Cakrawala

Pemimpin, Intrik Politik dan Keteladanan Prawoto

Suasana politik yang diwarnai intrik, fitnah dan adu-domba pernah dialami Indonesia sekitar akhir dekade 50-an hingga pergantian pemerintahan. Dalam memoarnya Pasang Surut Pengusaha Pejuang (1986) pengusaha nasional Hasjim Ning menceritakan suasana di lingkaran istana di masa itu. 

Hasjim Ning mengungkapkan, “Bahwa dalam masyarakat istana pada masa itu yang meskipun sama-sama bersorak sebagai pendukung Bung Karno, antara sesama mereka saling tidak mempercayai. Masyarakat istana adalah masyarakat yang aneh. Setiap orang saling memuji, saling katawa, saling merangkul, menari bila ada pesta. Akan tetapi dalam perut mereka sama berbunyi, ‘awas kamu’. Macam-macam orang datang menemui Bung Karno dengan buku catatan dalam sakunya yang berisi catatan tentang kebusukan orang lain selain dirinya sendiri. Orang-orang macam itu biasanya datang pagi-pagi sekali menunggu Bung Karno bangun, menunggu Bung Karno sarapan, mengambil muka pada ajudan agar mau menyampaikan pada Bung Karno kehadirannya. Mudah-mudahan Bung Karno mau mengajaknya ikut sarapan. Ada yang menteri, ada yang jenderal, ada yang pengusaha.” 

Sejarah menceritakan peristiwa yang baik-baik dari masa lampau agar dapat dijadikan contoh dan menceritakan peristiwa yang tidak baik supaya tidak terulang kembali. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Bangsa yang bijak adalah bangsa yang menempatkan sejarah sebagai pedoman dalam membangun masa depan. Sejarah yang pahit kerapkali berulang bila manusia lengah dan tidak mawas diri.

Indonesia sedang mengalami defisit negarawan dan mengendornya semangat nasionalisme. Pendidikan bernegara dan pendidikan budi pekerti adalah penting bagi generasi muda pemilik masa depan bangsa. Di samping itu dibutuhkan keteladananbernegara. Sumber-sumber keteladanan dapat digali dari perjalanan bangsa dan negarakita yang pernah melahirkan banyak negarawan teladan sejak awal kemerdekaan. Salah seorang pemimpin dan negarawan yang layak diteladani ialah almarhum Mr. Prawoto Mangkusasmito.

Prawoto lahir di Tirto, Grabag-Magelang, Jawa Tengah tanggal 4 Januari 1910. Sejak muda ia telah aktif dalam perjuangan bangsa semenjak awal kemerdekan hingga dekade 1960-an. Prawoto ikut mempertahankan kemerdekaan dengan jiwa dan raga serta menegakkan sistem negara hukum yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 sejak awal kemerdekaan.

Dalam karier politiknya ia menjabat anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (Parlemen Sementara RI), Wakil Perdana Menteri RI dalam Kabinet Wilopo-Prawoto (1952 – 1953), Wakil Ketua I Konstituante (1955 – 1959) dan Ketua Umum (Terakhir) Masyumi. Di dunia pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, Prawoto menjadi Sekretaris II Pengurus Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta,dan Curator Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang menjadi cikal bakal IAIN/UIN.

Prawoto adalah role model pemimpin-pejuang yang disegani karena integritas pribadi dan karakternya. Nilai-nilai keteladanan dan pemikiran yang diwariskannya sebagian terangkum dalam buku Alam Pikiran dan Jejak Perjuangan Prawoto Mangkusasmitokarya Saleh Umar Bajasut (Jakarta: Bulan Bintang, 1972, cetakan kedua 2014).

Sedikitnya kita dapat mengambil empat keteladanan etik dari jejak langkah Prawoto, yaitu:

Pertama, kekuatan seorang pemimpin terletak pada keberpihakannya kepada kaum yang lemah.

Kepada sahabatnya Mohammad Natsir, ia pernah berkata, “Apabila saya kembali dari tourne melihat kampung-kampung dan desa-desa, berbicara dengan pak tani yang lemah itu, saya merasa mendapat satu kekuatan baru, saya kembali dengan harapan yang baru. Kekuatan pemimpin itu terletak di tangan kaum yang lemah.” 

Dalam sebuah tulisan dan pidatonya Prawoto mensitir Hadis Nabi Muhammad Saw, “Hanyalah kamu akan mendapat kemenangan dengan memperhatikan nasib kaum yang lemah (dhuafa).” 

Kedua, berpolitik harus dilandasi idealisme dan kejujuran serta mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan diri, keluarga, kelompok dan golongan. 

Tokoh pers Mochtar Lubis menulis di Harian Indonesia Raya (1970) mengenang kepergian Prawoto, “Dia (Prawoto) seorang yang lurus hati dan jujur tak ada bengkoknya sedikit pun jua.”

Ketiga, berpolitik selalu menjaga etika dan tidak mencemarinya dengan kepentingan diri, keluarga, kelompok dan golongan yang mengatas-namakan kepentingan rakyat banyak.

