Masyumi sudah dikubur rezim Orde Lama, dan upaya menghidupkannya kembali kandas di tangan Orde Baru. Tapi etos dan semangat Masyumi tak pernah mati. Masyumiisme, yakni Masyumi-seperti kata Cak Nur – sebagai corporate thinking masih hidup sampai sekarang. Inilah agaknya yang disebut Syu’bah Asa sebagai “kepribadian Masyumi”: segala sesuatunya harus serba jelas, tak ada bayang-bayang, tak ada nuansa, dan tak dapat diajak diskusi. Masyumi, kata Syu’bah, tidak mengesankan seseorang pemikir yang melihat kemungkinan-kemungkinan baru (Kompas, 8 Maret 1982).
Pemikiran Syu’bah mungkin terlalau streotipikal, tapi sangat bisa dipahami, terutama bagi yang mengerti siapa Syu’bah. Ia, waktu itu, adalah wartawan senior Tempo, majalah yang berjasa dalam melambungkan gerakan pembaruan Islam era 1970-an. Nurcholish Madjid, tokoh utamanya, yang diberinya predikat Pendekar Islam dari Jombang, bersama dengan kelompoknya, dikenal sangat keras dalam mengancam dan mengkritisi Masyumi. Partai ini dikatakannya sebagai terlalu ideologis, apologetis, kaku, dan tak kenal kompromi. Dan lagiu, bukankah slogan “Islam, yes; Partai Islam, no”, dalam konteks waktu itu, tak bisa lain harus dibaca sebagai berbunyi “Islam yes; rehabilitasi Masyumi, no”?
Betapa tidak. Ketika umat Islam sedang mengalami antusiasme luar biasa untuk merehabilitasi Masyumi, kelompok pembaru bukan hanya kelewat kritis terhadap Masyumi, melainkan malah menohoknya dengan jargon “Islam, yes; partai Islam, no”. Tentu saja rezim Orde Baru sangat anti- Masyumi sangat diuntungkan oleh gerakan pembaruan: sebagai sandaran legitimasi terhadap kebijakan penolakan rehabilitasi Masyumi dalam rangka dealiranisasi dan deideoligisasi format politik.
Akibatnya, Masyumi mendapat stigma keras: rada fundamentalis dan tak kenal kompromi. Ini tertancap kuat dalam dalam kesadaran kolektif masyarakat. Mochtar Lubis, misalnya, wartawan kawakan yang korannya Indonesia Raya dibredel Soekarno dan Soeharto, malah menyebut Masyumi kepala batu. Ya tak apa, toh Mochtar sendiri, katra Mohamad Roem, juga berkepala granit (tidak mau menerbitkan koran kalau bukan Indonesia Raya).
Namun yang jelas bukan karena berkepala batu bila ketua umum Masyumi terakhir, mendiang Prawoto Mangkusasmito, tak pernah patah arang untuk kembali menghidupkan Masyumi. Rezim Orde Lama yang secara tak sah membubarkannya, dia digugat ke pengadilan dengan pengacara Mr. Mohamad Roem. Hasilnya, Prawoto kalah dan dikalahkan oleh rezim otoriter itu. Dan rezim Orde Baru, yang dikira lebih demokratis, ternyata setali tiga uang: menolak rehabilitasi Masyumi.
Ujung-ujungnya, seakan bersumpah, Prawoto menyatakan: “Hari ini boleh saja rehabilitasi Masyumi gagal, tapi pada suatu waktu ia harus bangkit lagi. Kalau kini gagal, maka “anak” saya yang akan memperjuangkannya. Dan kalau masih tetap gagal juga, kelak “cucu” saya yang akan membangkitkannya.” Agaknya, bagi Prawoto, Masyumi tetap shalih likulli zaman wa makan: relevan sepanjang zaman dan seantero tempat!
Kini anak-cucu Masyumi semakin pintar, cerdas, dan piawai, mungkin melebihi bapak atau kakeknya. Maklum mereka banyak bergelar doktor, berbeda dengan bapak dan kakeknya yang “Cuma” S1 atau mungkin di bawahnya. Selama Orde Baru, mereka berserakan di mana-mana. Ketika memperjuangkan reformasi (baca: menurunkan Soeharto), mereka memiliki gaya, metode, dan cara yang berbeda-beda. Ada yang tanpa tedeng aling-aling seperti Amien Rais; ada yang berliku-liku seperti Nurcholish Madjid; atau yang lain. Tapi mereka tetap bersatu dalam cita-cita reformasi.
Etos Masyumi adalah mempersatukan umat sebagai satu entitas politik. Nah, persoalannya, mungkin yang kurang dari mereka, anak-cucu Masyumi itu, adalah kearifan dan kecermatan untuk membaca tanda-tanda zaman. Mereka kelewat percaya diri dan – ini yang paling fatal – terlampau mempercayai partai politik sebagai wahana untuk mengantarkan kejayaan masa depan umat. Dengan begitu, demi kepentingan itu semua, mereka tragisnya makin berpuak-puak justru di era Orde Reformasi ini.
Saksikanlah, di era euphoria reformasi sekarang ini mereka berada di partai-partai yang berbeda: Husein Umar di PPP, Deliar Noer mendirikan Partai Umat Islam (PUI); . Yusril Ihza Mahendra mendeklarasikan Partai Bulan Bintang (PBB); M. Amien Rais tak lama lagi akan berbuat hal yang sama (kemudian mendirikan Partai Amanat Nasional/PAN, red); dan Adi Sasono, yang nota bene cucu Mohamad Roem, berada di Golkar; atau tokoh-tokoh lainnya yang memiliki social origin Masyumi juga akan menyusul. Mereka ini suka atau tidak, dikenal sebagai “Natsir-Natsir Muda”, kalau bukan malah neo-Masyumi yang teguh, minus cita-cita negara Islam tentunya.
Apakah fenomena ini merupakan indikasi tercapainya cita-cita Pak Prawoto? Wallahu a’lam. Yang jelas Partai Masyumi yang tempoe doeloe cuma satu, kini nyaris seribu. Dan yang patut diingat, kepribadian Masyumi, sesuai dengan namanya, adalah kepribadian syura: tempat bermuyawarah para penganut teguh agama Islam di bumi Indonesia. Jadi semangat untuk duduk bersama dalam satu meja membicarakan Islam dan Indonesia masa depan. Dan sebagai partai, Masyumi telah tampil di pentas politik nasional sebagai yang terbaik dalam hal etika dan moral.
Anak-cucu Masyumi boleh saja melupakan “sumpah” Prawoto Mangkusasmito, bukan hanya karena sumpah itu terlalu romantis dan sentimental, tapi juga tidak mesti diikuti secara tekstual dan skriptual. Sumpah itu harus dibaca kontekstual dan substansial: menghidupkan kembali obsesi dan etos Masyumi. Yakni keteguhan, demokrasi, sportivitas, syura, dan persatuan umat.
Kita mestinya anak-cucu Masyumi itu bisa duduk di meja bundar, bermusyawarah secara terbuka dan penuh kesejatian. Bukan malah berserakan dan berpuak-puak membuat partai sendiri-sendiri secara tidak karuan seperti sekarang, sebab hal itu pasti bukan etos Masyumi.

Penulis: Dr. Hajriyanto Y. Thohari, Dubes RI untuk Lebanon; pernah menjabat Wakil Ketua MPR RI dari Partai Golkar dan Ketua PP Muhammadiyah.
Sumber: Panji Masyarakat, 12 Agustus 1998


