Relung

Agresi Israel-Amerika terhadap Iran: Iman yang Kehilangan Sentuhan Kemanusiaan

Dunia Islam kembali terguncang,  Bukan hanya oleh agresi kekuatan eksternal, melainkan juga oleh kerapuhan ukhuwah, dan solidaritas internal  umat yang mengkhawatirkan.

Agresi militer yang dilancarkan oleh Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran—yang secara tragis menyebabkan gugurnya Ayatullah Ali Khamenei,  pemimpin tertinggi negara itu —seharusnya menjadi momen duka universal bagi kemanusiaan dan solidaritas dunia Islam. Namun, di balik dentuman rudal dan puing-puing kehancuran di Teheran, kita menyaksikan pemandangan yang tak kalah menyakitkan:  sebuah kegembiraan yang ganjil.

​Di berbagai kanal media sosial, khususnya yang dikelola oleh kalangan penganut Wahabi dan Neo-Salafi, narasi yang muncul bukanlah simpati atau kutukan terhadap agresi, melainkan ekspresi syukur. Mereka merayakan kematian tersebut dengan dalih bahwa yang menjadi korban adalah penganut Syiah yang mereka anggap kafir atau menyimpang. Tak syak lagi, fenomena ini memunculkan sebuah pertanyaan telak:   Apa arti sebuah iman jika radar kemanusiaan kita mati hanya karena perbedaan mazhab?

​Dalam beberapa tahun terakhir, kita menyaksikan menguatnya narasi eksklusivisme teologis yang sangat kaku. Bagi kelompok puritan ini, batas persaudaraan tidak lagi diletakkan pada kalimat Tauhid  dalam payung besar umat manusia, melainkan pada sejumlah  doktrin akidah yang tidak sejalan atau dianggap menyimpang.

​Ketika pemimpin sebuah bangsa yang sedang berjuang melawan imperialisme gugur, kelompok-kelompok ini justru melihatnya sebagai “kemenangan teologis” atau pembersihan terhadap pihak yang mereka labeli “ahli bid’ah”. Di titik inilah, agama berhenti berfungsi sebagai penuntun moral dan rahmat semesta. Ia  berubah menjadi ideologi kelompok yang dingin dan mematikan empati.

​Ironi ini semakin nyata di jagat digital. Jika kita menelusuri platform X, Telegram, atau grup-grup WhatsApp yang berafiliasi dengan narasi Wahabi-Salafi, pola dehumanisasi sangat jelas terlihat. Mereka menggunakan istilah “Rafidhah” bukan sekadar sebagai label mazhab, melainkan sebagai alat untuk mencabut nilai kemanusiaan korban.

​Dalam logika mereka, karena akidah orang-orang Iran dianggap berbeda, maka darah mereka menjadi “murah” dan kematian pemimpin mereka layak dirayakan. Narasi ini sering kali dibungkus dengan kutipan teks-teks keagamaan yang dipahami secara literalis. Seolah kebencian sektarian adalah bagian dari ajaran baku agama. Padahal, memisahkan iman dari rasa kemanusiaan saat melihat manusia lain dizalimi adalah bentuk pengkerdilan makna beragama itu sendiri.

A. Suryana Sudrajat

A. Suryana Sudrajat, pemimpin redaksi panjimasyarakat.com dan majalah Panji Masyarakat; editor dan penulis buku; pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyar, Serang, Banten; anggota Dewan Pembina Salakanagara Institute.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button