Sering disebut bahwa dalam politik tidak ada kawan yang abadi tidak ada lawan yang abadi, kecuali kepentingan yang abadi. Politisi idealis sekaliber Prawoto, Hatta, Natsir, Sjafruddin, Roem, Kasimo dan lain-lain mengajarkan kepada bangsa ini cara berpolitik yang bermartabat dan berkeadaban. 

Dalam sebuah ceramahnya Prawoto mengutip ucapan Mohammad Hatta seputar pentingnya akhlak, adab dan moral bagi para elite politik, “Bahwa yang membikin partai politik berwibawa ialah ketinggian martabat para pemimpinnya.”

Prawoto sampai tutup usia hidup sederhana dan menjaga keluhuran jiwa yang membuatnya dicintai dan disegani oleh orang yang sepaham maupun berbeda paham.

Prawoto dikenang sebagai manusia idealis dan memiliki standar etik yang tinggi. Perjalanan hidupnya bersih dan bermartabat dari awal hingga akhir.  Ia bukan pemimpin yang pragmatis dan materialis. Sama seperti Bung Hatta, Prawoto dalam ukuran zaman sekarang terlalu idealis, karena menyadari dirinya milik orang banyak. Kalau  mau, kesempatan menjadi komisaris perusahaan negara terbuka baginya, apalagi ia pernah menjabat Wakil Perdana Menteri dan pemimpin partai politik terbesar di masanya, tetapi peluang itu tidak diambilnya. 

Keempat, menghormati dan menghargai lawan pendapat bahkan lawan ideologis sekali pun. 

Adab dan keluhuran pribadi Prawoto memberi keteladanan bernegara bahwa perbedaan dalam politik bukan berarti bermusuhan secara pribadi. Prawoto seorang demokrat sejati yang teguh pada pendiriannya, namun menghargai hak orang lain dalam perbedaan. Dalam sidang Konstituante, ia mengutip perkataan seorang filosof, “Saya tidak setuju dengan apa yang Tuan katakan, akan tetapi hak Tuan untuk mengatakan itu akan saya bela mati-matian.”

Prawoto selamanya menghindari politik kebencian atau dendam. Ia adalah negarawan yang tidak menyukai intrik atau adu-domba dalam perilaku politik. Nasihatnya tentang persatuan dan kesatuan patut menjadi bahan renungan di hari ini, “Ikatan jiwa lebih kuat daripada ikatan organisasi. Kita menjumpai suatu organisasi yang sudah berumur bertahun-tahun, tetapi tidak mampu lagi untuk mengikat hati para anggotanya, maka pecahlah organisasi yang bersangkutan. Sebaliknya, dalam kalangan kita sendiri di waktu yang lampau, adakalanya ikatan formil itu tidak ada, akan tetapi ikatan batin tetap terpelihara, maka tetap dirasakan adanya persatuan itu. Sudah barang tentu persatuan yang sebaik-baiknya ialah persatuan yang diikat lahir dan batin.” 

Prawoto Mangkusasmito berpulang ke rahmatullah tanggal 24 Juli 1970 di desa yang sederhana di tengah kunjungan ke Banyuwangi Jawa Timur. Kedatangan jenazahnya di rumah duka ditunggu oleh Bung Hatta, Wilopo, Buya Hamka, Mohammad Natsir, Mohamad Roem dan sejumlah tokoh bangsa. Esok harinya dengan disaksikan oleh ribuan orang jenazah Prawoto dimakamkan di TPU Blok P Kebayoran Baru Jakarta, sesuai wasiatnya di samping makam kawan seperjuangannya K.H. Faqih Usman (mantan Menteri Agama).

Pidato Mr. Mohamad Roem sewaktu pemakaman jenazah Prawoto sangat menyentuh di hati hadirin waktu itu dan bagi kita yang membaca untaian kalimatnya. Inilah petikan pidato Mohamad Roem, “Pak Prawoto, orang yang selamanya memberi dan tidak pernah menerima. Pak Prawoto tidak mempunyai bintang satu pun. Untuk mendapat bintang orang harus mengikuti satu prosedur, ada yang mengusulkan, yang bersangkutan minta atau mengisi formulir. Semua itu tidak bertemu di dalam kehidupan Pak Prawoto. Pak Prawoto orang yang selamanya hidup sederhana, orang yang tak pernah meminta, orang yang hanya belajar memberi dan mengasih.”

Pemerintah pada tanggal 10 November 1995 menganugerahkan tanda kehormatan Bintang Mahaputera Utama sebagai penghargaan atas jasa dan perjuangan almarhum Mr. Prawoto Mangkusasmito yang diserahkan oleh Presiden Soeharto di Istana Negara dan diterima oleh keluarga almarhum. Penghargaan lainnya dari negara kepada Prawoto Mangkusasmito yang semasa hidupnya telah banyak berbuat untuk negara dan bangsa ialah pemindahan kerangka jenazahnya dari TPU Blok P Kebayoran Baru ke Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata Jakarta tahun 1997. 

M. Fuad Nasar

Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama di lingkungan Kementerian Agama RI, Penggiat Literasi. Ia juga penulis tetap majalah Panji Masyarakat dan panjimasyarakat.com

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button