Aktualita

YISC Al-Azhar Menjawab Tantangan Dakwah Kosmopolitan

Reuni akbar “lintas angkatan” alumni Youth Islamic Study Club (YISC) Al-Azhar, mulai dari angkatan 1971 sampai 2000-an, digelar Minggu 23 Juni 2024 di Aula SMP-SMA Al-Azhar Pusat, Kompleks Masjid Agung Al-Azhar Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. 

YISC Al-Azhar secara kelembagaan berdiri pada 16 Mei 1971 bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1391 H, memiliki sejarah yang unik dan menarik. Kelahiran YISC Al-Azhar, tercetus dari saran ibu-ibu pengajian Rabu sore di Masjid Agung Al-Azhar yang ketika itu menyadari belum adanya pengajian khusus untuk remaja. Di antara pengurus pengajian ibu-ibu yang dicatat dalam sejarah YISC Al-Azhar ialah Ibu R. Basari Husna. Hari dilaksanakannya pengajian perdana remaja masjid di Al-Azhar bertepatan dengan Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw dengan penceramah Prof. Oesman Raliby ditetapkan sebagai hari jadi YISC Al-Azhar.

Filomena Ibrahim dan Farida Tobri adalah dua nama aktivis yang dikenang sebagai pelopor dan pendiri YISC Al-Azhar. YISC secara organisasi berada di bawah naungan Yayasan Pesantren Islam (YPI) Al-Azhar Bagian Kepemudaan. YISC Al-Azhar merupakan organisasi remaja masjid pertama di Indonesia yang tumbuh di daerah elit dan satelit pengembangan kota Kebayoran Baru Jakarta era 1970-an.

Dalam kutipan narasi teman-teman aktivis YISC Al-Azhar pada periode 1990-an di mana saya dahulu bergabung semasa Ketua Umum YISC H.E. Benyamine, “Pilihan “masjid” dari sekian banyak tawaran budaya global bukan suatu sindrom kekalahan sosial, melainkan sebuah pilihan cerdas dalam menjawab tantangan perubahan zaman. Saat itu norma sosial dan agama nyaris tak mampu membendung kenakalan remaja. YISC Al-Azhar menampilkan karakter organisasi remaja muslim di kota besar yang memadukan karakter keislaman dan kemoderenan dalam semangat memakmurkan masjid dan belajar berorganisasi secara benar. YISC Al-Azhar diidealisasikan menjadi ajang tegur sapa dalam kebenaran dan kebaikan bagi para anggotanya. Seperti digambarkan, berdirinya YISC Al-Azhar tanpa tujuan yang muluk-muluk, melainkan untuk mengantisipasi dan mempersiapkan generasi muda dalam berhadapan dengan penyimpangan-penyimpangan modernisasi.”

YISC Al-Azhar hadir sebagai jawaban atas berbagai persoalan yang menghinggapi generasi muda dalam zaman yang terus berubah tanpa kehilangan identitas diri sebagai muslim. Perkumpulan dan organisasi yang menamakan diri “study club” ini bertujuan untuk membina generasi muda yang bertanggungjawab dan dapat mempertahankan serta memperjuangkan nilai-nilai Islam dan kesejahteraan umat. Dari tujuan tersebut di atas terangkum tiga karakteristik yang ingin diwujudkan sebagai hasil tempaan study club YISC Al-Azhar, yaitu:

Pertama, bertanggung jawab. Kedua, dapat mempertahankan diri sebagai muslim, dan ketiga, memperjuangkan kebenaran.

Pengurus IKA YISC

Ketua Umum YISC Al-Azhar pertama Filomena Ibrahim adalah mahasiswi farmasi tingkat I Universitas Indonesia (UI) dan aktivis HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Para pendiri YISC Al-Azhar sadar akan tuntutan kebutuhan remaja muslim terhadap pengetahuan dan pendidikan agama sesuai usia mereka di tengah gejala merosotnya moral dan mental generasi muda dalam arus modernisasi.

Sebagaimana pernah diceritakan Filomena Ibrahim, perhatian dan dukungan luar biasa Buya Hamka, ulama panutan umat dan Imam Besar Masjid Agung Al-Azhar kepada YISC Al-Azhar sejak mula berdiri. Seorang tokoh sekaliber Prof. Dr. Hamka dengan kebesaran hatinya bersedia menjadi cadangan, jika narasumber yang dijadwalkan berhalangan hadir. Pukul 14.00 beliau dikasih tahu, sehabis shalat ashar Buya mengisi kuliah agama di YISC. Semoga jiwa pengabdian dan kerendahan hati orang-orang besar diteladani oleh generasi penerus di masa sekarang. Alhamdulillah Ibu Filomena Ibrahim masih bisa hadir dalam reuni akbar Ikatan Alumni YISC (IKA YISC Al-Azhar) tahun 2024 ini dalam keadaan sehat wal afiat.

