Aktualita

Mengenang Ahmad Syahiduddin: Kiai Gintung dan Filosofi Sambal

Kenyataan itu datang bersama pagi dengan sinarnya yang hangat menyinari bumi. Memaksa saya untuk mengubah rute perjalanan menuju Padarincang, Serang, yang sudah saya rancang pada Senin 26 Februari 2024. 

Pesan di layar WhatsApp datang bertubi-tubi merangsek masuk membawa berita, “Pak Kiai meninggal dunia”. Dalam hati saya membatin seraya bibir bergetar mengucap istirja’:  Inna lilahi wa inna ilaihi raji’un. Saya menghela nafas, tak bisa berkata-kata. Sementara pesan duka terus membanjiri handphone. Sampai akhirnya saya menukil flayer duka yang masuk untuk saya jadikan status WA agar mereka tahu bahwa saya sudah tahu. 

Sepanjang perjalanan menuju Gintung, Tangerang, saya mencoba menahan sebak dan air mata agar tak tumpah membasahi pipi. Sejurus sampai di rumah duka, akhirnya air mata itu jatuh juga. Berderai dalam pelukan kuat Ustaz Zahid Purna Wibawa. Berlanjut dalam dekapan erat  Umi Ade Zamzami dan Ustazah Huwaenah. Ketiga orang yang saya hormati itu, anak dan istri serta kakak kandung Almarhum, tenggelam dalam isak tangis dengan bibir bergetar mengeluarkan suara hati yang lirih, “Maafkan Pak Kiai.” Saya hanya bisa mengangguk dalam dekapan dan menjawab dengan suara parau, “Pasti, pasti, pasti”.

Sementara itu doa-doa dan munajat saling bersahut-sahutan. Ayat-ayat suci berkumandang berganti tiada henti. Melesat deras bagai anak panah yang terlepas dari busurnya. Ratusan pasang mata menatap layu memandang tubuh yang terbujur kaku di ruang tamu. Sudah berkafan dan tertutup sehelai kain.

Saya duduk berlutut, bersimpuh dan bersila berhadapan dengan tubuh yang saya kenal dekat lebih dari seperempat abad. Hari itu ajal telah menjemputnya. Dua hari sebelum ajal itu datang, saya bertemu beliau di rumah Ustazah Huwaenah. Petang itu tak kuasa diri ini berlama-lama menatap tubuhnya yang ringkih yang sering mengerang menahan sakit.

Semua itu bermula pada Ahad 9 Agustus 2020. ketika aliran darah yang menuju otaknya tersumbat. Menyebabkan salah satu organ tangan dan kakinya lemah tak berdaya. Hari demi hari ia lalui di atas kursi roda. Meski kakinya tak mampu lagi berpijak di atas bumi, tapi  semangat hidupnya tak pernah padam. Ia memaksakan diri untuk terus bergerak dan berjalan dengan pikirannya.

Kami semua yang menghormatinya, sepakat untuk tidak sepakat dengan pendiriannya yang menolak perawatan medis. Entah karena latrophobia (rasa takut berlebihan terhadap dokter dan penanganan medis) atau ia seperti sudah siap menutup usia. Sepertinyaia tak ingin mati menatap langit-langit rumah sakit. Ia ingin mengakhiri hidupnya di pesantren. Di tanah tempat ia dilahirkan dan dibesarkan. Di tempat ia mengabdi dan berjuang sepanjang hidupnya.

Begitu banyak kenangan yang tersimpan dalam ingatan sepanjang saya berkhidmah di Pesantren Daar el Qolam. Tak terhitung petuah yang beliau sampaikan selama saya membantu beliau memimpin dan mengasuh pesantren terbesar di Banten itu. 

Saya ingin mengajak Anda menuju lorong waktu, melintasi jalan panjang sang kiai yang di kenal tegas, cerdas, dan keras. Saya berupaya menghimpun serpihan ingatan yang tertanam dalam kepala saya yang akan saya tuangkan dalam tulisan obituari ini.

K.H. Ahmad Syahiduddin saat memberi wejangan kepada santri-santrinya

Demi Kelangsungan Madrasah Kecil

15 Maret 1956. Dengan penuh harap Qosod Mansyur menanti kelahiran anaknya yang ketujuh. Sebelumnya enam buah hati telah lahir dari rahim istrinya, Hindun Mastufah. Satu anak laki-laki dan lima anak perempuan. 

Sungguh ia berharap anaknya yang ketujuh ini lahir laki-laki. Lebih dari sebuah alasan budaya dan paham patriarkis. Tapi karena alasan sebuah visi dan cita-cita di masa depan. Ya, demi masa depan dan keberlangsungan sebuah madrasah kecil yang ia pimpin di sudut kampung bernama Gintung.

