Minat untuk menjadi seorang pakar dan berpikir secara akademis rupanya telah menjadi talenta Prof. Dr. Abrar Dt. Gampo Alam. Bakat itu telah terlihat benihnya ketika ia masih duduk di bangku Thawalib Padang Panjang.
Dengan potensi dan kecenderungan positif tersebut tidak heran kalau saat ini Prof. Abrar dikenal sebagai seorang akademisi, pakar, pengamat politik, yang cukup kondang di kawasan Sumatera Barat, baik di kalangan kampus maupun pemerintahan. Terutama dalam perhelatan demokrasi seperti pilkada yang memilih gubernur maupun bupati, Abrar adalah narasumber yang sering diminta pencerahannya.
Abrar, alumni Fakultas Syariah UIN Imam Bonjol Padang, sekarang menjabat Wakil Dekan I Fakultas Syariah di almamaternya. Jabatan ini makin menguatkan pengakuan masyarakat bahwa ia adalah pakar yang handal dan akademisi yang mumpuni.
Lahir di Balingka, Bukittinggi, Sumatera Barat, 8 Agustus 1974, Abrar menamatkan sekolah dasar di tanah kelahirannya. Ia lalu melanjutkan ke Thawalib Padang Panjang pada 1987. Sebuah perguruan Islam yang dikenal telah menelorkan banyak ulama besar dan ternama.
Menurut pengakuannya, pilihannya memasuki Thawalib karena dorongan kedua orangtuanya. Abrar sempat tegang dengan mereka, karena pilihan sekolah ini. Maklumlah pada waktu itu masih ada anggapan kuat di masyarakat Nagari Balingka, bahwa belajar di sekolah agama atau pesantren tidak punya prospek untuk memasuki lapangan kerja. Yang dianggap cepat dapat kerja adalah lulusan sekolah umum seperti SMEA dan STM atau SMK sekarang.
Namun, kenyataan tersebut tidak membuat Abrar patah arang. Buktinya, dia meraih ranking atau juara 1 pada tahun pertamanya di Thawalib. Bahkan, ketika duduk di kelas II karena nilainya bagus ia langsung meloncat ke kelas IV. Thawalib Padang Panjang memang menerapkan sistem akselerasi, yaitu siswa yang nilainya bagus bisa meloncat satu kelas. Dan, Thawalib Padang Panjang waktu itu menempuh pendidikan 7 tahun, pertama setingkat SMP (tsanawiyah ) disebut thawalib. Ini sampai kelas IV. Kemudian satu lagi setinggkat SMA (aliyah). Dimulai dari kelas 5 dan disebut Kulliyatul Ulum Islamiyah
“Sebenarnya dari kelas IV saya bisa meloncat ke kelas VI, namun tradisi di Thawalib Padang Panjang kalau sudah kelas V itu adalah inti-inti pelajaran. Jadi saya tidak mengambil kelas akselerasi. Walaupun saya sampai kelas VII, saya tempuh dalam masa 6 tahun,” katanya. .
Ketika duduk di kelas VII Abrar mengikuti program beasiswa tes pengiriman santri Thawalib Padang Panjang untuk melanjutkan pendidikan ke Madinah, Arab Saudi. Lagi-lagi Abrar menunjukkan prestasinya, dan lulus bersama tiga orang santri lainnya. Sayangnya, Abrar terkendala oleh biaya dan prosedur pengurusan untuk berangkat yang tidak mudah, sehingga ia gagal berangkat ke kota suci di Arab Saudi ini.
“Pada waktu itu saya tidak mengerti prosedur mengurus persyaratan yang cukup banyak. Misalnya, ijazah harus di-muadalah (disamakan) ke Jakarta. Sedangkan saya cuma mengurus surat nikah orang tua. Dan biaya waktu itu sekitar Rp75.000. Kata orang tua, wah cukup besar ini. Uangnya dari mana. Sejak itu akhirnya, urusan ini tidak dilanjutkan. Dan saya gagal belajar ke Madinah,” kenang Abrar.
Setelah gagal berangkat ke Madinah, Abrar merancang untuk kuliah di IAIN (sekarang UIN).Sunan Kalijaga Yogyakarta Bersama-sama temannya sebanyak 15 orang ia mengikuti tes masuk, namun nasib belum mujur, seluruhnya tidak lulus. “Sebenarnya orangtua tidak setuju saya kuliah di Jogja. Katanya, buat apa jauh-jauh, cukup di sini saja, tapi saya setengah memaksa. Akhirnya, gagal juga,” ungkapnya.
