Dunia Islam

Mengapa Deobandi dan Barelvi Berbeda: Memahami Dua Tradisi Besar Islam Sunni di Asia Selatan

Pernah mendengar istilah Deobandi atau Barelvi? Bagi sebagian umat Islam di Indonesia, kedua nama ini mungkin terdengar asing. Namun, di India, Pakistan, Bangladesh, hingga Afghanistan, keduanya merupakan dua tradisi besar dalam Islam Sunni yang memiliki pengaruh sangat luas terhadap pendidikan, dakwah, dan kehidupan sosial-keagamaan.

Menariknya, kedua kelompok ini sama-sama mengaku berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah, sama-sama bermazhab Hanafi dalam fikih, tetapi memiliki pendekatan yang berbeda dalam memahami spiritualitas, tradisi, dan praktik keagamaan. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa keragaman pemikiran dalam Islam bukanlah fenomena baru, melainkan bagian dari sejarah panjang perkembangan intelektual umat.

Lahir dari Sejarah yang Sama

Baik Deobandi maupun Barelvi muncul di India pada akhir abad ke-19, ketika umat Islam berada dalam situasi yang sulit setelah runtuhnya Kekaisaran Mughal dan menguatnya kolonialisme Inggris. Kondisi tersebut mendorong para ulama mencari cara mempertahankan identitas dan ajaran Islam.

Namun, solusi yang mereka tawarkan berbeda.

Gerakan Deobandi lahir dengan berdirinya Madrasah Darul Uloom Deoband pada tahun 1866. Para pendirinya berkeyakinan bahwa kebangkitan umat harus dimulai melalui pendidikan agama yang ketat, pemurnian akidah, dan kembali kepada sumber-sumber utama Islam.

Beberapa dekade kemudian, muncul gerakan Barelvi yang dipelopori oleh Maulana Ahmed Raza Khan di kota Bareilly. Gerakan ini berkembang sebagai respons terhadap arus pemurnian yang dianggap terlalu kaku. Mereka berusaha mempertahankan tradisi keislaman Asia Selatan yang telah lama dipengaruhi nilai-nilai tasawuf dan kecintaan kepada Rasulullah.

Dua Cara Pandang terhadap Spiritualitas

Perbedaan paling mencolok antara keduanya terletak pada cara memandang hubungan antara syariat dan spiritualitas.

Madrasah Darul Uloom, Deoband, Pradesh, India

Bagi kalangan Deobandi, kemurnian tauhid harus dijaga dengan sangat ketat. Mereka berhati-hati terhadap praktik-praktik yang tidak memiliki dasar tekstual yang kuat, seperti meminta pertolongan kepada penghuni makam atau ritual yang berpotensi mengarah pada kultus individu. Fokus utama mereka adalah disiplin ilmu, pendidikan, dan pengamalan agama berdasarkan dalil.

Sebaliknya, Barelvi menempatkan dimensi spiritual sebagai bagian penting dalam kehidupan beragama. Mereka memandang penghormatan kepada Nabi Muhammad Saw. dan para wali sebagai bentuk ekspresi cinta, bukan penyembahan. Tradisi seperti Maulid Nabi, peringatan urs (haul para wali), serta ziarah kubur dipandang sebagai sarana memperkuat kecintaan kepada Allah melalui keteladanan orang-orang saleh.

Dalam perspektif Barelvi, tasawuf bukan sekadar praktik mistik, melainkan jalan pembinaan akhlak dan penyucian jiwa.

Perbedaan Bukan Berarti Berbeda Agama

Perbedaan yang sering menjadi sorotan berkaitan dengan kedudukan Nabi Muhammad Saw., praktik ziarah kubur, dan hubungan dengan tradisi tasawuf.

Kalangan Deobandi menekankan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah yang memiliki kemuliaan tertinggi, tetapi mereka berhati-hati terhadap berbagai atribusi yang dianggap melampaui batas kemanusiaan beliau. Sementara itu, Barelvi menegaskan kemuliaan spiritual Nabi yang sangat tinggi, termasuk keyakinan bahwa Allah menganugerahkan pengetahuan tertentu kepada beliau sesuai kehendak-Nya.

Dalam masalah ziarah kubur pun terdapat perbedaan pendekatan. Deobandi menerima ziarah sebagai sarana mengingat kematian, tetapi menolak praktik meminta pertolongan kepada penghuni makam. Sebaliknya, Barelvi memandang makam para wali sebagai tempat yang penuh keberkahan sehingga ziarah memiliki nilai spiritual yang lebih luas.

Meski berbeda dalam praktik, keduanya tetap berada dalam rumpun Islam Sunni dan sama-sama menggunakan mazhab Hanafi sebagai dasar fikih.

Mengapa Perbedaan Ini Penting Dipahami?

Di era media sosial, perbedaan sering disederhanakan menjadi pertentangan hitam-putih. Padahal, sejarah Islam menunjukkan bahwa keragaman metode penafsiran telah menjadi bagian dari tradisi intelektual selama berabad-abad.

Perbedaan antara Deobandi dan Barelvi bukan sekadar persoalan benar atau salah, melainkan mencerminkan dua pendekatan dalam memahami hubungan antara teks agama, tradisi, dan pengalaman spiritual. Yang satu lebih menekankan kehati-hatian terhadap inovasi keagamaan, sementara yang lain lebih memberi ruang pada ekspresi spiritual yang berkembang dalam masyarakat selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar Islam.

Sayangnya, perbedaan tersebut tidak selalu berakhir pada dialog ilmiah. Di beberapa wilayah Asia Selatan, khususnya India dan Pakistan, perbedaan teologis ini pernah memicu ketegangan sosial bahkan konflik antarkelompok. Hal ini menjadi pengingat bahwa perbedaan pemikiran yang tidak dikelola dengan bijaksana dapat berkembang menjadi perselisihan yang merugikan umat.

Belajar Menghargai Keragaman

Memahami sejarah Deobandi dan Barelvi memberikan pelajaran penting bahwa Islam memiliki tradisi intelektual yang kaya. Perbedaan pendapat bukanlah ancaman apabila disikapi dengan ilmu, adab, dan saling menghormati.

Persemayaman atau Keramat Ahmed Raza Khan, pemimpin gerakan Barelvi

Pada akhirnya, keduanya lahir dari semangat yang sama, yakni menjaga agama di tengah perubahan zaman. Perbedaan yang muncul lebih banyak berada pada metode memahami dan mengamalkan ajaran, bukan pada tujuan utama beribadah kepada Allah.

Bagi masyarakat Indonesia yang juga kaya akan keragaman pemikiran Islam, memahami sejarah kedua tradisi ini dapat memperluas wawasan sekaligus menumbuhkan sikap moderat. Sebab, semakin luas pengetahuan seseorang tentang khazanah Islam, semakin besar pula peluangnya untuk menghargai perbedaan tanpa kehilangan keyakinan terhadap prinsip-prinsip agamanya.**

Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten

Ruli Alqodri Mustafa

The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon Banten

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button