Kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara tidak sepi dari persoalan. Sebuah pemerintahan yang berjalan tidak selamanya mampu memberikan kepuasan kepada rakyat atau masyarakat. Ada saja kegaduhan dan pro kontra yang terjadi. Bila kita cermati pembicaraan dan cetusan pendapat di media sosial (medsos) dan pemberitaan media tentang kehidupan bernegara dan politik kita, mungkin ada yang merasakan sesak dadanya melihat situasi nasional yang ada.
Misalnya, berita korupsi yang hampir sering muncul di media, terkesan tidak lagi dinilai hal yang mengejutkan. Seakan korupsi itu perbuatan yang sudah “lumrah “ saja, walaupun nilai korupsinya mencapai triliunan.
Berita penegakan hukum seakan muncul di masyarakat ada tebang pilih. Jika ada yang tersangka orang dekat dengan kekuasaan, sulit perkaranya dibawa ke meja hijau. Berbeda dengan orang atau rakyat biasa begitu cepat ditangani dan perkaranya cepat di bawa ke penegak hukum.
Yang lebih menimbulkan kejengkelan pula di masyarakat ucapan sebagian pejabat yang dinilai terkadang tidak layak ,terutama jika menghadapi kritik mengenai kebijakan pemerintah.
Kita juga sering melihat saling tegang urat leher dipertontonkan di media elektronik antara pendukung dan penentang kebijakan pemerintah atau kebijakan seorang tokoh, menggambarkan betapa suasana kehidupan politik kita yang bisa dinilai “kurang sehat”.
Bahkan, terasa mengherankan buat kita soal kebijakan memberi pelajar makan saja yang sesungguhnya sangat terhormat, juga menjadi konsumsi perdebatan publik yang panas . Diakui bahwa ini sebuah kebijakan yang mulia, hanya masalah manajemennya yang menjadi sasaran kritik dan sorotan.
Mengorbankan Ego
Semua rakyat dan pemerintah bisa dipastikan ingin Indonesia maju, ingin kesejahteraan meningkat, ingin posisi Indonesia sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Namun, untuk hal ini diperlukan kekompakan bangsa ini untuk bertekad menjadi negara besar. Langkah awal dalam hal ini harus ada pengorbanan dari semua komponen bangsa. Pengorbanan itu adalah menghilangkan rasa ego dan keinginan untuk maju sendiri, untuk sukses sendiri, untuk kaya sendiri, untuk menang sendiri dan lainnya. Pengorbanan ego itu adalah keberanian untuk hidup jujur dan menekan hasrat-hasrat untuk hidup bermewah diri, terutama yang dicapai dengan cara-cara yang tidak jujur dan melanggar hukum. Sebab, bila gaya hidup yang tidak sesuai dengan hukum yang berlaku, baik hukum formal negara maupun hukum agama, maka akan sulit kekompakan ini dalam sebuah negara atau bangsa terwujud. Pada akhirnya yang terjadi adalah kita hidup selalu dalam kegaduhan, saling hujat dan polemik yang terus berkepanjangan terjadi dan berlangsung dalam kehidupan nasional kita sehari-hari. Inilah yang sesungguhnya menjadi penghalang terbesar bagi sebuah bangsa untuk maju dan berkembang.
Dalam usia 8I tahun kita merdeka maka sudah waktunya kita sekarang ini melakukan jeda sesaat, melakukan relaksasi (relaxation) atau berhenti sejenak dan melakukan perenungan diri, berpikir ulang apa makna dari kehidupan yang kita jalani sekarang ini. Perenungan diri atau introspeksi diri ini bukan hanya dilakukan oleh rakyat, namun juga oleh para elite, baik elite intelektual maupun elite yang sedang memerintah. Kita berzikir apakah yang sudah kita perbuat buat kebaikan bangsa ini, buat rakyat, buat agama dan buat kebaikan kemanusiaan.
Perjalanan hidup kita jangan dibiarkan mengalir begitu saja menurutkan keinginan nafsu semata. Inilah sesungguhnya refleksi filosofis yang penting kita lakukan memasuki usia 8I tahun kemerdekaan negeri tercinta Indonesia.
Merenungkan diri agar kita tidak tenggelam dalam rutinitas kehidupan yang dikuasai oleh nafsu yang akan menyebabkan manusia kehilangan eksistensi dirinya sebagai makhluk yang selalu meng-ada , yang eksis , yang sadar dengan fungsi kemanusiaannya. Manusia selalu diingatkan untuk tidak tenggelam dalam perilaku massa. Suasana massa adalah irasional, tidak memungkinkan orang berpikir sejenak, melakukan evaluasi terhadap pikiran dan langkah yang dilakukan. Dalam suasana massa atau kerumunan (crowded) manusia menjadi dungu, hanya mengikut saja apa yang sedang menjadi trend atau gaya kehidupan. Apalagi di era informasi digital sekarang ini dimana manusia telah dikuasai oleh penggunaan teknologi gawai atau handphone. Sehingga muncul adagium atau ungkapan: saya klik maka saya ada. Artinya, manusia telah dikuasai oleh teknologi informasi. Dan keberadaan seseorang sangat ditentukan oleh komunikasi melalui gawai atau keaktifan pesan-pesan yang diunggah di media sosial.
Namun kita harus tetap ingat bahwa manusia pada hakikatnya adalah sebagai insan yang kritis yang mampu menimbang keadaan sebelum berbuat dan bertindak. Seperti ditulis Prof. Driyarkara SJ, seorang pemikir filsafat, manusia adalah makhluk yang merdeka , yang mampu mengambil jarak (distance) dengan kesenangan-kesenangan jasmaniahnya, dalam hal ini tentu termasuk yang menjadi kesenangan massa atau budaya massa yang berkembang.
Jika kita mau memulai perenungan diri mulai dari para elite pemerintahan, elite intelektual bebas, intelektual yang di birokrasi, dan dukungan rakyat, memasuki usia 8I kemerdekaan Indonesia ,perenungan diri yang dilakukan secara sungguh-sungguh, serius dan mendalam ini bisa dilakukan, maka kita optimis jalan terang mencapai kemajuan dan kejayaan bangsa—atau meminjam istilah sekarang meraih Indonesia Emas—bukan hal yang mustahil untuk mencapainya. Dan itu tergantung pada kemampuan kita mengendalikan diri dan nafsu kita yang egoistik.
Penulis: Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, M.A., Dosen dan Plt Wakil Rektor Bidang Perencanaan Keuangan dan Pengembangan Usaha Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Depok, Jawa Barat