Gagal masuk IAIN Yogyakarta, ia masih punya pilihan terakhir yaitu IAIN Iman Bonjol Padang. Ia mengambil Jurusan Peradilan Agama di Fakultas Syariah. “Sebenarnya, saya juga tidak mengerti jurusan ini. Hanya mendengar cerita teman kalau jurusan peradilan agama bisa jadi hakim dan tunjangannya besar. Hanya itu yang terpikir, dulu kalau sekolah tujuannya dapat kerja dan bisa membantu orangtua. Tidak ada idealisme macam-macam,” terangnya.
Abrar menyelesaikan kuliah tepat waktu. Selesai tahun 1998. Tentu ada masa sulit dan dukanya juga semasa kuliah, di antaranya ketika masih dalam belajar tersebut, orangtuanya menderita sakit dan usaha mengalami kemunduran.
Ayah Abrar namanya Afni Sutan Pamuncak. Suku Koto Kampuang Limo Jawo jorong Koto Hilalang, Nagari Balingka. Profesi sebagai supir angkutan di Kota Bukittinggi. Ibu bernama Ismar suku Sikumbang, Kandang Kubang, Koto Hilalang, Nagari Balingka, Kec. IV Koto, Bukittinggi. Profesi sebagai pembuat kue dan penjahit kain kasur.
Waktu masih usia SD Abrar sudah terbiasa bekerja membantu orangtuanya. Di antaranya mengantar kue dagangan ke pasar dan membantu memarut kelapa. Pada saat kuliah ia juga membantu pemasaran kue sampai ke tempat yang jauh dan tidak terjangkau oleh orangtuanya, yaitu ke Payakumbuh, dan membantu membeli barang sampai ke kota Padang. Di sela-sela perjalanan tersebut ia menggunakan waktu untuk belajar dengan membaca buku.
Aktivis Kampus
Dalam masa kuliah Abrar tidak hanya fokus belajar. Ia tipe mahasiswa aktivis yang aktif dalam kegiatan intra-kampus dan organisasi ekstra kampus. Di intra kampus ia pernah menjabat Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan, Wakil Ketua Senat Mahasiswa IAIN, dan aktif di organisasi ekstra kampus yaitu di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), sebuah organisasi mahasiswa Islam moderen terbesar yang melahirkan banyak tokoh intelektual.
Yang mendorong Abrar aktif di organisasi ekstra maupun intra, karena kurang adanya kompetisi untuk belajar. Motivasi tidak tumbuh karena materi perkuliahan di IAIN dinilai rendah. “Bagi kita lulusan pesantren ada beberapa pelajaran yang terlalu tendah. Misalnya, Sejarah Hukum Islam atau Tarikh Tasyri’, kami di kelas IV Thawalib sudah belajar, sedang di IAIN baru pada semester III dipelajari. Saya belajar buku L. Stoddard, Sejarah Kebudayaan Islam baru di S 2, sedangkan di Thawalib sudah dipelajari di kelas VI. Jadi, mengulang pelajaran terlalu jauh, dan tanpa belajar kita sudah bisa,” ujarnya.
Menurut Abrar, ada beberapa dosen tertentu yang kalau belajar dengannya baru bersemangat dan termotivasi. “Misalnya Pak Amir Syarifuddin (mantan Rekton IAIN Iman Bonjol), dia memang dosen hebat. Kalau dia masuk kami mendapat sesuatu yang baru,” imbuhnya.
Asisten Dosen dan Dagang Kue
Pada 1998 Abrar berhasil menyelesaikan kuliahnya. Setelah itu ia mengikuti tes untuk menjadi asisten dosen. Ia lulus setelah melalui tiga tahapan dan diuji langsung oleh Dr. Amir Syarifuddin. Abrar mengajar mata kuliah Sejarah Peradilan Agama, Tarikh Tasyri’i, Hadist Ahkam, Tafsir Ahkam dan Filsafat Hukum.
Ketika telah menjadi asisten dosen ini, ibunya menderita sakit. Akhirnya ia terpaksa mengajar sambil meneruskan usaha dagang kue yang telah dirintis ibunya. Untuk itu, pada hari tertentu ia terpaksa pulang pergi Padang-Bukittinggi. Hal ini dijalaninya selama 2 tahun.
