Setelah Akal Sehat mendapat kursi, persoalannya belum selesai. Sebab di dalam ruangan, ia tidak duduk sendirian. Di sana sudah tersedia beberapa kursi lain, masing-masing ditempati oleh akal — dengan riwayat, kepentingan, pengalaman, dan cara mengangguk yang berbeda-beda.
Ada akal politik, akal ekonomi, akal keamanan, akal kekeluargaan, dan—kalau masih ada tempat—akal sehat.
Orang Luar yang kini menjadi Orang Dalam mungkin akan menyampaikan pikirannya apabila mendapat kesempatan. Kata “apabila” penting karena di dalam kekuasaan, kesempatan berbicara tidak selalu sama dengan kebebasan bersuara. Seseorang boleh berbicara, tetapi belum tentu didengar. Boleh didengar, tetapi belum tentu dicatat. Boleh dicatat, tetapi belum tentu dibaca. Kalau pun dibaca, belum tentu dianggap nasihat. Bisa saja dimasukkan ke dalam map berjudul: Masukan Lain-Lain Yang Tidak Perlu Diproses.
Pada rapat pertamanya, barangkali ia mengangkat tangan.
“Saya kira kebijakan ini secara logika bermasalah.”
Anggota lain tersenyum.
“Secara logika mungkin bermasalah, tetapi secara politis menguntungkan.”
Yang lain menambahkan, “Secara ekonomi belum tentu merugikan.”
Seorang lagi menyela, “Secara keamanan sebaiknya jangan dibicarakan terlalu terbuka.”
Di luar kekuasaan, ia terbiasa menghadapi satu lawan besar: pemerintah. Namun, di dalam, ia dapat berhadapan dengan banyak kawan yang mempunyai kebenaran masing-masing. Dahulu ia leluasa menyebut suatu kebijakan dungu. Sekarang kata itu mungkin membuat suasana rapat mendadak dingin, sebab setiap anggota akan saling memandang untuk memastikan kedunguan siapa yang sedang dimaksud.
Boleh jadi gagasannya akan berseberangan dengan anggota lain. Ini sesungguhnya sehat. Dewan bukanlah kelompok paduan suara yang semua anggotanya harus menyanyikan nada yang sama. Perbedaan justru diperlukan agar kekuasaan tidak hanya mendengar gema suaranya sendiri. Namun, kekuasaan sering menyukai harmoni. Sayangnya, harmoni dalam politik kadang-kadang bukan tercipta karena semua orang memiliki pikiran yang sama, melainkan karena orang yang berbeda pikiran lupa membawa keberanian.
Di sinilah ujian sesungguhnya dimulai. Bukan apakah ia masih dapat berbicara tentang akal sehat, melainkan apakah ia berani mempertahankannya ketika seluruh ruangan menganggap keadaan baik-baik saja. Mudah menjadi pemberani di luar pagar karena lawannya terlihat jelas. Jauh lebih sulit menjadi pemberani di dalam ruangan, ketika lawan bicara duduk berdekatan, tersenyum ramah, menjabat tangan dengan hangat, merangkul, lalu mengajak makan siang bersama setelah rapat.
Namun, kita masih boleh berharap. Barangkali ia mau masuk bukan untuk menyamakan suaranya, melainkan untuk menambahkan nada sumbang yang diperlukan. Dalam musik kekuasaan, nada sumbang kadang-kadang lebih jujur daripada paduan suara yang terlalu sempurna. Ia mengingatkan bahwa tidak semua tepuk tangan berarti persetujuan, tidak semua diam berarti kebijaksanaan, dan tidak semua pertimbangan layak dipertimbangkan.
Publik tentu tidak akan mengetahui isi nasihatnya karena nasihat kehidupan kekuasaan memiliki kehidupan yang misterius. Ia lahir dalam ruang tertutup, dibesarkan dalam map rahasia, lalu kadang-kadang meninggal sebelum sempat dilaksanakan.
Kelak, bila kebijakan pemerintah membaik, para penasihat mungkin berebut mengatakan bahwa itulah nasihat mereka. Jika kebijakan memburuk, semua dapat menjelaskan bahwa nasihat mereka tidak didengar.
Saya sepakat dengan apa yang dikemukakan oleh Adhie Massardi di dalam wawancaranya dengan Hersubeno Arief : bahwa para aktifis juga harus masuk ke dalam, untuk memperkuat barisan kebaikan.
Pernyataan ini benar. Hanya pengalaman menunjukkan, setelah masuk ke dalam, banyak yang tidak kuat iman. Ketika muda, berada di barisan terdepan di dalam berdemo. Sesudah masuk ke dalam, korupsi juga. Mungkin bagi mereka, demonstrasi dianggap sebagai jenjang untuk menggapai kehidupan selanjutnya.
Karena itu, wajarlah apabila masyarakat menunggu. pakah setelah melewati pintu kedap suara kekuasaan, suaranya masih dapat dikenali atau tidak? Ia tidak akan kehilangan kehormatan ketika menyampaikan sesuatu tapi kemudian berbeda dengan mayoritas. Namun kehormatan akan hilang, apabila mengetahui sesuatu yang keliru, tapi memilih bungkam demi kenyamanan duduk di kursi.
Penulis: Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia, DEA, akademisi dan budayawan, pernah menjabat rektor Universitas Padjadjaran, Bandung, periode 2007 – 2015.


