Ramadan

Momentum Ramadhan dan Iedul Fitri – Saatnya Berbenah Diri

Ramadhan bulan suci, bulan penuh rahmat, bulan penuh pengampunan dan bulan untuk meraih kesempatan untuk terbebaskan dari azab api neraka serta bulan untuk mewujudkan diri menjadi insan yang bertaqwa. Ketika hari nan fitri tiba, orang-orang yang bersungguh-sungguh karena Allah untuk mengisi hari-harinya di bulan Ramadhan dengan ibadah, berbagai kebaikan atau amal sholeh, hatinya senantiasa berharap mendapatkan ampunan dari Allah Tuhan yang Maha Pengampun serta menjauhkan diri dan tidak melakukan berbagai kemaksiatan dan kemungkaran, insyaa Allah menjadi hamba-Nya yang beruntung dan dapat kembali fitri.

Satu bulan dari dua belas bulan yang Allah karuniakan kepada kita adalah waktu yang cukup untuk meraih semua itu apabila kita benar-benar termasuk dalam golongan hamba-hamba-Nya yang senantiasa terus mensucikan diri dan terus berada dalam ketaatan kepada-Nya dengan ketaatan yang kaffah. Namun bagi yang abai dan menyia-nyiakan kesempatan yang Allah berikan atau bahkan ketika Ramadhan tiba justru tetap dan bahkan makin giat berbuat maksiat maka baginya adalah kerugian yang sangat besar dan termasuk dalam kelompok orang-orang bodoh yang memilih kebatilan di atas kebaikan.

Ketika kita menyaksikan dari waktu ke waktu makin banyak umat manusia yang lalai, terus berbuat maksiat dan terus membuat kerusakan di muka bumi, tidak saja dalam ragam yang makin banyak tetapi bahkan makin dalam dan makin menunjukkan adanya kemunduran yang besar dalam peradaban dan kualitas akhlak umat manusia. Kita saksikan tidak hanya pada kalangan rakyat biasa bahkan makin banyak diperlihatkan oleh orang-orang yang memiliki pengaruh, kekuasaan ataupun sarana yang memungkinkan baginya untuk berbuat kerusakan-kerusakan tersebut.

Beberapa kemunduran yang sering kita saksikan serta makin terasa nyata merugikan dan merusak peradaban umat manusia yang seharusnya dibangun berdasarkan kepada moralitas yang tinggi sebaga insan kamil. Terdapat dua hal pokok yang dapat kita tuliskan disini.

Pertama, nilai-nilai kejujuran dalam wujud perilaku, perkataan dan/atau perbuatan makin terasa dan makin tampak diabaikan. Ketidak-jujuran atau dusta, manipulasi, rekayasa, atau siasat jahat yang dilakukan tidak hanya oleh segelintir orang tapi makin luas dan merata, terlebih dilakukan oleh para penguasa, orang yang memiliki pengaruh besar ataupun orang-orang yang memiliki sarana untuk melakukan secara bersama-sama atau berkolusi dalam berbuat jahat. Tujuannya adalah meraih dan mempertahankan bahkan memperbesar dan/atau memperkuat kedudukan mereka dalam penguasaan sumber-sumber ekonomi dan sumber-sumber kehidupan. Tak peduli apakah semua merugikan orang lain, merugikan rakyat dan merugikan negara atau bahkan merugikan bangsa dan negara lain. Orang-orang yang berdusta kini membungkus dustanya dengan berbagai cara agar seolah-olah menjadi ‘legal’ atau dapat diterima, termasuk dengan merekayasa hukum dan berbagai ketentuan melalui lembaga tinggi negara dan penggunaan berbagai media, termasuk para buzzer atau para influencer yang juga sama-sama jahat. Kedua, penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power). Orang-orang yang mendapat ‘amanah’ untuk berkuasa, apakah melalui proses pemilihan ataukah melalui penunjukan acapkali tidak dapat atau tidak mau untuk menjadi amanah tetapi lebih memilih untuk khianat. Cinta pada dunia, cinta pada kekuasaan, cinta kepada pujian-pujian ataupun cara hidup hedonis makin tumbuh subur akhir-akhir ini dan proses Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) telah menjadi bagian dari cara untuk melanggengkan kekuasaan secara bersama-sama oleh para pelaku KKN. Mereka saling melindungi dan saling menutupi serta saling memperkuat diri. KKN yang dibalut dengan dusta selalu menemukan jalan di tangan para pemegang kekuasaan atau pemegang kendali untuk terus dilanggengkan melalui perbuatan khianat dan ketidakjujuran, walau nantinya akan menghadapi kehancuran pada waktunya.

Andaikan saja momentum Ramadhan dan Iedul Fitri dapat diisi dengan sungguh-sungguh oleh segenap komponen anak bangsa, khusunya para pemegang kekuasaan dan para pemegang kendali serta oleh rakyat, barangkali kita masih bisa berharap untuk terjadinya suatu proses perubahan atau perbaikan menuju Indonesia yang lebih baik, lebih bermartabat dan lebih sejahtera. Memilih untuk jujur (tidak dusta) dan/atau memilih untuk amanah (tidak khianat) adalah sebuah pilihan yang hanya dapat terwujud ketika moralitas diri tengah berada dalam kondisi baik dan lingkungan untuk itu adalah kondusif. Menjaga momentum moralitas diri agar tetap dalam kondisi baik patut menjadi pilihan dan membutuhkan lingkungan yang sehat, kondusif dan kesadaran serta upaya bersama. Membiarkan dusta, khianat, dan penyalahgunaan kekuasaan berikut akibat yang ditimbulkannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara adalah suatu pelanggaran terhadap prinsip demokrasi dimana kekuasaan sesungguhnya ada di tangan rakyat dan merupakan sikap bodoh karena membiarkan suatu kejahatan yang  merusak tidak hanya bagi negara dan bangsanya tetapi juga akan merugikan atau merusak dirinya dan keluarganya serta lingkungannya.

Selain itu,  para intelektual ataupun para pemuka agama atau para pemuda harapan bangsa teruslah untuk melakukan kritik-kritik tajam, fokus dan sesuai fakta dengan tidak lupa memberikan pilihan solusi dan disampaikan secara baik dan bermartabat.

Semoga Ramadhan 1446 H yang sebentar lagi akan meninggalkan kita menjadi momentum bagi anak bangsa untuk terus berbenah diri dengan sungguh-sungguh. Ke depan kemungkinan kehidupan akan makin sulit dan makin berat, namun kita semua harus tetap optimis dan percaya bahwa Allah akan selalu memberikan jalan keluar bagi hamba-hamba-Nya yang bertaqwa dan senantiasa mencari pengampunan dari-Nya yang berusaha secara sungguh-sungguh.

Jakarta, 19 Maret 2025

Firdaus Badarudin

Praktsisi dan konsultan bisnis dan keuangan; alumni FEB-Ui; redaktur tamu majalah Panji Masyarakat dan panjimasyarakat.com

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button