Pada tahun 2000 Abrar melanjutkan pendidikan S 2. Berhasil diselesaikan tahun 2003. Dan, pada tahun ini juga dibuka lowongan menjadi dosen tetap IAIN. Ia ikut tes. Dan, pada November 2003 keluar pengumuman ia lulus sebagai PNS. Dengan demikian ia menjalani asisten dosen selama 5 tahun. Setahun setelah lulus S2 ibunya meninggal dunia pada tahun 2004. Sedangkan ayahnya meninggal.pada tahun 2011. Dalam hidup rupanya kegembiraan dan kesedihan datang silih berganti.
Sebagai dosen tetap Abrar mengajar mata kuliah Politik Hukum Islam, Politik Hukum, Ilmu Politik I-II, Perkembangan Politik Hukum Islam di Indonesia , Ushul Fiqh, dan mata kuliah lainnya.
Terhitung sejak 2014 Abrar melanjutkan pendidikan S3 di UIN Iman Bonjol Padang. Kuliah ini hanya selama 3 semester, namun karena kesibukannya yang cukup banyak baru tahun 2021 selesai, setelah tuntas menulis desertasi dengan judul ” Relasi Islam dan Negara dalam Fatwa Masail Wathaniah”. Disertasi ini mengandalkan riset kepustakaan dan wawancara pengurus MUI Pusat di Jakarta terkait fatwa-fatwa yang ada di MUI. Disertasi ini dikerjakan selama satu setengah tahun. “Menurut pengakuan penguji, ini disertasi terbaik yang pernah diuji di UIN Padang dan ,UIN Pakanbaru. Mendapat nilai 95,” tutur Abrar.

Bergambar bersama kerabat dan keluarga usai pengukuhan guru besar
Guru Besar dan Aktivitas Luar Kampus
Pada Maret 2024 lalu Abrar dikukuhkan sebagai Guru Besar Politik Hukum Islam di UIN Iman Bonjol Padang. Dengan demikian makin lengkap puncak akademisnya dengan menyandang gelar profesor. Di lingkungan kampus Abrar juga menjadi Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (LPPM). Abrar juga sekretaris tim yang melobi bantuan ke IDB (Islamic Development Bank) bagi pinjaman lunak bagi pembangunan beberapa UIN di beberapa daerah.
Di luar, ia aktif di Revolt Institut, sebuah lembaga penelitian dan survei politik di Padang. Maka setiap jelang pilkada di Sumatera Barat aktifitas Abrar makin padat. Selain mengadakan survei dan penelitian, Abrar juga aktif memberikan materi baik Bawaslu, di KPUD dan juga di partai politik. Abrar juga menjadi tim pakar untuk pemilihan bupati, antara lain bupati Agam, menjadi tim pakar untuk debat bupati, menjadi tim seleksi untuk KPU Bukittinggi tahun 2010 , dan lainnya. “Jadi, kalau ada pilkada saya banyak terlibat,” paparnya.

Pada sebuah acara sebagai Ketua Yayasan Perguruan Thawalib Padang Panjang
Sementara itu sebagai penghormatan terhadap Thawalib tempatnya belajar dulu, Abrar bersedia menjabat sebagai Ketua Yayasan Thawalib Padang Panjang. Di thawalib tertua di Ranah Minang ini ia terlibat dan ikut memikirkan kemajuan dan perkembangan pendidikannya.
Di tengah aktivitasnya sebagai tenaga pengajar UIN Iman Bonjol Padang, Abrar pun tidak lupa dengan kampung halamannya. Terhitung sejak tahun 1997, ketika masih menjadi mahasiswa, ia sudah didaulat untuk menjadi penghulu atau datuk di pesukuannya Koto Hilalang, Balingka. “Sebenarnya saya menolak jadi datuk, karena ini jabatan yang berat. Apalagi kesibukan saya yang banyak aktif di organisasi, tapi ketika itu orang tua saya sedang sakit dan meminta agar menerima jabatan tersebut. Saya tidak bisa menolak, dan menjadikan hal ini sebagai motivasi,” terangnya.
Menjadi akademisi dan pakar, serta datuk sebagai pemimpin tradisional, sebuah kombinasi yang cocok bagi Dr. Abrar. Teori dan implementasi bisa dipadukan!

Memberikan kuliah di UIN Sultan Maulana Hasanuddin, Serang, Banten

Berfoto di International Islamic University

