Ramadan

Kesedihan Meninggalkan Ramadan dan Melanjutkan Keutamaannya

Ramadan bulan yang selalu dinantikan kaum muslimin. Ketika Rajab tiba doa yang suka dipanjatkan ketika selesai salat,”Ya Allah, Rajab telah tiba, sampaikan kami ke Sya’ban dan Ramadan.”

Ramadan bulan yang selalu dinantikan kaum muslimin. Ada perasaan riang gembira menyambut bulan suci ini. Keyakinan umat bulan ini membawa banyak kebaikan dan keberkahan. Aktivitas sosial-ekonomi dan keagamaan semarak selama Ramadan.Masjid penuh dengan orang salat berjamaah, dakwah muncul di banyak media elektronik. Bulan ini juga melahirkan sikap dermawan dengan orang ikhlas berinfak, bersedekah dan berbagi.

Aktivitas ekonomi pun hidup, konsumsi selama Ramadan yang meningkat menggeliatkan  perekonomian, termasuk sektor transportasi ikut terdampak dengan mobilitas manusia untuk mudik pulang kampung mengunjungi dan silaturahim dengan keluarga dan para kerabat.

Namun, yang spesial dari Ramadan diyakini sebagai bulan kerahiman dan kasih sayang Allah untuk mengampuni umatnya yang beribadah dan bertaubat atas dosa-dosa yang dilakukan dalam kehidupan. Pahala dilipat gandakan baik untuk ibadah wajib maupun ibadah sunat. Demikian juga sadaqah dan amal shaleh yang dilakukan mendapat ganjaran yang berlipat ganda.

Yang sangat positif selama Ramadan adalah tumbuhnya spirit untuk beribadah kepada Allah. Masjid tumpah ruah dengan jamaah yang melakukan salat berjamaah, salat taraweh, dan kegiatan lain seperti tadarusan. Secara personal setiap muslim tergerak untuk mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an, melakukan salat tahajud atau qiyamul lail, dan bahkan untuk salat-salat sunat lain seperti salat dhuha,salatIsyraq (syuruq) sebelum terbit matahari,salatqabliyah dan bakdiyah sebelum dan sesudah salat fardhu.

Kegairahan dan tingginya animo masyarakat beribadah dan beramal shaleh selama Ramadan karena bulan ini dianggap istimewa, baik untuk mendapat pengampunan Allah maupun untuk mendapatkan kemudahan-kemudahan dalam kehidupan. Doa yang dipanjatkan dalam bulan Ramadan diyakini bakal diijabah atau dikabulkan Allah.Dan di antaranya juga terdapat malam lailatul qadr yang diyakini jika bertemu malam tersebut dalam beribadah nilai kebaikannya sama dengan seribu bulan atau 83 tahun.

Keutamaan Ramadan dikategorikan dalam tiga pembagian selama sebulan. Sepuluh hari pertama disebut bulan penuh rahmat atau kasih sayang Allah, sepuluh hari kedua maghfirah atau ampunan Allah, dan sepuluh hari terakhir itqun minannar atau merdeka dari siksa api neraka. 

Kesedihan melepas Ramadan

Dikabarkan bahwa Rasulullah sangat sedih melepas kepergian di ujung Ramadan. Dalam do’anya diutarakan agar diberi kesempataan untuk bertemu pada Ramadan berikutnya.

Bagi kita kaum muslimin juga terasa keharuan meninggalkan bulan Ramadan yang agung ini. Kesedihan terutama terasa karena banyak kebaikan dan keutamaan dalam beribadah selama bulan Ramadan ini pergi setelah Ramadan berakhir. Bahkan, termasuk juga euforia (kegembiraan) yang selama ini dirasakan dalam beribadah yang bersifat massal seperti masjid yang ramai dengan jamaah, kegiatan ibadah tarawih, baca Qur’an, sholat sunat, gairah beramal shaleh dan lainnya berkurang aktifitasnya setelah kepergian Ramadan.

Karena itu perlu sebuah refleksi agar Ramadan jangan sampai meninggalkan bekas sama sekali begitu bulan ini hilang dengan tibanya bulan dan kehidupan baru. Semangat dan roh Ramadan harus terus berlanjut meski Ramadan telah berlalu.

Pertama, semangat dan kegairahan beribadah selama Ramadan harus terus dilanjutkan. Masjid harus tetap digalakkan dengan salat berjamaah, kegiatan dakwah, pengajian dan lainnya. Kesemarakkan masjid jangan sampai hilang dengan perginya Ramadan.

Kedua, aktifitas-aktifitas ibadah personal seperti salat sunat rawatib, sholat tahajud, aktifitas baca Al-Qur’an, dan amal shaleh yang tumbuh sejak Ramadan harus terus berlanjut. Jika ini dilanjutkan dan kontinyu dilakukan berarti hasil gemblengan Ramadan menunjukkan hasil yang positif dan membawa manfaat signifikan.

Ketiga, dengan semangat rahmah yang diperoleh selama Ramadan mampu memunculkan sifat kasih sayang, kepedulian dan karaktersosial pada diri kita untuk menyayangi sesama makhluk, melahirkan sikap mawaddah, menolong orang yang tidak mampu, mengasihi anak yatim, orang miskin,kerabat dan lainnya. Mewujudkan dalam diri kita perilaku yang dijelaskan oleh Rasulullah dalam hadistnya,” Sayangilah siapa yang ada di bumi, niscaya engkau akan disayangi oleh yang ada di langit”.

Dan, jangan sampai kita seperti yang dikatakan dalam Al-Qur’an surat al-Isra ayat 37,” Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung”.

Keempat, dengan semangat maghfirahyang diperoleh selama Ramadan hendaknya menjadikan kita orang pemaaf, dan menjadikan kita manusia yang disenangi oleh lingkungan , serta menjauhi perbuatan yang tidak disukai Allah.

Kemudian terakhir sebagai perwujudan semangat Ramadan yaitu itqun minnannar, dan puncak dari keberhasilan pendidikan Ramadan kita menjadi manusia Taqwa yang menjadi tujuan utama dari puasa atau shiyam.” Semoga kamu sekalian menjadi orang-orang yang bertaqwa” (al-Baqarah ayat 183).

Dengan banyaknya keutamaan Ramadan memang terasa sedih dengan kepergian Ramadan. Semoga tahun depan kita bisa bertemu kembali dengan Ramadan berikutnya!

Arfendi Arif

Arfendi Arif, Redaktur Panji Masyarakat, pengasuh Majalah Inhouse Magazine, dan penulis buku dan biografi. Tinggal di Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, Banten.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button