Ia menyadari tak ada manusia yang bisa mengatur kehendak Tuhan. Apalagi soal jenis kelamin anak yang diinginkan. Setiap hamba hanya mampu berserah diri dan pasrah kepadaDia Yang Maha Berkehendak. Termasuk Qosod Mansyur yang selalu berdoa dan bermunajatagar impian dan harapannya menjadi kenyataan. 

Penantian panjang itu akhirnya tiba bersama waktu. Datang mengabarkan harapan dan impian yang ia dan istrinya inginkan. Paraji yang membantu persalinanan istrinya menyampaikan berita gembira; bayi laki-laki telah lahir pada  15 Maret 1956.

Anak ketujuhnya itu ia beri nama  Syahiduddin. Adik pertama laki-laki dari anak pertamanya, Ahmad Rifa’i Arief dan kelima anak perempuannya, Umroh, Farihah, Dhofiyah, Huwaenah, dan Izzah. Seiring waktu, kakak pertamanya menyematkan nama Ahmad Syahiduddin.

“Dialah anak lelaki yang diharapkan abah”, tutur Ustazah Enah Huwaenah, mengenang kisah yang pernah disampaikan ibunya.  Sambil berkelakar Enah Huwaenah menimpali cerita ibuya itu “Berarti, Enah bukan anak yang diharapkan, dong, bu. Kan Enah anak perempuan?” Sang ibu menimpali dengan senyum tersungging di bibirnya.

Endin menjadi nama panggilan kecilnya. Tumbuh dalam didikan ayah seorang petani  dan guru Madrasah Masyariqul Anwar(MMA). Madrasah kecil yang dibangun oleh Hj. Pengki, wanita paling kaya di kampung terpencil di ujung barat kabupaten Tangerang. 

Sebagai sosok terdidik dan alumnus Perguruan Jami’at Khair, Tanah Abang, Qosod Mansyur dipercaya Hj. Pengki untuk mengelola MMA. Mendidik anak-anak kampung agar terbebas dari kemiskinan dan keterbelakangan.

Keterbatasan dan kekurangan materi yang dialami Qosod Mansyur, tak menghalangi visinya dalam mendidik anak-anaknya. Segalanya ia tempuh demi keberlangsungan masa depan keluarganya dan masa depan pendidikan masyarakat di Kampung Gintung. Ia yakin, pendidikan yang benar dan terarah akan mengubah segala keadaan. Langkah-langkah perubahan ia lakukan dengan mendidik anak pertamanya, Ahmad Rifa’i Arief, di Caringin Labuan dilanjutkan di Pondok Pesantren Modren Gontor, Jawa Timur.   

Semua anak-anaknya mengeyam pendidikan agama di MMA, termasuk Endin Syahiduddin. Sementara pendidikan dasar (SD) di desa Pangkat pada tahun 1962. Endin kecil tumbuh dengan bakat teknik mekanistik yang sudah tampak sejak kecil. Ia sering membuat sendiri mainan mobil-mobilan dari kayu atau bambu. Kerap menyaksikan dan membantu ayahnya membangun rumah, masjid atau memperbaiki bangunan madrasah. 

Angin perubahan itu mulai berhembus setelah Ahmad Rifa’i menamatkan pendidikanya di Gontor. Qosod Mansyur ingin agar alumni MMA dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Karena itulah ia bermimpi ada Gontor di kampung Gintung. Dan Rif’ai menjadi andalannya dan menjadi pemimpinnya berdasarkan ilmu dan pengalaman yang telah ia dapat di Pesantren Gontor. 

Bermodal tanah darat dari Hj Pengki, sebagai hadiah untuk Qosod Mansyur yang telah menyelesaikan pembagunan masjid. Mimpi-mimpi itu ia mulai bersama anak sulungnya. Dapur tua tempat menyimpan beras disulap menjadi ruang belajar. Anak-anaknya dan alumni MMA menjadi santri pertama pada tahun 1968. Termasuk Syahiduddin yang saat itu masih duduk di kelas 6 SD. Karena sudah bisa membaca al-Qur’an, ia didaftarkan sebagai santri angkatan pertama dengan nomor induk 13. 

Darah teknik mekanistik Syahidudin semakin kental mengalir di tubuhnya. Ia berharap sang ayah memindahkan pendidikannya ke sekolah teknik. Tapi, Qosod Mansyur menampiknya. Ia menasihati, “Din, ilmu kasab itu bisa kamu kuasai meskipun kamu tidak mempelajarinya di bangku sekolah. Tapi ilmu agama, meskipun kamu pelajari belum tentu kamu paham, apalagi kamu tidak mempelajarinya” tegas Qosod Mansyur kepada Syahiduddin.

Nasihat itu mengajaknya untuk taat kepada orang tua. Ia lanjutkan pendidikan di pesantren sampai tamat tahun 1974. Tapi keinginan untuk belajar teknik dan menjadi insinyur masih terus membiak di kepalanya. Ia ingin kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB). Bahkan impiannya bisa menciptakan mesin yang akan ia beri nama Syahid Engine. Tapi usai tamat dari pesantren, lagi-lagi impian itu kandas. Ayahnya memaksa untuk melanjutkan di IAIN Ciputat menemani kakaknya, Enah Huwaenah.

Hari-hari di IAIN (UIN) Ciputat ia jalani dengan keterpaksaan. Hidup dalam dilema antara keinginan dan ketaatan terhadap orang tua. Begitulah kesaksian kakaknya, Enah Huwaenah yang satu kamar kos dengannya. Jarang belajar, tapi bisa mengikuti dan memahami mata kuliah. Jika tidak ada mata kuliah, ia lampiaskan waktu untuk pergi menyaksikan pembangunan masjid Istiqlal.   

Pada tahun 1976, Qosod Mansur menutup usia. Sebagai anak laki-laki pertama, Rifa’i Arief mengemban banyak peran. Sebagai kepala keluarga, sebagai pemimpin pesantren, dan sebagai ayah untuk adik-adiknya.

Usai pemakaman sang ayah, ia memanggil Syahiduddin, “Abah sudah tidak ada. Sekarang, kakak yang menggantikan dan bertanggung jawab terhadap dirimu, tetehmu dan adik-adikmu” tutur Kiai Rifai kepada Syahiduddin.

Sejak itulah ia membantu kakaknya merintis pesantren.  Setiap libur kuliah ia pulang untuk mengajar. Tak sabar ingin segera menuntaskan kuliahnya. Pada tahun 1979 gelar sarjana ia raih dari Fakultas Syariah Jurusan Qadha dengan judul skripsi ‘Pengaruh Teknologi Perhubungan Terhadap Pelaksanaan Salat dalam Safar’.  

Sebagai generasi pertama, ia menjadi saksi sejarah pesantren Daar el-Qolam. Sebagai santri dari seorang kakak yang berperan sebagai pengganti ayah sekaligus gurunya. alumnus pertama pesantren yang mendapat sentuhan langsung tangan dingin Kiai Rifa’i. Produk dapur tua dengan segala keterbatasan dan kekurangannya.

Sejak lulus dari bangku kuliah, ia memulai kiprahnya secara total membantu kakaknya. Mengajar dan  mendidik santri, membangun sarana dan prasarana pesantren. Kerap menemani ke mana Kiai Rifa’i pergi. Menjadi supir kakaknya, menggantikan tugas atau mewakili kegiatan Kiai Rifa’i saat berhalangan, baik di dalam pesantren maupun di luar pesantren. Salah satunya mengikuti program Kementerian Agama mengunjungi Sarvodaya Institut, Sekolah Para Biksu di Srilangka dan perkembangan pendidikan agama di Malaysia dan Singapura. 

Pada tahun 1983 ia menikah dengan Ade Zamzami, muridnya di pesantren Daar el Qolam. Buah pernikahannya melahirkan anak semata wayang, Zahid Purna Wibawa yang kini memimpin Daar el Qolam 3 Kampus Dza Izza. 

Syahiduddin adalah cermin pengabdian yang tak pernah padam. Tugas-tugas sebagai guru dan pembantu kiai ia jalankan dan tunaikan. Hampir semua bidang telah ia rasakan. Sebagai kepala madrasah, direktur pengajaran, direktur pengasuhan, kepala sarana dan prasarana juga segala urusan pesantren yang berkaitan dengan listrik, air, las, dan pertukangan. Dialah adik sekaligus murid yang diandalkan Kiai Rifa’i. Teman curhat dan tempat menumpahkan sengkarut masalah dan urusan santri juga masa depan Pesantren Daar el Qolam.

Tapi beliau juga manusia biasa yang tak terlepas dari salah dan khilaf. Pernah suatu ketika ia berbuat kesalahan yang membuat kakaknya marah. Lalu menasihati dengan geram sambil menunjuk-nunjuk wajahnya, “Sebesar apapun kebaikanmu akan kecil di mata orang.lain. Dan sekecil apa pun kesalahanmu akan terlihat besar di mata orang lain. Karena kamu adik saya!” Tegas Kiai Rifai menasihatinya.

15 Juni 1997. Awan kelabu menggantung di langit Gintung. Kiai Rifai wafat. Syahiduddin yang kebetulan berada tak jauh dari rumahnya, bergegas sejurus kabar pahit yang ia terima. Ia dapati kakaknyaitu  terkulai lemah di atas sajadah. Kepanikan mewarnai suasana rumah. Untuk meyakinkan keadaan ia larikan kakaknya yang sudah tak bernyawa itu ke rumah sakit di bilangan Karawaci. Dokter memastikan telah tiada.