Saya secara pribadi menyimpulkan manfaat menjadi anggota YISC Al-Azhar ialah:
Pertama, YISC tempat menambah ilmu.
Kedua, YISC tempat berbagi pengetahuan dan wawasan dengan teman-teman.
Ketiga, YISC tempat menambah pergaulan dan persahabatan yang egaliter dan berkualitas.

Pengajian khusus anak muda di masa awal kelahiran YISC mengangkat tema sekitar “mental health” (kesehatan mental). Saya menggali kenapa tema tersebut yang dipilih. Dasar pemikirannya adalah remaja tidak hanya butuh pengetahuan keagamaan saja, tetapi juga membutuhkan jawaban dan solusi atas masalah-masalah kejiwaan. Pada usia remaja paling banyak terjadi konflik kejiwaan. Masa remaja merupakan masa transisi pembentukan identitas diri.

Sepanjang yang saya alami, pembelajaran dan pergaulan di YISC Al-Azhar tidak mengenal fanatisme mazhab dan unsur sektarian lainnya. Tidak ada sekat atau warna kelompok, golongan, ormas, ataupun afiliasi politik. Semua “anak YISC” berbaur dalam dinamika kebersamaan yang membentuk suatu komunitas belajar, berdiskusi dan mengelola organisasi sebagai ajang pembelajaran dan pembinaan jiwa kepemimpinan secara kreatif dan dinamis.

Prof. Dr. M. Syafi’i Anwar, alumni YISC

Program kuliah kelas Studi Islam Intensif YISC Al-Azhar mempunyai  jadwal tetap setiap Ahad mulai pukul 8.30 pagi sampai siang atau sore. Program kelas Studi Islam Intensif dan program ekstra kurikuler dilaksanakan sesuai peminatan para peserta. Para mentor yang mengajar kami sebagian besar alumni dan aktivis YISC di masanya.

Program ekstra kurikuler dikelola oleh kakak-kakak angkatan. Kami juga pernah menggelar kegiatan studi menghadirkan narasumber tokoh terkemuka bertempat di ruang Sekretariat YISC Al-Azhar, di dekat tangga arah utara masjid. Selain program reguler terjadwal, anak-anak YISC kerap berkumpul menggelar diskusi di taman depan Sekretariat YISC beralas tikar beratap langit di sisi utara masjid. Tempat itu dahulu kami beri nama “Taman Firdaus”.

Kegiatan YISC Al-Azhar cukup banyak, seperti Kajian Islam, Tafakur Fiddin, Ramadhan Competition, Diskusi Buku, Training MC, Jambore (Kemah Santri dan Silaturahim), Pesantren Kilat (tiap Ramadhan), Forum Cinta Ilmu (FCI), Bakti Sosial, Training Siswa SMA, Teater, dan lain-lain. YISC Al-Azhar di masa silam sukses menyelenggarakan Kemah Muharam Remaja Masjid se DKI Jakarta dan Pesantren Liburan untuk anak SD, SLTP dan SLTA. Kegiatan sosial dilembagakan dalam Pembinaan Adik Asuh YISC (PAYISC). Seluruh kegiatan YISC dibiayai secara mandiri dari iuran anggota YISC sendiri.

Pengurus dan anggota YISC Al-Azhar terdiri dari mahasiswa, karyawan kantor, bahkan ada yang masih duduk di bangku SMA. Batas usia mendaftar dan aktif sebagai Anggota YISC adalah 17 – 30 tahun. Ketua Umum YISC Al-Azhar dipilih melalui Musyawarah Lengkap (Musleng) untuk periode dua tahun. Musleng YISC merupakan forum tertinggi organisasi dan forum yang mencerminkan kedaulatan anggota.

Sebagai organisasi yang menghimpun potensi anak muda YISC Al-Azhar pernah menorehkan prestasi sukses menyelenggarakan event seminar nasional tentang pemikiran dan perjuangan para tokoh bangsa yaitu:

Pertama, Seminar Pemikiran Buya Hamka tanggal 13 – 14 November 1989 di Hotel Sahid Jaya Jalan Sudirman Jakarta. Seminar Pemikiran Buya Hamka dihadiri Mohammad Natsir dan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) K.H. Hasan Basri.

