Bayangkan sebuah ruangan. Di dalamnya ada seorang ahli dan seseorang yang baru beberapa hari mempelajari sebuah persoalan. Sang ahli berbicara dengan hati-hati. “Persoalan ini cukup kompleks. Masih banyak variabel yang harus dipertimbangkan.” Orang yang baru belajar itu tersenyum tipis. “Ah, sebenarnya sederhana,” katanya penuh keyakinan. “Saya sudah membaca semuanya. Justru para ahli sering membuat masalah menjadi rumit.”
Di situlah persoalannya menjadi menarik. Orang yang banyak belajar justru sering berbicara dengan hati-hati, sementara orang yang baru mengetahui sedikit merasa telah menemukan seluruh kebenaran. Fenomena semacam ini sebenarnya bukan hal baru. Dalam khazanah keilmuan Islam klasik dikenal istilah jahil murakkab atau jahl murakkab, yaitu keadaan ketika seseorang tidak mengetahui sesuatu, tetapi tidak menyadari bahwa dirinya tidak mengetahui. Ketidaktahuan tidak berhenti sebagai ketiadaan ilmu, tetapi berubah menjadi keyakinan.
Ketika Ketidaktahuan Menjadi Keyakinan
Ada ketidaktahuan yang sebenarnya tidak terlalu berbahaya. Seseorang ditanya, lalu menjawab, “Saya tidak tahu.” Kalimat sederhana itu justru dapat menjadi pintu menuju pengetahuan. Orang yang sadar bahwa dirinya tidak tahu masih mungkin bertanya, membaca, belajar, dan mengubah pendapatnya. Dalam tradisi klasik, keadaan ini dikenal sebagai jahil basith: tidak mengetahui, tetapi sadar akan ketidaktahuannya.
Masalah dimulai ketika seseorang tidak tahu, tetapi merasa sangat tahu. Semakin sedikit pengetahuan yang dimiliki, terkadang semakin bulat keyakinannya. Semakin dangkal pemahamannya, semakin keras suaranya. Bahkan, ia merasa perlu mengoreksi orang yang sebenarnya jauh lebih memahami persoalan. Di situlah jahil murakkab menemukan panggungnya.
Dari Ruang Kelas ke Media Sosial
Berabad-abad kemudian, psikologi modern menemukan fenomena yang memiliki irisan menarik. Pada 1999, David Dunning dan Justin Kruger memperkenalkan apa yang kemudian populer sebagai Dunning-Kruger effect. Fenomena ini berkaitan dengan kesulitan sebagian orang yang memiliki keterampilan atau pengetahuan terbatas dalam menilai tingkat kompetensinya sendiri secara akurat. Ironinya sederhana: untuk menyadari bahwa kita tidak kompeten, kita membutuhkan sejumlah kompetensi.
Jika seseorang tidak memahami dasar-dasar suatu bidang, ia mungkin juga kesulitan menyadari kesalahan dalam penilaiannya sendiri. Akibatnya, ia merasa baik-baik saja. Bahkan merasa sangat ahli. Tidak ada alarm berbunyi ketika seseorang mulai berbicara tentang ekonomi setelah menonton beberapa video. Tidak ada lampu merah menyala ketika seseorang merasa menjadi ahli sejarah setelah membaca beberapa unggahan media sosial.
Di zaman media sosial, persoalan ini memperoleh panggung yang jauh lebih besar. Dulu, seseorang membutuhkan mimbar untuk menyampaikan pendapat. Sekarang, mimbarnya ada di dalam genggaman tangan. Kadang-kadang, persoalan terbesar bukanlah kurangnya informasi, melainkan ketika informasi yang sedikit berubah menjadi kesimpulan yang terlalu banyak.
Dua Konsep, Satu Persoalan
Apakah jahil murakkab dan Dunning-Kruger effect berarti persis sama? Tidak. Keduanya lahir dari tradisi intelektual yang berbeda. Jahil murakkab merupakan konsep epistemologis klasik yang berbicara tentang kesalahan dan keyakinan seseorang terhadap sesuatu yang dianggap benar. Sementara Dunning-Kruger effect merupakan fenomena psikologis yang berkaitan dengan penilaian seseorang terhadap kompetensinya sendiri.
