Ibadah Haji

Buya Hamka: Haji, Ibadah yang Tak Dapat Dimasuki Rasionalisme Modern

Masjidil Haram adalah pusat Alam Islami. Di sanalah tertaruh pusaka-pusaka tua. Bekas perjuangan yang telah ditempuh oleh Nabi Ibrahim, yang sudi menyembelih anaknya sendiri karena cintanya kepada Tuhan. Juga yang telah ditempuh oleh Nabi Muhammad, yang terpaksa menanggung bermacam-macam penderitaan dan kesakitan di negeri itu seketika mula-mula dia membawa suluh bercahaya ke tengah-tengah kegelapan. Bukan gelap malam tetapi gelap hati sanubarinya. Di sana terdapat bermacam-macam syair, bermacam- macam i’tibar dari kekuasaan Allah, untuk pembaruan iman. Pantaslah jika Rasulullah SAW berkata, “Barangsiapa yang pergi mengerjakan haji dengan hati yang tulus ikhlas, dosanya akan diampuni sehingga bersih laksana seorang anak yang baru dilahirkan dari perut ibunya.”

Bukankah apabila telah terikat tali percintaan kita dengan seorang  sahabat, maka sahabat itu merasa  amat mulia bilamana dia dapat membawa kita singgah ke dalam rumahnya, dan kita pun merasa bahagia pula apabila telah dapat memperkenankan seruan itu? Sekarang bagaimana perasaan kita sebab telah lama kita berhubungan. Sehari semalam lima kali kita menyebut nama-Nya, sekurang-kurangnya. Pada Ramadan perintah-Nya telan kita lakukan. Tanda cinta-Nya kepada kita berlipat ganda nikmat yang diturunkannya.

Sekarang,  lantaran hubungan yang telah begitu karib, diajak-Nya kita mampir ke rumah yang dinamai-Nya rumah-Nya. Disilakan-Nya kita ke sana, kalau kita sanggup. Di sana banyak barang mulia, barang peringatan, sebagai Ka’bah itu sendiri, yang bernama Bait Allah, maqam Ibrahim, hijr Ismail, sumur Zam-Zam, jumrah  yang ketiga, Bukit Arafah, dan lain-lain. Diminta- Nya kita berkumpul bersama-sama ke Arafah sehingga dilihat-Nya berapa orangkah yang telah membuktikan teguhnya tali percintaan antara dia dan mereka.

Kalau demikian rahasia yang tersembunyi di dalamnya, adakah tak patut kalau ucapan orang yang pergi mengerjakan haji itu ialah Labbaik, Allahumma Labbaik! Lasyarika Laka labbaikl (Ini saya telah datang, aduhai kecintaanku, inilah saya Tuhanku, tak kuperserikatkan cintaku kepada-Mu dengan yang lain! Inilah saya!)?

Adakah tak patut kalau ada hadis Nabi mengatakan bahwa malaikat berdiri di tiap-tiap simpang jalan menghitung dan mencatat nama-nama orang yang pergi mengerjakan ibadah haji karena akan dilaporkan kepada Tuhan dan akan diampuni dosanya?

Labbaik Allahumma labbaik, innal hamda wal mulka laka, lasyarika laka !

Inilah hamba-Mu ya Tuhanku, segenap pujian yang kekuasaan tetaplah pada-Mu, tak berserikat Engkau dengan yang lain!

Banyaknya rahasia yang terkandung di situ!

Kita disuruh menanggalkan pakaian yang biasa dipakai. Disuruh memakai kain tak berjahit, tidak terkecuali si miskin yang memang begitu pakaiannya, tidak terkecuali juga seorang raja. Semuanya sama, disuruh melemparkan perbedaan pada hari tersebut. Sama-sama terbuka pintu menghadap kepada-Nya.

Kita dilarang menutup kepala, tak boleh bertopi, tak boleh berserban, walaupun seorang ulama besar. Tak boleh bermahkota walaupun dia maharaja. Bukakan, tunjukkan persahabatanmu, tunjukkan bahwa kamu hidup karena Dia dan mati karena Dia. Kita disuruh bertawaf, melempar jumrah, bersama kaifiat-nya, bersama jalannya. Itulah ibadah yang tidak dapat dimasuki oleh kelicinan akal, oleh kecerdasan pikiran, oleh rasionalisme modern, atau oleh botak kepala profesor. Itulah ibadah yang hanya mengenai hati. Walaupun orang kafir mengatakan bahwa sebab cinta itu matamu telah buta. Biarlah mataku buta karena sejak mata lahirku tidak melihat alam lagi, mata batinku telah terus makrifatnya kepada Tuhanku.

Penulis: H. Abdul Malik Karim Amrullah (Buya Hamka)
Sumber: Panji Masyarakat, 6 Januari 1999.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button