Kedua, Seminar Pemikiran dan Perjuangan Mohammad Natsir tanggal 16 – 17 Juli 1994 di Gedung Menara BDN Jalan M.H. Thamrin Jakarta. Makalah dan transkrip dialog seminar tentang Pak Natsir diterbitkan menjadi buku atas prakarsa YISC Al-Azhar di masa itu.

Ketiga, Seminar Pemikiran dan Perjuangan Mr. Sjafruddin Prawiranegara tanggal 9 – 10 September 1995 di Gedung LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Jalan Jenderal Gatot Subroto Jakarta. Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang juga Imam Besar Masjid Agung Al-Azhar K.H. Hasan Basri hadir dan sekaligus membuka acara. Ibu Sjaf dan putra-putri Pak Sjaf juga hadir. Tampil sebagai pembicara dalam seminar pemikiran Mr. Sjafruddin Prawiranegara, antara lain Dr. H. Anwar Harjono, SH dan A.M. Fatwa.

Seminar nasional mengangkat pemikiran dan perjuangan tokoh-tokoh ex- Masyumi di tengah iklim politik Orde Baru masa itu dapat disebut sebagai suatu “keberanian” dan debut prestasi bagi YISC Al-Azhar.

Pada tanggal 2 Januari 2022 dibentuk Ikatan Alumni (IKA) YISC Al-Azhar yang meliputi Dewan Penasihat, Dewan Pengawas dan Dewan Pengurus. Ketua Umum IKA YISC terpilih secara aklamasi Prof. Dr. dr. Dwiana Ocviyanti, SpOG (K), MPH, didampingi anggota pengurus lainnya. Dewan Penasihat IKA YISC diketuai Prof. M. Syafii Anwar, Ph.D.

Dalam menjawab tantangan dakwah kosmopolitan dan estafet perubahan generasi, karakteristik dan identitas “study club” tidak boleh memudar, melainkan harus dijaga, diperkuat dan dikembangkan di lingkungan YISC Al-Azhar. Meski terjadi pergeseran minat pemuda/remaja dalam mengikuti program pembelajaran tatap muka di masjid dibanding beberapa dekade lampau yang bahkan melebihi kapasitas penerimaan anggota baru, aktivitas rutin YISC Al-Azhar tak pernah berhenti, kecuali sewaktu pandemik COVID-19 melanda seantero negeri.  

Mas Syafi’i Anwar, alumni YISC

Perubahan kondisional seperti digambarkan di atas, menjadi tantangan keberlanjutan dan pengembangan YISC Al-Azhar sekarang dan ke depan. Tantangan kekinian harus dijawab, antara lain dengan melakukan transformasi, adaptasi dan inovasi kreatif model pembelajaran di era digital ini, misalnya pembelajaran hibrid luring dan daring serta inovasi lainnya, disesuaikan pemetaan minat anggota YISC Al-Azhar dan kebutuhan pemuda/remaja muslim perkotaan umumnya.

Kegiatan memakmurkan masjid melalui kegiatan “study club” perlu dipertahankan selamanya sesuai tujuan dan niat awal berdirinya YISC Al-Azhar tahun 1971 silam. Disadari atau tidak, pembelajaran agama dan kajian agama menjadi kebutuhan rohani umat dalam seluruh tingkatan kemajuan peradaban. Seandainya anak-anak muda tidak menemukan sumber dan referensi belajar agama yang tepat dan benar, tentulah sumber-sumber referensi lain yang akan mengisinya di era kontestasi paham, aliran atau ideologi yang kian terasa.     

Perjalanan usia YISC Al-Azhar telah lebih dari setengah abad atau 53 tahun. Kenapa organisasi ini bisa bertahan dan berkembang, justru karena studi dan kajian keislaman yang diselenggarakan YISC Al-Azhar menghadirkan iklim kemerdekaan berpikir dilandasi keteguhan dalam keyakinan akidah islamiyah. YISC Al-Azhar secara potensial maupun aktual sejatinya merupakan salah satu kekuatan kultural dan “anak panah” dakwah Masjid Agung Al-Azhar. YISC Al-Azhar sebagai organisasi pemuda/remaja masjid dan komunitas belajar berbasis masjid diharapkan terus menyala.

M. Fuad Nasar

Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama di lingkungan Kementerian Agama RI, Penggiat Literasi. Ia juga penulis tetap majalah Panji Masyarakat dan panjimasyarakat.com

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button