Nggih Mbah pun kulo tekadi, direstui apa tidak direstui para kiai kulo tetep maju (Ya Mbah, sudah menjadi tekad saya direstui atau tidak direstui para kiai saya tetap akan maju jadi capres),” kata Gus Dur kepada K.H. Muslim Imampuro alias Mbah Lim. Kala itu para kiai NU menyarankan Abdurrahman Wahid agar menarik diri dari pencalonan presiden. Tapi begitulah Gus Dur, kalau punya mau sulit dihalangi. Bahkan kiai-kiai sepuh pun bagai tak kuasa mengurungkan langkahnya. Tapi, ada sejumlah kiai yang dikenal sebagai kiai-kiai khas di kalangan NU, dan pertimbangannya sering didengarkan dan dipakai oleh Gus Dur, kecuali dalam soal pencalonan itu. Berikut profil singkat beberapa dari mereka yang cukup penting.

K.H. Abdullah Faqih (Langitan), 1932-2012
Nama ini melambung menjelang dan selama Sidang Umum MPR lalu. Sampai Nurcholish Madjid pernah mengatakan, “Gus Dur itu sangat percaya dengan kekuatan| doa. Jadi, selain melakukan usaha, ia juga meminta dan menunggu petunjuk dari “langitan”, eh langit (maksudnya Tuhan), kata cendekiawan itu.
Kiai Abdullah Faqih pernah menghiasi media massa, ketika Forum Langitan mengingatkan Gus Dur agar lebih berhati-hati dalam mengeluarkan pernyataan. Forum Langitan, yang baru terbentuk beberapa bulan terakhir ini, diharapkan bakal menjadi forum penasihat tidak resmi buat Gus Dur.
Mungkin Anda masih ingat bagaimana sang kiai, dalam sebuah pertemuan di kediaman Gus Dur di Ciganjur, menganjurkan Gus Dur agar bersalaman dan sungkem kepada KH Yusuf Hasyim, paman dan sekaligus “musuh bebuyutannya”. Gus Dur langsung mendatangi Pak Ud, panggilan Yusuf Hasyim, bersalaman dan langsung sungkem, dengan disambut tepuk tangan para hadirin.
Sebelum itu pun, beberapa waktu menjelang SU MPR, Gus Dur memerlukan datang ke Langitan bersama Nur Mahmudi Ismail, bos Partai Keadilan yang kini jadi menteri, dan Fuad Bawazier yang mewakili Amien Rais dari Poros — Tengah. Di sana Fuad, menteri keuangan di zaman Pak Harto, menjelaskan keseriusan Poros Tengah untuk mencalonkan Gus Dur sebagai presiden. Waktu itu kebetulan ada pertemuan kiai se-Jawa Timur.

