Cakrawala

Kombinasi Kehidupan Material dan Spiritual, Solusi Hidup Sempurna

Keseimbangan dalam hidup ini adalah doktrin paling penting dalam ajaran Islam. Manusia adalah makhluk yang sempurna jika ia hadir memenuhi kebutuhan hidup yang tidak hanya cenderung pada salah satu saja dari kebutuhannya. Pada era kehidupan modern saat ini manusia bertumpu mengejar kehidupan materi dan duniawi. Seolah-olah itulah target utama kehidupan, sedangkan yang lainnya dianggap tidak berguna. Kalau pandangan ini terus mendominasi kehidupan manusia, dikhawatirkan kehidupan ini menjadi “ladang perebutan” di antara manusia.

Investasi kehidupan duniawi atau mengejar kehidupan materi jika tidak terkendali bakal melahirkan manusia yang tidak pernah puas. Dorongan nafsu dan ego manusia merangsang untuk selalu dipuaskan tanpa melihat dan memedulikan segi-segi moralitas yang seharusnya dijaga dan dipelihara demi terwujudnya kehidupan yang aman, nyaman dan damai sesama manusia. Sebab, jika hal ini gagal dipelihara maka manusia akan menjadi serigala sesama manusia (homo homini lupus) yang saling menyingkirkan  dan berbuat kejam.          

Hidup di era sekarang sangat dipengaruhi oleh materi dan kekayaan. Di samping kekayaan manusia juga mengejar jabatan dan kekuasaan. Jika kekayaan, jabatan dan kekuasaan sudah diperoleh maka itulah manusia yang sempurna.  Manusia yang memiliki banyak hak-hak istimewa dan kedudukan sangat terhormat di masyarakat. Karena istimewanya posisi orang kaya dan berkuasa maka mata manusia dan hatinya tidak lagi memikirkan dimensi lain yang juga harus dipenuhinya.

Dimensi lain kehidupan yang harus dipenuhi manusia adalah aspek spiritual. Jika kapital atau modal (harta) yang harus dipenuhi manusia, maka aspek material yang sedang viral dikejar sekarang ini barulah 50 persen kehidupan. Lima puluh persen lainnya adalah aspek spiritual, yang terkait dengan pemenuhan batin, rohaniah dan  spiritual.   

Jika kebutuhan material hanya memenuhi kepuasan fisik dan raga. Sedangkan kebutuhan spiritual memenuhi kepuasan batin, kepuasan hati dan jiwa. Kebutuhan spiritual diwujudkan dalam laku yang berkaitan dengan perbuatan kemanusian. Pada kepuasan batin yang didapat ketika berbuat baik, ketika senang beramal, kala merasa puas saat menolong orang dalam kesulitan dan penderitaan hidup, yang dalam ajaran Islam disebutkan dengan perbuatan amal saleh.

Kontradiksi atau mempertentangkan  antara kebutuhan spiritual dan kebutuhan material hanya akan melahirkan manusia yang hidup dalam kebimbangan. Suatu keadaan psikologis yang tidak stabil dan tidak punya kemantapan jiwa dalam kehidupan. Sebaliknya memilih salah satu saja dari kebutuhan hidup manusia yang terdiri dari dua dimensi ini –rohaniah dan jasmaniah—bisa menjebak manusia dalam pilihan hidup berupa kepribadian yang  terbelah atau split personality. Dominasi materi dalam kehidupan menyebabkan manusia tidak memiliki arah dan tujuan dalam hidup. Manusia bukanlah makhluk yang hidup bisa abadi dan langgeng di dunia ini. Ada saatnya manusia berpisah dengan dunia materi karena keterbatasan usia dan tidak bisa mencegah kematian. Semuanya ini bakal mengganggu jiwa manusia dengan pertanyaan apakah ada kehidupan sesudah kematian. Dan, bagaimana nasib dan keadaan sesudah kematian. Apakah di alam yang masih gaib tersebut terdapat penderitaan dan kebahagiaan. Bagaimanapun manusia merasa cukup dengan kekayaan materi yang diperolehnya, namun pertanyaan yang bersifat metafisik ini tidak bisa dipupus dan dihilangkan dalam pikiran dan batin manusia.

Sebaliknya jika manusia  hanya mementingkan aspek rohaniah dan terikat dengan pikiran dan perilaku yang mengutamakan rohaniah dan tidak memedulikan kehidupan dunia, kehidupan manusia juga timpang. Hidup manusia di dunia butuh sandang, pangan dan perbekalan lainnya. Jika manusia menihilkan kehidupan dunia dan menafikannya, maka hidup manusia juga akan menderita. Hidup di dunia tidak lepas dari banyak masalah yang muncul yang semuanya harus diatasi dengan kecerdasan dan kemampuan yang cukup. Tanpa kemampuan tersebut maka kehidupan di dunia ini juga akan membuat manusia menderita.

Solusi terbaik mencari kesempurnaan hidup adalah mengombinasikan kebutuhan lahiriah dan rohaniah, kebutuhan material dan spiritual. Dalam Islam penjelasan ini sangat terang. Dua ayat dalam dua surat Al-Qur’an menyatakan hal ini. Pada surat Al-Qashash ayat 77 Allah berfirman, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah kepada (orang lain) sebagaimana Allah  telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Kemudian pada surat Ash-Shaff ayat 10-11 Allah juga menjelaskan, ”Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? Yaitu kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya.”

