Ibadah Haji

Filosofi Kurban, Upaya Dekat dengan Allah

Salah satu ibadah yang diamalkan umat Islam di saat Idul Adha adalah melakukan penyembelihan hewan kurban. Sebenarnya, hari raya Idul Adha itu sendiri mengandung arti Hari Raya Kurban.

Ada tiga nama  untuk hari raya Idul Adha. Pertama, Idul Haj. Id berarti hari raya. Haj artinya memenuhi panggilan Allah. Jadi Idul Haj berarti berhari raya dengan memenuhi panggilan Allah dengan melaksanakan ibadah haji. Kedua, Idul Adha. Adha memiliki makna “penyembelihan ternak kurban”. Karena itu Idul Adha artinya umat Islam pada 10 Zulhijah melaksanakan hari raya dengan melakukan penyembelihan hewan kurban. Ketiga, Idul Qurban. Qurban berasal dari kata qarraba, yuqarribu, qariib yang berarti dekat. Sehingga makna Idul Qurban bisa diterjemahkan secara harfiah “Hari Raya Dekat”.

 

Dengan demikian, makna Idul Qurban bisa dipahami bahwa baik muslim yang melakukan ibadah haji, maupun yang menyembelih ternak, dan yang tidak melakukan kedua ibadah tersebut, mereka tetap memperlihatkan sikap secara demonstratif bahwa dalam hidup ini hanyalah Allah semata yang dekat dalam kehidupan kita kaum muslim (Bekal Hidup, CV Haji Mas Agung, Jakarta, hal.96-97).

Allah Dekat dengan Manusia

Hikmah dan keutamaan kurban sudah banyak dijelaskan dalam Qur’an maupun hadist Nabi. Dalam Al-Qur’an surat Al-Hajj ayat 34 Allah berfirman, ”Dan bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembilahan (kurban) agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang dikaruniakan Allah kepada mereka berupa hewan ternak. Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan sampaikanlah (Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).”

Sedangkan hadis Nabi mengatakan, ” Tidak ada suatu amalan yang dikerjakan anak Adam (manusia) pada hari raya Idul Adha yang lebih dicintai oleh Allah dari menyembelih hewan. Karena hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku-kuku kakinya. Darah hewan itu akan sampai di sisi Allah sebelum menetes ke tanah. Karenanya, lapangkanlah jiwamu untuk melakukannya.” (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Idul Adha dengan makna “dekat” memberikan arti dan pemahaman penting bagi kita supaya lebih mendekatkan diri kepada Allah. Sebab, sesungguhnya siklus ibadah kita kepada Allah setiap hari yang kita lakukan adalah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.  Seperti shalat adalah sebuah contoh. Setiap hari kita shalat lima waktu sehari semalam, seratus lima puluh kali sebulan, dan seribu delapan ratus kali setahun. Semua itu adalah upaya dan ikhtiar kita mendekati Allah. Dengan ibadah shalat tersebut kita berharap terbentuk sikap mental kita untuk dekat kepada Allah. Demikian juga ibadah kita yang lain seperti amal shaleh, baik berupa pengorbanan harta atau  berbuat kebaikan, semua itu  upaya kita  untuk dekat dengan Allah.

Makna lain dari dekat kepada Allah itu juga mengandung arti bahwa dalam menjalani kehidupan kita harus berpihak kepada Allah. Hidup kita yang paling dekat hendaklah hanya dengan Allah semata. Setiap hari hidup kita dituntut menjawab pilihan apakah kita berpihak kepada Allah atau berpihak kepada keinginan dan nafsu  kita sendiri.

Mendekatkan diri kepada Allah menjadi motivasi kita untuk berbuat kebaikan. Allah Maha Baik dan tentu menyukai hamba-hambanya yang berbuat kebaikan. Dekat kepada Allah mendorong kita untuk menjadi manusia yang bermanfaat dan berguna buat orang lain. Seperti kata hadist,” sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (H.R. Thabrani).

Sebenarnya jika kita pahami dengan baik Allah itu sudah dekat dengan kita. Hanya kita mungkin belum menyadari saja. Dalam Al-Qur’an hal ini terang benderang diungkapkan. Pada surat al-Baqarah ayat 186 Allah berfirman, ”Dan apabila hamba- hambaKu bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya  Aku dekat. Aku kabulkan permohonn orang yang bedoa apabila dia berdoa kepadaKu. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran.”

Dalam surat Ak-Qaf ayat 16 pernyataan Allah dekat ini lebih tegas lagi, ”Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yan g dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya.”

Kemudian dalam surat Sl-Baqarah ayat 115 dinyatakan, ”Dan milik Allah Timur dan Barat. Ke mana pun kamu menghadap, di sanalah wajah Allah. Sungguh, Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.”

Bahkan, dalam sebuah ungkapan ahli tasawuf  dikatakan Allah itu sangat dekat dan ada dalam diri manusia, dan orang yang mengetahui dirinya, itulah orang yang mengetahui Tuhannya.

Tentu untuk dekat kepada Allah manusia harus beriman kepada Allah. Artinya, meyakini Allah dan mematuhi apa yang diperintahkan-Nya, dan menghentikan semua larangan-Nya.

Berkorban dengan menyembelih hewan pada hari raya Idul Adha adalah sebuah upaya kita untuk mendekatkan diri kepada Allah. Berkorban dengan menyembelih hewan disamping menunjukkan kepatuhan pada perintah Allah, tanda bersyukur pada Allah atas rezeki dan karuniannya, juga perbuatan yang berdampak sosial, yaitu perbuatan kebaikan dan amal shaleh memberikan manusia makanan, berupa daging hewan untuk dinikmati dan tanda adanya persaudaraan dan kasih sayang pada manusia sebagai sesama makhluk dan hamba Allah.

Selamat Idul Adha. Allah dekat dengan kita!        

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button