Namun, keduanya bertemu pada satu persoalan penting: ketidakmampuan manusia menyadari keterbatasan dirinya. Pertanyaannya bukan hanya apa yang kita ketahui, melainkan apakah kita mengetahui batas dari apa yang kita ketahui.
Semakin Berilmu, Semakin Sadar
Ada paradoks menarik dalam perjalanan manusia belajar. Pada awalnya, sedikit pengetahuan dapat membuat seseorang merasa sangat percaya diri. Namun, semakin jauh ia belajar, semakin banyak hal yang ternyata belum diketahuinya. Setiap jawaban melahirkan pertanyaan baru. Setiap teori memiliki keterbatasan. Setiap persoalan memiliki konteks. Di titik itulah keyakinan yang terlalu sederhana sering berubah menjadi kehati-hatian.
Bukan karena orang tersebut semakin bodoh. Justru sebaliknya. Ia mulai cukup mengetahui untuk menyadari betapa luasnya wilayah yang belum diketahuinya. Sebaliknya, orang yang belum melihat kompleksitas sebuah persoalan sering kali merasa dunia sangat sederhana. Semua persoalan memiliki jawaban cepat. Semua yang berbeda dianggap salah. Dan semua yang tidak sependapat dianggap kurang memahami.
Belajar Meragukan Diri Sendiri
Tidak semua kebodohan harus ditakuti. Kebodohan yang mengakui dirinya masih memiliki harapan. Orang yang berkata, “Saya belum tahu,” masih dapat bertanya, belajar, dan berubah. Yang lebih sulit adalah ketika ketidaktahuan telah berubah menjadi keyakinan, ketika seseorang merasa tidak membutuhkan koreksi, sumber, atau penjelasan karena ia sudah merasa tahu.
Mungkin salah satu bentuk kecerdasan tertinggi bukanlah kemampuan untuk selalu memiliki jawaban, melainkan keberanian untuk sesekali bertanya kepada diri sendiri: “Bagaimana jika saya salah?” Pertanyaan sederhana itu dapat menjadi rem bagi kesombongan intelektual sekaligus pintu bagi pembelajaran yang lebih jujur.
Jahil murakkab dan Dunning-Kruger effect sama-sama memberikan peringatan penting. Kita bisa salah tentang dunia, salah tentang orang lain, dan yang paling berbahaya, salah dalam menilai diri sendiri. Barangkali, tanda seseorang mulai benar-benar berilmu bukanlah ketika ia memiliki semakin banyak jawaban, melainkan ketika ia semakin sadar betapa banyak hal yang belum diketahuinya.
Dan mungkin, kalimat paling cerdas yang dapat diucapkan manusia pada saat tertentu adalah, “Saya belum tahu.” Sebab dari sanalah pengetahuan dimulai. Sedangkan dari keyakinan bahwa kita sudah mengetahui segalanya, kebodohan kadang-kadang justru tumbuh dengan sangat percaya diri.***
Referensi
- Kruger, Justin & Dunning, David. (1999). “Unskilled and Unaware of It: How Difficulties in Recognizing One’s Own Incompetence Lead to Inflated Self-Assessments.” Journal of Personality and Social Psychology.
- Jabatan Mufti Wilayah Persekutuan. (2019). “Irsyad Usul al-Fiqh Series 35: The Definition of Jahil (Ignorance) and Its Divisions.” Rujukan ini menjelaskan konsep jahil, termasuk jahil basit dan jahil murakkab, dalam perspektif ilmu kalam dan tradisi keislaman.
- Junaidi, S.H., M.H. (2024). “Jahil Basit dan Jahil Murakkab.” Muslim.or.id, 6 September 2024. Artikel ini secara khusus membahas perbedaan jahil basit dan jahil murakkab serta karakteristik orang yang tidak mengetahui tetapi merasa mengetahui.
Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten


