihan akhirnya selalu datang kepada mereka.

Koperasi sebenarnya lahir dari gagasan sederhana: orang-orang kecil berhimpun agar tidak terus kecil. Namun ketika masuk ke kantor pemerintah, gagasan sederhana sering merasa malu. Ia lalu diberi logo, seragam, aplikasi, kendaraan dinas, meja rapat, studi banding, konsultan, kipas angin, yang akhirnya koperasi belum beroperasi, tetapi perlengkapannya sudah jadi bancakan.

Ganjar Kurnia

Akademisi dan budayawan, pernah menjabat rektor Universitas Padjadjaran, Bandung, periode 2007 - 2015.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button