Tasawuf

Ketika Kakek dan Nenek Menjadi “Konten”: Tertawa di Atas Luka Orang Tua

Belakangan ini, media sosial dipenuhi video yang memperlihatkan kakek-kakek dan nenek-nenek dijadikan objek candaan. Ada yang sengaja dikerjai agar bingung, ada yang direkam ketika salah mengucapkan kata, ada yang diparodikan karena pendengarannya berkurang, bahkan ada yang ditertawakan karena berjalan pelan atau tidak memahami teknologi.

Kolom komentarnya pun dipenuhi emoji tertawa.

Semakin bingung sang kakek, semakin viral videonya.

Semakin polos sang nenek, semakin tinggi jumlah penontonnya.

Pertanyaannya sederhana: benarkah itu hiburan? Ataukah kita sedang kehilangan rasa hormat kepada generasi yang seharusnya paling kita muliakan?

Ironisnya, di zaman yang begitu lantang mengkampanyekan penghormatan terhadap hak asasi manusia, sebagian orang justru menikmati tontonan yang merendahkan orang-orang lanjut usia. Mereka bukan lagi dipandang sebagai sosok yang penuh pengalaman hidup, melainkan sebagai “bahan baku konten” yang siap dipanen demi views, likes, dan penghasilan dari monetisasi.

Satire zaman digital mungkin bisa diringkas dalam satu kalimat:
“Dulu cucu meminta doa kepada kakek dan nenek. Sekarang sebagian cucu justru meminta mereka mengulang adegan agar videonya lebih lucu.”

Kita tertawa, tetapi lupa bertanya: siapa yang sebenarnya sedang dipermalukan?

Dalam Islam, orang tua dan mereka yang telah lanjut usia memiliki kedudukan yang sangat mulia. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan agar manusia berbuat baik kepada kedua orang tua, bahkan melarang mengucapkan kata “ah” kepada mereka.

“Maka janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’, janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia.” (Q.S. Al-Isra’: 23)* Ayat ini bukan sekadar melarang bentakan. Semangatnya jauh lebih luas, yaitu menjaga kehormatan, perasaan, dan martabat orang tua.

Lalu bagaimana mungkin kita merasa biasa ketika seseorang sengaja merekam neneknya yang kebingungan, lalu mengunggahnya agar jutaan orang tertawa?

Bagaimana mungkin kita menganggap lucu ketika seorang kakek yang mulai pikun dijadikan bahan parodi hanya demi mengejar popularitas?

Mungkin mereka tersenyum di depan kamera.

Namun, siapa yang tahu apakah hati mereka benar-benar ikut tersenyum?

Tidak semua orang tua pandai mengungkapkan rasa sakit hati. Banyak yang memilih diam karena tidak ingin mengecewakan anak atau cucunya. Mereka menahan perasaan, sementara video mereka terus berputar ribuan bahkan jutaan kali.

Lebih menyedihkan lagi, fenomena ini perlahan membentuk budaya baru. Anak-anak yang sejak kecil terbiasa melihat lansia dijadikan bahan tertawaan bisa tumbuh dengan anggapan bahwa mengejek orang tua adalah sesuatu yang wajar. Padahal, masyarakat yang kehilangan penghormatan kepada orang tua sedang mengikis salah satu fondasi peradabannya sendiri.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang muda dan tidak menghormati yang tua.” (H.R. Ahmad dan At-Tirmidzi).

Hadis ini memberikan ukuran sederhana tentang akhlak seorang Muslim: menyayangi yang muda dan menghormati yang tua.

Menghormati bukan berarti mengagungkan secara berlebihan, tetapi menjaga kehormatan mereka, tidak mempermalukan mereka, dan tidak menjadikan kelemahan usia sebagai bahan hiburan.

Media sosial memang membutuhkan kreativitas. Namun kreativitas tidak pernah mengharuskan kita mengorbankan martabat orang lain, apalagi orang-orang yang telah menghabiskan puluhan tahun hidupnya membangun keluarga, masyarakat, dan negeri ini.

Sungguh ironis apabila seseorang memperoleh ribuan pengikut, tetapi kehilangan adab.

Mendapat jutaan tayangan, tetapi kehilangan keberkahan.

Meraih penghasilan dari konten, tetapi dibangun di atas rasa malu orang tua sendiri.

Popularitas di media sosial hanya bertahan beberapa hari.

Namun luka di hati seorang kakek atau nenek bisa bertahan jauh lebih lama.

Karena itu, sudah saatnya kita mengubah cara pandang. Jadikan para lansia sebagai sumber hikmah, bukan bahan lelucon. Rekamlah kisah perjuangan mereka, pengalaman hidup mereka, petuah mereka, atau doa-doa mereka. Konten seperti itu mungkin tidak selalu viral, tetapi jauh lebih bernilai dan lebih menenangkan hati.

Sebab ukuran kemajuan sebuah bangsa bukan hanya kecanggihan teknologinya, melainkan juga bagaimana ia memperlakukan generasi yang paling tua.

Dan ukuran kemuliaan seorang anak bukanlah berapa banyak penonton yang berhasil ia kumpulkan, melainkan seberapa besar ia menjaga kehormatan ayah, ibu, kakek, dan neneknya.

Jangan sampai kita menjadi generasi yang rela mengorbankan martabat orang tua demi satu menit hiburan.

Karena ketika rasa hormat hilang, yang tertawa mungkin banyak, tetapi yang menangis bisa jadi adalah orang yang paling berjasa dalam hidup kita.***

Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten

Ruli Alqodri Mustafa

The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon Banten

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button