Bulan Januari mengingatkan kita antara lain kepada jasa-jasa seorang akademikus, guru besar, dan penulis yang kebetulan berkebangsaan Amerika, tetapi mempunyai perhatian, bukan saja secara ilmiah tentang Indonesia dan Asia Tenggara pada umumnya melainkan juga secara pribadi, disertai kepedulian dan perasaan yang mendalam. Namanya George McTurnan Kahin, yang lahir di Baltimore (Amerika Serikat), 25 Januari 1918, dan meninggal dunia di Ithaca, N.Y., pada 29 Januari 2000 setelah menderita komplikasi sakit jantung beberapa lama.
Ithaca merupakan tempat kedudukan Cornell University, tempat dia mengabdikan diri sejak 1951. Penyakit jantung menyerangnya mula-mula pada 1956 ketika ia sedang mengatur penelitian di Jakarta, yang menyebabkan dia terbaring di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo sekitar seminggu dengan mendapat perawatan seadanya di rumah sakit kita terbesar itu. Penyakit ini, yang kemudian sangat mengancamnya, menyebabkan ia segera kembali ke Amerika Tetapi kemudian masih saja ia berkali-kali datang ke Indonesia, malah juga ke Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, Kamboja, juga India.
Dalam hubungan dengan Indonesia (dan Asia Tenggara pada umumnya) George—demikian ia akrab dipanggil — memperlihatkan kepedulian yang sangat, dalam pikiran, perasaan, dan sikap. Tentu persyaratan akademis tidak ia abaikan. Tulisan-tulisan dan sikapnya senantiasa menyuruh ia menggali persoalan bangsa-bangsa bersangkutan dengan perasaan dan sikap peduli, ditambah dengan saran memecahkan dan menyelesaikannya dengan hati nuraninya—dan ini berarti lebih bersesuaian dengan kepentingan bangsa dan daerah bersangkutan. Sebagai lanjutannya, kepedulian ini menyuruh George—ketika ia di Universitas Cornell — memimpin Program Kajian Asia Tenggara (Southeast Asia Programe) sejak 1951 (di samping sebagai dosen Ilmu Politik di Departemen Pemerintahan (Politik) sampai praktis beberapa tahun sebelum ia meninggal dunia.
Melalui program ini George membangkitkan perhatian banyak anak muda dari berbagai bangsa, termasuk Amerika, Asia Tenggara, Jepang, dan Inggris untuk mempelajari dengan dalam soal-soal kawasan Asia Tenggara di universitasnya, termasuk Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, Laos, Kamboja, Birma, dan Filipina. Dengan adanya kajian Far Eastern Studies (Timur Jauh), kajian Asia Tenggara pun menelusuri hubungan dengan Timur Jauh. Kajian ini meliputi berbagai bidang pengetahuan, termasuk sosial, budaya, ekonomi, politik, dan tentu juga paham-paham bersangkutan (seperti agama dan berbagai macam ideologi, termasuk nasionalisme, sosialisme, serta komunisme).
Pada umumnya di antara anak-anak muda ini yang berhasil secara akademis, yang menambah tenar nama Cornell, menambah banyak hasil studi tertulis sebagai buah kajian masing-masing. Termasuk umpamanya yang saya kenal ketika belajar di Cornell adalah Harry J. Benda, The Crescent and the Rising Sun (W. van Hoeve, Den Haag, 1958); John O. Sutter, Indonesianisasi: Politics in a Changing Economy 1940-1955 (Comell Southeast Asia Programe, 1959). John Sutter pernah mengepalai perwakilan The Asia Foundation di Jakarta beberapa tahun lamanya sekitar 1988.
Lalu Herbert Feith dari Australia yang telah meninggal satu-dua tahun yang lalu dengan mengenaskan: ditabrak truk ketika mengendarai sepeda di Melbourne. Bukunya yang terkenal antara lain The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia (Cornell University Press, 1962). Ben Anderson dari Irlandia yang menetap di Ithaca, dan kini memimpin Program Asia Tenggara di Cornell, bukunya antara lain Mythology and the Tolerance of the Javanese (Cornell Modern Indonesia Project, 1965). Ben terkesan cinta betul dengan sesuatu dan yang berbau Jawa. Ruth McVey, yang mungkin menetap di Inggris belakangan ini, yang banyak menulis tentang komunis Indonesia — untuk ini ia menggali sumber-sumber sampai di Moskow. Bukunya antara lain The Rice of Indonesia Communism (Cornell University & Yi 1965).

Daniel Lev yang baru-baru ini masih menyempatkan ke negeri kita (dengan memberi komentar agak negatif tentang sikap dan pernyataan Presiden Bush tentang terorisme) menulis di antaranya, The Transition to Guided Democaooy: Indonesian Politics 1957-1959 (Cornell Modern Indonesia Project, 1966). Ia kini mengajar (‘Washington University, Seattle. Ada pula Barbara Harvey, Permesta: Half a Rebellion (Cornell Modern Indonesia Project, 1977). Barbara pernah menjadi konsul Amerika Serikat di Surabaya dan orang kedua di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta beberapa thun yang lalu. Tentu pula Audrey Kahin, istri George, berasal dari Inggris, yang setelah menikah senantiasa mendampingi suaminya bepergian ke Asia Tenggara. Audrey berminat dalam soal Minangkabau dan memperoleh gelar doktornya di Comell dengan disertasi “Struggle for Independence: West Sumatera in the Indonenesian National Revolution, 1915-1950”, yang merupakan bahan bukunya yang terbit 1999: Rebellion to Integration: West Sumatera and the Indonesian Polity (Amsterdam University Press). Dan agaknya sudah puluhan, bahkan mungkin ratusan, hasil para lulusan Cornell yang secara langsung ataupun tak langsung mendapat bimbingan dari George. Baik Southeast Asia Programe maupun Cornell Indonesia Project menerbitkan terjemahan tulisan tokoh-tokoh di Asia Tenggara, khususnya Indonesia, di antaranya Soekarno, Moh. Hatta, Sjahrir, Mohammad Natsir, dan Soedjatmoko.
Buku George Kahin yang terakhir setelah ia meninggal dunia, Southeast Asia: A Testament, diterbitkan pada 2003 oleh Routlege Curzon, New York. Buku ini merupakan memoar George Kahin tentang pengenalannya dengan Asia Tenggara, dimulai pada 1948 di Indonesia dan diakhiri dengan kunjungannya beberapa kali ke Vietnam, Kamboja, dan Laos, beberapa tahun sebelum ia meninggal. George dan Audrey belakangan memang sering ke Indonesia, terutama karena Audrey memerlukan bahan-bahan tentang daerah Minangkabau untuk disertasi dan bukunya. Audrey memang merupakan pembantu George yang cekatan. Tetapi ketika Audrey datang ke Indonesia pada 1998, George hanya mengantarkan dan menunggunya di Singapura. Kondisi kesehatan George tidak mengizinkannya untuk terlalu aktif bepergian.
Tulisan ini bersumber, di antaranya dari pengenalan pribadi (penulis) dengan George dan Audrey, juga dengan tulisan-tulisannya yang bertebaran, terutama tulisan terakhirnya, berupa testamen tadi. Bersambung

Penulis: Prof. Dr. Deliar Noer ( 1926-2008), ilmuwan politik, guru besar dab rektor IKIP Jakarta (kini UNJ). Meraih gelar Ph.D. dari Cornell University (1963). Pada awal reformasi penulis produktif ini mendirikan Partai Ummat Islam.
Sumber: Majalah Panjimas, 6-19 Februari 2003.


