Saya ingin mengenang kehidupan kampung saat saya kecil dulu. Tahun 1970-an adalah masa ketika “melimpah ruahnya materi” akibat angka pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum tampak. Masyarakat hidup dengan sederhana dan menikmati situasi yang tenang. Meskipun pada tahun-tahun itu pemerintah Orde Baru sedang mengkonsolidasikan kekuasaannya dan berusaha memukul habis lawan-lawan politiknya, rakyat kecil di pedesaan kurang begitu peduli.
Setelah sekian puluh tahun tenggelam dalam kehidupan yang sarat gemuruh mobilisasi politik, masyarakat pedesaan mulai menikmati jeda waktu yang cukup buat mencari nafkah sehari-hari. Uang memang tidak mudah didapat waktu itu, tapi harga-harga kebutuhan sehari-hari masih bisa dijangkau. Langit-langit kehidupan yang normal masih bisa di candak oleh orang-orang dengan penghasilan yang rendah.
Cara Hidup Miskin
Yang saya suka dari kehidupan pedesaan saat itu adalah kesederhanaan yang tampak dalam semua kegiatan penduduk. Kamu yang hidup di sebuah dusun kecil di pantai utara Jawa, melihat “kemiskinan” sebagai barang yang kami pergauli secara wajar setiap hari. Bahkan kemiskinan tidak menjadi soal benar karena di kiri-kanan kami semua orang hidup dengan cara yang kurang lebih sama. Ini bukan “kemiskinan” yang dibagi rata” atau shared poverty seperti digambarkan oleh Geertz, tetapi adalah “cara hidup” yang kami warisi turun-termurun.
Ketika kecil dulu, kami hampir tidak bisa membayang-kan suatu tingkat kehidupan yang lebih tinggi dari apa yang kami alami dalam keluarga kami sendiri. Kami makan nasi sekali sehari. Selebihnya, kami makan nasi jagung dengan sayur daun bayam. Bahkan jagung pun kadang bisa terasa mahal. Untuk sarapan, kami kadang harus makan gobed yang terbuat dari singkong yang diparut seperti layaknya keluarga menengah di kota memarut keju untuk campuran selai roti.
Kami bisa mencicipi “selingan” menu yang agak lebih tinggi mutu gizinya kalau ada tetangga yang sedang punya gawe atau perhelatan. Seperti digambarkan dengan baik oleh Geertz dalam The Religion of Java, keluarga Jawa suka meng-adakan selamatan atau pesata kecil. Saat seperti itu, bagi ka-mi, sangat membahagiakan. Kami bisa menikmati opor ayam, sambal goreng campur ati, perkedel, dan keripik yang terbuat dari tepung beras dan kacang kedelai. Setiap ayah kami menghadiri undangan selamatan di rumah tetangga,kami yang di rumah menunggu dengan hati yang riang. Di benak kami sudah terbayang sejumlah makanan yang sudah pasti tidak dapat kami santap setiap hari.
Setiap hari kami hanya makan dengan lauk tempe, tahu, sayur bayam, dan sambal yang membuat kami berkeringat. Seminggu sekali, kalau ayah kami sedang baik hati, kami akan makan ikan asin, peda, atau paling jauh ikan pindang.Telur ayam hampir jarang bisa kami nikmati. Paling-paling sebulan sekali sewaktu ayam piaraan keluarga kami bertelur. Satu butir telur biasanya disigar (Jawa, artinya: dibelah) menjadi dua atau tiga potong. Kami jarang bisa makan satu telur penuh. Saat itu, telur ayam memang mahal.
Pakaian yang kami kenakan juga sangat sederhana. Kain paling mahal yang bisa kami bayangkan ketika itu adalah famatex atau tetoron. Biasanya kami hanya memakai belacu yang kasar. Sepatu jarang kami kenakan. Hanya orang asing yang datang dari kota yang mengenakan sepatu. Selain ma-hal, sepatu di mata kami saat itu juga menjadi simbol “kebudayaan asing”. Kami biasanya berjalan kaki tanpa sandal. Kalaupun pakai sandal, kami hanya pakai sandal jepit Swa-llow.Yang agak bagus sedikit adalah sandal Nilex atau Lily. Sandal merek Bata hanya kami lihat di kaki anak Pak Lurah atau Pak Haji. Tapi kami tidak iri karena semua orang pakai sandal yang sama.
Mobil adalah barang yang sangat mewah bagi kami saat itu. Orang paling kaya di desa kami paling jauh hanya mengendarai sepeda motor DKW buatan Jerman. Suaranya bising dan melengking-lengking seperti suara bakul jarik di pasar kampung. Orang yang mempunyai sedikit penghasilan lebih akan mengendarai sepeda Raleigh yang suaranya icik-icik. Ini saja sudah hebat!
Berbuka Tapi Tak Puasa
Semua berjalan dengan wajar. Semua orang di desa mengalami hal yang sama. Semuanya hidup dengan sederhana. Kami biasanya merasa aneh jika ada orang biasa di kampung bisa jadi orang kaya. Biasanya orang-orang di kampung akan menganggap bahwa orang itu memelihara babi kepet, tuyul, atau jenis pesugihan yang lain. Hanya sedikit orang kaya di kampung kami. Biasanya Pak Lurah atau Pak Haji. Tetapi, tak ada jurang pemisah yang terlalu lebar antara kami yang hidup dengan sederhana dengan orang-orang kaya di kampung.
Jarak yang memisahkan antara kami orang miskin de-ngan mereka yang kaya sebetulnya tidak terllu lebar. Kecemburuan antara dua “kelas” sosial itu pun hampir bisa dikatakan tidak ada. Sebab, orang kaya di kampung kami biasanya tidak “menikmati” kekayaannya sendirian. Ada tradisi di kampung kami yang membiasakan orang kaya membagi “kue” kepada para tetangganya yang miskin. Saat panen, misalnya, Pak Haji atau Pak Lurah akan mengundang ibu-ibu seluruh kampung untuk ramai-ramai ikut mengetam padi yang sudah menguning. Istilah kami saat itu adalah derep.
Ibu-ibu itu biasanya mendapat bawon, atau komisi dari setiap ikat padi yang mereka ketam. Anak-anak biasanya “mencuri” beberapa tangkai padi secara diam-diam lalu dikumpulkan dan ditukar dengan jajanan atau kue-kue yang dijual oleh pedagang keliling. Pak Haji tahu kami mencuri, tapi dia tidak marah. Sepertinya kegiatan “mencuri” kecil-kecilan pada saat penen itu sudah menjadi ritual di desa kami. Anak-anak gembira, ibu-ibu kami pun gembira, karena orang kaya di kampung kami telah membagi sebagian dari kekayaannya kepada kami yang hidup miskin.
Begitulah, kesederhanaan mewarnai seluruh detak kehidupan kami. Jika boleh, saya ingin menyebutnya sebagai contoh kecil dari “sosialisme” ala kampung Jawa.Ini bukan sosialisme hasil kreasi para penganut teori perjuangan kelas dari Rusia sana, tetapi sosialisme alamiah yang rasa-rasanya bisa kita temukan di desa-desa lain di seluruh Indonesia pada tahun-tahun itu.
Yang hendak saya kemukakan dengan deskripsi tentang “sosialisme Jawa” ini adalah bahwa rasa-rasanya kita perlu mencoba hidup sederhana kembali. Karena terpaan krisis, aset negara kita menguap dan kita jatuh miskin kembali. Ma-salahnya adalah, sementara mau memulihkan keadaan yang terpuruk ini, kita tidak mau mengaku miskin. Kita masih memperlakukan segala-galanya sebagai business as usual. Kita masih ingin hidup enak, dimanjakan dengan seabreg utang yang kian menindih.
Mumpung masih mengalami mood reformasi, kita perlu mengkampanyekan hidup sederhana kembali, tidak sebagai retorika yang sekadar lips service. Tetapi kampanye sungguhan yang dimulai dari kepala negara hingga pen-duduk biasa. Toh sebagian besar masyarakat sudah pernah mengalami hidup sederhana selama bertahun-tahun. Yang biasa hidup mewah di kota-kota besar, memang akan susah. Tapi tak ada jalan lain, jika ingin pulih, kita harus mau hidup pas-pasan,dan mulai mengurangi “kemewahan” yang tidak perlu.
Filosofi jer basuki mawa bea (kalau mau enak, ya harus susah dulu) harus ditanamkan kembali kepada bangsa ini. Selama bertahun-tahun, sepertinya kita menyaksikan banyak orang yang bisa kaya dan enak tanpa bekerja keras.Ini menanamkan kesan kepada anak-anak kita bahwa hidup enak bisa diperoleh tanpa perjuangan, asal ada “uang” untuk menyogok. Jika mental ini tidak dikikis dengan mencontohkan hidup yang lain, maka korupsi akan kian susah diusir dari negeri kita. Korupsi terjadi karena orang mau basuki tanpa bea, mau berbuka tapi tak mau puasa.

Penulis: Ulil Abshar-Abdalla, kolumnis, cendekiawan, Ketua PBNU
Sumber: Panji Masyarakat, 10 November 1999.