Memang belum banyak yang tahu sosok kiai NU yang satu ini. Sebenarnya dulu sudah pernah ada penelitian mengenai pondok pesantren yang diasuhnya. Tapi sang kiai sendiri enggan diwawancarai, lebih-lebih menyangkut dirinya sendiri. Pengasuh Pondok Pesantren (PP) Langitan, Widang, Kabupaten Tuban, ini adalah putra sulung (dari tiga bersaudara) almarhum KH Rofi’i Zahid. Ia terlahir dengan nama Abdullah Faqih. /Dusun kelahirannya bernama Mandungan, 45 kilometer sebelah selatan pusat Kota Tuban. Guru pertama kiai ini adalah ayah dan pamannya, KH Abdul Hadi Zahid.
Kabarnya, sesekali saat beribadah umrah di Mekah Abdullah Faqih menyempatkan diri belajar pada Said Alwi bin Abbas Al-Maliki. Karenanya setiap kali Sayid Muhammad bin Alwi Al-Maliki, ulama kondang di Mekah yang selalu dikunjungi oleh jamaah haji asal Indonesia, berkunjung ke Indonesia, hampir dipastikan menyempatkan mampir ke PP Langitan.
Abdullah Faqih muda, selain rajin belajar, juga dikenal sebagai santri berpenampilan sederhana dan istiqamah, serta teguh pada prinsip. “Saya heran melihat sosok KH Abdullah Faqih, kenapa kok tidak mau membangun rumah dan pondoknya. Padahal kalau mau, tidak sedikit yang mau memberi sumbangan.” Ini kata Muslimin Nasution, yang pernah berkunjung ke Langitan ketika menjadi menteri kabinetnya Habibie.
Syahdan, Kiai Faqih tak silau oleh kemewahan dunia kendati banyak orang gedean sowan ke pesantrennya. Bangunan pondoknya yang berlantai dua tampak sederhana. Rumahnya pun biasa-biasa saja seperti umumnya warga sekitar Widang, berlantai ubin biasa, Kawasan pondok yang dibangun di atas lahan seluas tujuh hektare itu dihuni 3.000-an santri. Itu pun saban tahun menjadi langganan banjir kalau musim hujan datang. Bahkan pernah banjir yang datang mencapai 1,5 meter di atas permukaan tanah dan genangannyaberlangsung beberapa hari.
Nurkholish asal Lamongan, sudah 12 tahun nyantr di sana. Bagi Cak Nur yang satu ini, Pondok Langitan tergolong netral dalam percaturan di dunia luarnya. “Soal politik bagi pesantren ini, soal nafsi-nafsi (masing-masing individu). Berkali-kali ada tawaran bantuan dari pemerintah tetapi Kiai Faqih belum mau menerimanya, ujar Imam Syafi’i, santri yang kini jadi sopir Pak Kiai” Salah satu kegemaran ayah 12 anak ini—dari pernikahannya dengan Hj. Hunainah asal Rembang—adalah bersilaturahmi. Saban kali pondok libur (Selasa dan Jumat), hampir dipastikan Kiai Faqih berkeliling, bersilaturahmi kepada para mantan santri yang juga mengelola pesantren. “Selasa dan Jumat rupanya sudah menjadi jadwal Kiai keluar dari lingkungan pondok Langitan untuk bersilaturahmi ke daerah,” kata Syafi’i. Selain dua hari itu, jika tak ada kepentingan yang mendesak sekali Kiai Faqih sehari-hari mengajar di pondok.
Di kalangan nahdhiyyin, Abdullah Faqih dikenal juga sebagai “Kiai Sepuh”. Gus Dur pun menyebutnya demikian. Tentu sebutan ini tidak datang begitu saja. Ada rentetan sejarahnya sesuai tradisi NU. Sudah lazim sosok kiai dan keturunannya memiliki mata rantai sejarah dengan santri atau mantan santri. Dalam sejarahnya, pesantren Langitan didirikan persis di tepi Bengawan Solo tahun 1852 Masihiyah atau 1275 Hijriah oleh almarhum Kiai Mohammad Nur asal Desa Tuyuban, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.
Di PP Langitan, yang kini diasuh K.H. Ahmad Sholeh Nur, inilah tercatat beberapa nama: besar kiai pendiri NU yang nyantri di pesantren ini. Antara lain, K.H. Haysim Asy’ari, kakeknya Gus Dur. Dari garis nasab ini, Kiai Langitan, termasuk Abdullah Faqih, di kalangan warga NU dijuluki Kiai Sepuh. Tetapi, kalau kemudian Presiden Gus Dur juga menyebutnya “Kiai Sepuh” terhadap Abdullah Fagih, ini bukan semata-mata karena kakeknya, Hasyim Asy’ari pernah nyantri di PP Langitan. Bagi Gus Dur, kiprah Abdullah Faqih memiliki lembaran sejarah tersendiri, kiprah yang dipandang istimewa dibanding kiai NU lainnya.
Kedekatan Abdullah Faqih dengan Gus Dur mulai tampak pada Muktamar NU di Cipasung (1994). Naiknya Gus Dur kala-itu nyaris gagal karena terganjal munculnya Abu Hasan sebagai calon ketua tanfidziyah tandingan. Peristiwa itu rupanya melekatkan ingatan tersendiri bagi Gus Dur terhadap sosok Abdullah Faqih. Kubu Abu Hasan kala itu sudah mengincar Abdullah Faqih untuk didudukkan sebagai ketua ‘ Syuriah, sebelum pilihan jatuh ke K.H. Hamid Baidhawi, Rembang, Jawa Tengah. Bahkan Abdullah Faqih konon sempat mengingatkan Abu Hasan sebelum menampik jabatan ketua Syuriah itu. “Cara sampeyan(Abu Hasan) itu tidaklah etis dan demokratis. Karena itu saya lebih baik tidak pilih ke mana-mana, lebih baik menekuni dunia pesantren,” demikian pernah dikatakan K.H. Abdullah Faqih.
Di antara kiai yang tergabung dalam “Poros Langitan” ini, ada sekitar 40 kiai NU se-Jawa, sebetulnya Abdullah Faqih termasuk salah seorang yang keberatan Gus Dur maju dalam bursa capres. Dalam sebuah pertemuan kiai “Poros Langitan” yang sempat mengundang tokoh Poros Tengah H.M. Amien Rais, setelah Amien Rais menjelaskan pencalonan Gus Dur sebagai presiden kemudian ia meninggalkan pertemuan itu, Abdullah Faqih sempat keprucut(keceplosan) mengatakan bahwa ada persyaratan prinsip mengenai legowo-nya para kiai terhadap majunya Gus Dur dalam bursa capres. “Gus Dur diminta jangan jadzab,” ujar KH Abdullah Faqih. Jadzab, adalah istilah dalam tasawuf, artinya, suatu kondisi psikologis seseorang yang tidak diketahui orang lain.

Kia Abdullah Faqih, kelahiran 2 Mei 1932, wafat pada 29 Februari 2012 di tempat kelahirannya, Widang, Tuban, Jawa Timur.
Dalam peringatan 40 hari wafatnya Kiai Abdullah Faqih, K.H. Maimuun Zubair, ulama kharismatik dari Rembang, menyatakan, bahwa pengasuh Pesantren Langitan itu merupakan sosok ulama yang tak pantang menyerah dalam berjuang. Untuk itu Mbah Mun, demikian dia biasa disapa, mengimbau kepada generasi penerus untuk menjadi Pondok Pesantren Langitan lebih maju, meskipun dia tahu bahwa hal itu tidak mudah untuk dilakukan.
Sementara itu, Kiai Mustofa Bisri, yang dikenal sesepuh ulama NU dan pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang, menyatakan bahwa Almarhum Mbah Faqih merupakan ulama yang menjadi panutan beberapa tokoh penting sepeti mendiang Presiden ke-4 RI, K.H. Abdurrahman Wahid. Untuk itu, saya berharap penerusnya dapat melanjutkan perjuangan beliau,” kata Gus Mus, yang juga penyair itu.
*Ditulis bersama Iqbal Setyarso berdasarkan laporan Imam Bukhori (Surabaya).
Editor: A. Suryana Sudrajat.
Sumber: Panji Masyarakat, 1 Desember 1999.