Stasiun-stasiun kereta api, pelabuhan-pelabuhan penyeberangan, terminal-terminal bus, dan bandar-bandar udara kembali diserbu calon penumpang. Jalan-jalan tol yang terus bertambah seakan tidak mampu menampung terutama kendaraan-kendaraan yang kerap tampak merayap layaknya semut/ Belum lagi sepeda-sepeda motor, yang selain meramaikan jalan raya, juga menjejali kapal-kapal ferry.
Sejatinya itu bukan pemandangan baru, tapi sudah menjadi semacam ritual tahunan beberapa hari menjelang dan setelah lebaran. Namanya mudik, atau pulang ke tempat asal atau kampung halaman. Berkumpul bersama keluarga dan sanak-saudara, mengeratkan kembali tali silaturahim yang mengendur akibat berbagai kesibukan. Apalagi setelah dua kali lebaran hanya praktis mengurung diri di rumah. Tetapi mengapa mudik?
Di zaman ketika orang mudah bepergian, pulang kampung bisa dilakukan kapan mau. Silaturahmi pun bisa lebih erat berkat dengan menggunakan aneka macam aplikasi pada telepon genggam. Tapi itu tidak bisa menggantikan mudik yang boleh jadi kurang bermakna jika tidak dihubungkan dengan lebaran atau hari raya Idul Fitri. Dan untuk itu orang rela membuat antrean panjang dan menempuh kemacetan di jalan raya. Atau bahkan membeli tiket pesawat dengan harga tidak masuk akal.
Mudik lebaran, juga Idul Fitri, kedua-duanya mengandung pengertian “kembali”. Yang satu kembali ke tempat muasal, yang satu lagi kembali kepada kesucian. Yakni kembalinya manusia kepada asal mula kejadiannya sebagai makhluk fitrah yang suci dan baik. Mudik lebaran, dengan demikian, merupakan sebuah prosesi untuk kembali kepada kesucian dan kebaikan diri. Prosesi ini sejatinya sudah dimulai sejak awal Ramadan, karena pada dasarnya puasa merupakan upaya untuk memperoleh kesucian dan kebaikan diri itu. Kesucian ini diperoleh setelah kita mendapat pengampunan dari Allah SWT. Hanya saja, ampunan itu cuma diberikan kepada orang-orang yang menjalani puasa dengan penuh keimanan dan introspeksi diri.
Mudik, dengan begitu, bukanlah pulkam alias pulang kampung biasa. Tapi sebuah perjalanan penyucian diri untuk menjadi manusia baru setelah kembali ke fitrah. Adalah fitrah yang menuntun manusia berbuat kebajikan dan tunduk kepada Sang Maha Pencipta. Jika ada seseorang yang tidak berbuat kebaikan dan berpaling dari Sang Pemberi hidup, maka sesungguhnya dia telah menyimpang dari fitrah-nya sendiri.
Seperti halnya berbuat kebaikan, iman juga merupakan fitrah manusia. Iman sendiri, sebagai bentuk kesadaran paling dalam mengenai asal dan tujuan hidup, bersifat dinamis, karena bisa bertambah dan berkurang. Ia juga menjadi absurd atau sebatas klaim jika tidak dimanifestasikan ke dalam perbuatan nyata yaitu amal kebajikan. Oleh karena itu, penyebutan “orang-orang beriman” di dalam Alquran selalu diikuti penyebutan “orang-orang yang beramal saleh.” Untuk itu pula, manusia harus kembali kepada fitrah-nya yang suci dan baik itu. Secara simbolik perayaan kembali ke fitrah itu disambut dengan mengenakan pakaian baru. Meski begitu, Nabi mengingatkan bahwa Idul Fitri sesungguhnya bukan bagi mereka yang pakai baju baru, tetapi bagi yang takwanya bertambah. Bukankah dengan berpuasa orang diharapkan menjadi takwa?
Pengertian takwa yang sederhana dan sering kita dengar adalah “menunaikan segala yang diperintahkan dan menjauhi segala yang diharamkan.” Takwa merupakan mahkota kehidupan bagi orang mukmin. Allah pun menyebut bahwa “orang yang paling mulia di antara kalian adalah orang yang paling bertakwa.” Tetapi siapa yang bisa disebut paling takwa? Tidak ada yang bisa mendaku bahwa seseorang lebih bertakwa dari yang lainnya. Allah pun hanya menyuruh agar semampu mungkin orang untuk bertakwa. Sementara Nabi menyatakan bahwa takwa itu “haa huna (dia di sini)” seraya menunjuk dadanya. Yakni tindakan yang berhubungan dengan hati seperti kejujuran, ketulusan, keikhlasan dan seterusnya.
Idul Fitri juga disebut hari raya kemenangan. Kemenangan itu diraih karena telah sukses mengendalikan hawa nafsu selama sebulan penuh, sehingga mengantarkan pada level yang disebut Imam Ghazali nafsu muthmainnah. Nafsu yang membuat jiwa bisa tenang yang nampu melahirkan sikap dan perbuatan terpuji, dan membentengi diri dari serangan kejahatan dan kekejian. Mendorong kebaikan dan menghindarkan diri dari pekerjaan yang keji dan yang mungkar.
Semoga kita menjadi bagian dari orang-orang yang kembali kepada kesucian diri – dan menjadi pemenang. Minal aidin walFaizin