Dalam dua ayat dan dua surat Al-Qur’an di atas menunjukkan bahwa manusia disuruh mencari kebahagiaan akhirat (rohaniah), namun jangan lupa mencari pula kebahagiaan hidup di dunia. Kemudian  pada ayat yang satunya lagi juga dijelaskan bahwa jenis perdagangan itu bukan hanya perdagangan dunia yang bisa mengumpulkan kekayaan dan kebahagiaan di dunia, tetapi juga ada jenis perniagaan akhirat yang bisa mencegah manusia dari siksaan hidup yang pedih di akhirat.

Pada konsep Al-Qur’an ini juga bisa dijelaskan dan disimpulkan bahwa kesempurnaan hidup dan kebahagiaan hidup manusia yang mampu mengombinasikan pemenuhan hidup rohaniah dan jasmaniah jika manusia memiliki Iman dan keyakinan yang kuat pada Allah. Iman kepada Allah merupakan kekuatan pendorong agar manusia mampu mengombinasikan kebutuhan rohaniah dan jasmaniah. Dengan iman manusia bisa menciptakan investasi dan kapital rohaniah dan jasmaniah. Iman manusia kepada Allah memotivasi manusia meniru sifat-sifat Allah yang maha baik, yaitu berbuat baik dan berbuat amal saleh kepada manusia. Dengan Iman manusia meraih sifat-sifat terpuji dan terdorong menolong sesama manusia. Allah yang telah banyak memberi manusia rahmat dan  rezeki dalam kehidupan yang sangat banyak ini, juga harus ditiru manusia untuk melakukan perbuatan kebajikan yang sama. Bila Iman dan sifat-sifat Allah yang maha baik ini sudah mampu ditiru manusia, maka itu artinya manusia telah mampu mengombinasikan kebutuhan rohaniah dan jasmaniah dalam diri manusia. Dan inilah sesungguhnya kehidupan yang sempurna.

Kita lihat perilaku manusia sekarang ini yang terlibat dalam perbuatan dan perilaku korupsi yang sudah sangat luar biasa dalam kuantitas yang besarannya mencapai miliaran dan bahkan triliunan, dan jenisnya pun bukan hanya bidang ekonomi dan bisnis, bahkan yang dikorup bidang keagamaan seperti biaya perjalanan haji. Ini menunjukkan betapa syahwat untuk melakukan kapital materi yang  sungguh luar biasa. Dan, juga terlihat betapa manusia dirasuki kemewahan hidup dengan mengoleksi barang-barang yang nilainya mencapai miliaran, padahal untuk kebutuhan yang sederhana seperti jam tangan dan tas yang harganya mencapai miliaran. Kemudian mengoleksi mobil dalam jumlah puluhan yang melebihi kebutuhan. Kalau semuanya itu diperoleh dengan cara yang legal dan halal, tidak masalah namun ada yang mengumpulkannya dengan cara korupsi dan merugikan rakyat dan negara. Semuanya ini bagian dari pemenuhan nafsu manusia yang didorong untuk mengkapital materi. Termasuk juga dalam perbuatan mengapital materi dalam nafsu menguasai tanah, bahkan laut pun ingin dikuasai dan disertifikatkan, menunjukkan nafsu mengkapital materi dan harta yang sudah terkendali kuat oleh syahwat.

Keadaan ini akan sangat berbahaya bila nafsu syahwat terus berlanjut dan tidak terkendali secara proporsional dan adil. Akan mendorong kecemburuan sosial sebagai bibit untuk menimbulkan situasi chaos atau kacau. Di tanah air kita beberapa waktu lalu terjadi penjarahan terhadap rumah para pejabat dan wakil rakyat yang dinilai punya perilaku yang tidak simpatik dan tidak punya empati. Rakyat marah dan mengamuk melakukan penjarahan karena mereka berjoget ria di tengah rakyat yang hidup susah, sementara mereka mendapatkan berbagai fasilitas kehidupan yang menyenangkan. Ini adalah contoh dan pelajaran bahwa semata hidup hanya mengalkulasi dan mengkapitalisasi materi bisa mengundang amuk rakyat dan kekacauan, yang juga seperti terjadi di Nepal, di mana rakyat menyerang dan menghukum dengan menghinakan para pejabatnya karena kurang peduli pada rakyat, dan hanya mementingkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup mereka. Karena itu himbauan perkayalah diri dengan mengkapital kebutuhan spiritual untuk termotivasi dan tergugah berbuat baik adalah modal penting meraih kebahagiaan dan kesempurnaan hidup, selain memenuhi kebutuhan materi. Allahu a’lam.

Penulis Prof.Dr. Amsal Bakhtiar,MA, Dosen dan Plt Wakil Rektor Bidang Perencanaan Keuangan dan Pengembangan Usaha Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Depok, Jawa Barat

Amsal Bakhtiar

Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, MA, Dosen dan Plt. Wakil Rektor Bidang Perencanaan Keuangan dan Pengembangan Usaha Universitas Islam Internasional Indonsia (UIII), Depok.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button