Ada satu tempat keramat yang dipercaya mengandung energi alam sangat besar, yaitu Gua Langse, yang berada kawasan pesisir Yogyakarta. Di dekat Gua Langse, juga ada tempat lain lagi yang biasa dipakai beruzlah yakni Parangkusumo. Parangkusumo adalah pesisir datar sekitar 500 m di sebelah barat lokasi pariwisata pantai Parangtritis, sedangkan Gua Langse berada di sebelah tenggaranya, dengan medan yang cukup berat, sehinga perlu kemauan kuat serta keberanian demi mencapainya.
Penulis bersama tim, mengunjungi Gua Langse pada tahun 2001, dan menuliskan di Majalah Krakatau, Adventure & Leisure in Indonesia Volume 1 No.2,2001. Menurut penduduk sekitar dan jurukunci, Gua Langse pernah dipakai tirakatan oleh Sunan Kalijaga, Syekh Siti Jenar, Raja-raja Mataram, Pangeran Diponegoro, bahkan Presidan RI Soekarno, Soeharto dan Jendral Sudirman. (Majalah Krakatau, Adventure & Leisure in Indonesia Volume 1 No.2,2001. Majalah dengan 2 bahasa, Inggris dan Indonesia ini, menurunkan laporan utama berjudul, Petualangan Bawah Tanah dan sub judul Gua Langse, Tempat Semadi di Tebing Samudera ).

Gua Langse tepat berada di bawah dataran tinggi atau bukit Gambirowati, sekitar 27 km di selatan kota Yogyakarta. Begitu lepas dari Parangtritis, jalan mulai terjal. Dua dari tiga kendaraan yang kami bawa terpaksa ditinggal karena tak mampu mendaki perbukitan menuju desa Panggang.
Di desa Panggang terdapat pos penjagaan Gua Langse. Selanjutnya kami harus berjalan kaki sejauh sekitar 300 m menuju pos Pelawangan, menyusuri jalan setapak yang di sekelilingnya banyak ditumbuhi pohon jati dan kelapa. Di pos Plawangan yang letaknya tegak lurus sekitar 118 m di atas air laut, kami bisa melihat beberapa ekor ikan paus yang tengah mondar-mandir merenangi Laut Selatan.

Untuk mencapai Gua Langse yang berada di pinggir pantai di bawah kami, maka kami harus berjalan kaki menyusuri jalan setapak menuruni tebing. Jujur, saya, isteri, sahabat Tribuana Said dan sahabat purnawirawan Inggris Mr.Robert Burden tidak berani ikut turun. Di tahap pertama perjalanan, tersedia tangga besi sepanjang 3 m. Tahap kedua dan selanjutnya tim kami harus menuruni tebing batu yang nyaris tegak lurus dengan hanya berpegangan pada akar pohon serta bantuan beberapa bilah bambu atau beberapa pegangan besi berbentuk U yang ditancapkan di tebing. Bagi pemanjat tebing, mungkin akan lebih menyenangkan dan terjamin keamanannya apabila turun naik menggunakan tali karmantel.



Setiba di dasar tebing, tim berjalan menyusuri kaki tebing sejauh 30 m, sampai tiba di mulut gua setinggi 3 meter dengan lebar 10 m. Di dalamnya terdapat ruang agak besar sekitar 6 x 15 m, selanjutnya lebih ke dalam lagi terdapat dua ruangan masing-masing seluas sekitar 7 sampai 9 meter persegi. Di dalam dua ruangan inilah para peziarah melakukan meditasi.
Dengan kondisi alam yang seperti itu pada tahun 2001, penulis tidak bisa membayangkan, jika tokoh-tokoh yang disebut masyarakat tadi, termasuk Pak Harto, benar-benar datang secara fisik ke Gua Langse. (B.Wiwoho,TONGGAK-TONGGAK ORDE BARU buku ke 2, Penerbit Buku Kompas. (Bersambung : PENDOPO SOEHARTO WHITLAM DIENG).

