Mengapa China melaju, sementara Indonesia masih sibuk bertanya kapan menjadi negara maju? Jawaban paling gampang: orang China disiplin, orang Indonesia santai. Masalahnya, itu bukan analisis, melainkan stereotip. Bangsa tidak maju hanya karena manusianya rajin. Bangsa maju ketika manusia, pendidikan, modal, teknologi dan institusi bekerja dalam sistem yang menghasilkan produktivitas. China berhasil mengubah penduduk besar menjadi pasar, tenaga produktif dan kekuatan industri. Manusia banyak tanpa sistem produktif hanyalah angka yang panjang.
Indonesia sebenarnya tidak kekurangan modal. Penduduk besar, pasar luas, sumber daya alam melimpah dan posisi strategis adalah kekayaan luar biasa. Tetapi kita sering keliru menganggap potensi sebagai prestasi. Nikel bukan teknologi. Batu bara bukan industri. Sarjana bukan otomatis kompetensi. Bonus demografi bukan otomatis kemakmuran. Semua itu baru bernilai jika diubah menjadi produktivitas. Kekayaan alam hanya bahan baku; kecerdasan manusia dan kualitas institusi yang menentukan apa jadinya.
Kita juga terlalu sering mengukur kualitas SDM dari ijazah. Dunia tidak membutuhkan manusia yang sekadar pandai menjawab soal, tetapi manusia yang mampu memecahkan masalah. China mempertemukan pendidikan, riset dan industri sehingga pengetahuan dapat berubah menjadi teknologi dan produk. Dari produksi sederhana mereka belajar membuat produk semakin kompleks. Pelajarannya sederhana : negara maju bukan karena banyak orang sekolah, tetapi karena ilmu yang dipelajari mampu menghasilkan nilai.
Lalu kita menyalahkan geografi. Indonesia kepulauan, katanya terlalu sulit maju. Tetapi Jepang juga kepulauan. Singapura bahkan miskin sumber daya alam. Geografi memang menciptakan biaya, tetapi bukan vonis. Masalah sebenarnya adalah apakah ribuan pulau mampu dihubungkan menjadi satu jaringan ekonomi. China membangun jalan, pelabuhan, energi dan kawasan industri sebagai satu ekosistem produksi. Kita pun membangun infrastruktur, tetapi jangan cepat bangga pada beton. Jalan tol baru berarti jika ia mempercepat produktivitas, bukan sekadar mempercepat kendaraan.
Kita juga masih nyaman menjual komoditas. Hilirisasi penting, tetapi mengubah bahan mentah menjadi barang setengah jadi belum sama dengan menguasai teknologi. Kalau kita menggali lebih dalam tetapi masih membeli teknologi dari luar, kita belum sepenuhnya naik kelas. China belajar melalui produksi:0 membuat, gagal, memperbaiki, membuat lagi, lalu naik ke produk yang lebih rumit. Kemampuan industri tidak turun dari langit; ia ditempa oleh pengalaman produksi.
Karena itu, mengatakan “SDM kita kurang berkualitas” terlalu mudah. Bisa jadi manusianya tidak kurang pintar, tetapi sistemnya0 kurang mampu memanfaatkan kepintaran. Peneliti tanpa fasilitas, insinyur tanpa industri maju, dan anak muda kreatif tanpa akses modal hanya akan menjadi potensi yang menganggur. Pendidikan, riset, industri, infrastruktur dan institusi harus bekerja dalam satu ekosistem. Kalau sistemnya buruk, orang hebat pun bisa menghasilkan pekerjaan biasa-biasa saja.
Jadi masalah Indonesia bukan kekurangan manusia, alam, pasar atau potensi. Masalahnya adalah kemampuan mengubah semuanya menjadi produktivitas. Kita terlalu sering merayakan apa yang kita miliki, tetapi terlalu jarang menghitung apa yang berhasil kita hasilkan. China memberi pelajaran penting: bangsa besar bukan bangsa yang paling banyak memiliki potensi, melainkan bangsa yang mampu mengubah potensi menjadi kemampuan, kemampuan menjadi produktivitas, dan produktivitas menjadi kemakmuran. Pertanyaan kita bukan kapan menjadi China. Pertanyaannya jauh lebih mengganggu : kapan kita berhenti menganggap potensi sebagai prestasi?
Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten



