Pilkada DKI diprediksi bakal kurang bergairah. Hal ini karena minimnya pasangan calon (paslon) yang ikut bersaing. Hanya dua pasangan calon yang ikut kontestasi plus calon independen.
Pilkada tahun ini juga minim tampil dengan calon dari kalangan politisi yang dikenal di publik. Bahkan, calon tersebut tidak masuk dalam radar survei, kecuali hanya satu orang. Itupun elektabilitasnya rendah di bawah 8,5% versi sebuah Litbang media.
Bila dibandingkan dengan pilkada DKI sebelumnya, baik pada Pilkada DKI tahun 2014 dan 2017, calon yang maju tokoh-tokoh yang dikenal luas di masyarakat. Ada Fauzi Bowo, Joko Widodo, Ahok, Anies Baswedan, Sandiaga Uno dan Agus Harimurti Yudhoyomo (AHY). Saat ini walaupun ada yang namanya dikenal, tapi kapasitas atau nama besarnya sebagai tokoh politisi masih di bawah yang sebelumnya dalam hal tingkat popularitas.
Pilkada DKI 2024 ini agaknya hanya Ridwan Kamil yang populer karena jabatannya pernah sebagai gubernur Jawa Barat dan walikota Bandung. Pramono Anung dan Suswono memang juga dari latarbelakang politisi—dan keduanya pernah jadi menteri– namun belakangan ini keduanya jarang tampil di publik sehingga terkesan sebagai tokoh baru. Sementara itu Rano Karno yang mantan gubernur Banten cukup populer di masyarakat, tapi lebih kental dikenal sebagai seorang aktor atau seniman ketimbang politisi. Dalam kontestasi politik biasanya pilihan masyarakat lebih cenderung pada figur yang berasal dari politisi dan kalangan pejabat.
Tidak tampilnya Anies Baswedan pada pilkada Jakarta tahun ini, karena dieliminasi oleh PKS, PKB dan Nasdem yang sebelumnya menyatakan mendukung, belakangan membatalkan pencalonannya karena bergabung ke Koalisi Indonesia Maju (KIM) dan mendukung Ridwan Kamil.
Pencopotan Anies ini terasa menurunkan tensi kegairahan perhatian masyarakat menanggapi Pilkada DKI. Karena Anies diprediksi bakal menang, sebab elektabilitasnya cukup tinggi, tidak kurang tiga lembaga survey terkenal mengunggulkannya dari 9 orang tokoh penting, sebut saja Ridwan Kamil, Ahok, Erick Thohir, Sri Mulyani, Andika Perkasa, Heru Budi Hartono, Tri Rismaharini dan lainnya. Jika Anies ikut meramaikan pilkada DKI animo dan antusias masyarakat dipastikan bergairah menyambut pilkada Jakarta.
Sebab lain diramalkan rendahnya perhatian masyarakat terhadap pilkada Jakarta, karena terbatasnya pasangan calon yang bertarung. Bisa dibayangkan, 15 partai yang tergabung dalam KIM Plus hanya mengusung satu paslon, dan pesaingnya satu paslon lagi diusung satu partai. Padahal, kalau merujuk pada Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomo 60 Tahun 2024 peluang partai untuk mengusung calon lebih banyak terbuka lebar. Menjadi pertanyaan, kenapa peluang ini tidak dimanfaatkan?
Soal lain yang muncul adalah bagaimana komitmen partai terhadap kehidupan demokrasi. Bukankah partai yang sering berkoar-koar tentang pentingnya kehidupan demokrasi. Dan, demokrasi salah satunya dicirikan hadirnya banyak pilihan masyarakat terhadap calon pemimpin. Dan dimungkinkannya tokoh-tokoh yang didukung oleh masyarakat untuk maju ikut kontestasi. Artinya, partai wajib menyalurkan aspirasi masyarakat.
Bila dilihat dari 15 partai yang tergabung dalam KIM Plus yang mendukung Ridwan Kamil dan Suswono, terdapat partai-partai besar dan partai-partai senior, yang tentunya sudah punya komitmen , peduli dan tanggung jawab untuk mengembangkan kehidupan demokrasi yang sehat di Tanah Air kita. Tapi, dengan pilkada Jakarta yang minim paslon tampil dalam ajang demokrasi lokal ini terasa sebuah keanehan. Padahal, Jakarta barometer kehidupan demokrasi nasional dan Indonesia. Barangkali inilah yang dicemaskan, Pilkada Jakarta diprediksi bakal lesu dan kurang bergairah?