Selasa 17 Juni 1997 saya menjadi salah satu saksi peralihan dan pengukuhan kepemimpinan Daar el Qolam yang dipandu oleh Kiai Abdullah Syukri Zarkasyi dari Gontor dan Kiai Tijani Jauhari dari Madura.

Berdasarkan amanat yang pernah disampaikan kiai Rifai kepada kiai Syukri, kelak yang akan memimpin Daar el Qolam dan melanjutkan karya-karya Kiai Rifai adalah Syahiduddin dan Adrian Mafatihullah Karim. Sebelum pengukuhan itu, Syahiduddin meminta restu keluarga agar mengangkat kakak perempuannya, Enah Huwaenah bersama-sama memimpin  pesantren. Sebagai pemimpin pengganti Kiai Rifa’i, pada fase-fase pertama ia  mengalami kebingungan dan kegalauan. Padahal ia telah melewati dan merasakan tangga-tangga kepemimpinan yang dipercayakan kepadanya pada masa Kiai Rifa’i. 

Seiring waktu berjalan, ia berhasil meringankan tumpukan beban yang berada di punggungnya. Beban pesantren, beban keluarga, beban guru dan sengkarut beban-beban lainnya yang lambat laun menjadi ringan dan stabil. 

Karakter kepemimpinannya kuat dan keras. Riak-riak dan gejolak tak sedikit yang  mewarnai kepemimpinannya. Kemauannya kuat dan  keras, sekeras wataknya. Segalanya harus dilakukan dengan tuntas, cepat, tepat, dan efektif. Jika ia sudah yakin dengan pendiriannya siapapun yang menghadang akan ia terjang. 

Suatu ketika dalam obrolan santai empat mata ia berkata kepada saya, “Saya ini di mata kiai Rifa’i seperti sambal. Di makan atau tidak dimakan harus ada dalam hidangan.” Pikiran saya menerawang memahami maksudnya. Sambal itu pedas.  Meskipun pedas masih saja banyak oramg menikmatinya. Sisi lain sambal adalah sosok yang disukai sekaligus dibenci karena kepedasannya. 

Sepanjang kedekatan saya dengan beliau sejak beliau memimpin pada tahun 1997 sampai Juli 2023, tak cukup kolom ini untuk saya memaparkan semuanya. Pada lain kesempatan saya ingin menuliskan kembali agar menjadi jejak yang bisa dibaca. Sementara saya akhiri dulu dengan sebuah  kesimpulan. 

“Syahiduddin lahir dan dibesarkan ketika pesantren berada di masa-sama sulit. Masa-masa itu yang membuat dirinya kuat. Lalu ia hadir dengan kekuatannya dan menciptakan masa-masa yang penuh kemudahan bagi pesantren Daar el Qolam. Ia menyadari masa-masa mudah itu akan melahirkan generasi yang lemah. Dan generasi yang lemah akan menciptakan masa-masa sulit terulang kembali. Ia tak ingin kesulitan itu datang lagi, karena itu ia tak mau meninggalkan generasi yang lemah. Karena ia menyadari pesantren juga bisa punah. Kepunahannya bukan karena faktor yang ada di luar pesantren. Tapi dari dalam tubuh pesantren itu sendiri. Seperti luka jika  dibiarkan,  secara perlahan akan membusuk dan mematikan”.

Selamat jalan Pak Kiai. Kini engkau telah kembali berdiri tegak menapakan kaki. Dapat duduk bersila lagi bertemu Tuhan yang engkau rindukan. Di sana, di surga-Nya. Amin ya rabbal alamin.

Related Articles

2 Comments

  1. “Syahiduddin lahir dan dibesarkan ketika pesantren berada di masa-sama sulit. Masa-masa itu yang membuat dirinya kuat. Lalu ia hadir dengan kekuatannya dan menciptakan masa-masa yang penuh kemudahan bagi pesantren Daar el Qolam. Ia menyadari masa-masa mudah itu akan melahirkan generasi yang lemah. Dan generasi yang lemah akan menciptakan masa-masa sulit terulang kembali. Ia tak ingin kesulitan itu datang lagi, karena itu ia tak mau meninggalkan generasi yang lemah. Karena ia menyadari pesantren juga bisa punah. Kepunahannya bukan karena faktor yang ada di luar pesantren. Tapi dari dalam tubuh pesantren itu sendiri. Seperti luka jika dibiarkan, secara perlahan akan membusuk dan mematikan”.

    Afwan ustaz apakah cuplikan diakhir ini sebuah petanda akan terjadi krisis keberlanjutan pemimpin pesantren ?

    Selanjutnya Bagaimana ?

    Terimakasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button