Ledakan bom yang terjadi ribuan kilometer dari Indonesia mungkin tidak terdengar hingga ke telinga rakyat di pasar-pasar tradisional. Namun dampaknya bisa sampai ke kantong mereka. Inilah kenyataan ekonomi global saat ini: perang yang terjadi di Timur Tengah dapat menjelma menjadi kenaikan harga kebutuhan pokok di Indonesia.
Banyak orang masih menganggap konflik di Timur Tengah sebagai urusan politik dan keamanan internasional semata. Padahal, kawasan tersebut merupakan salah satu pusat energi dunia yang menentukan denyut perekonomian global. Ketika kawasan itu memanas, pasar dunia ikut gelisah. Harga minyak melonjak, biaya logistik meningkat, nilai tukar bergejolak, dan ancaman inflasi mengintai negara-negara yang bergantung pada perdagangan internasional, termasuk Indonesia.
Ancaman pertama dan paling nyata adalah sektor energi. Jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz menjadi urat nadi distribusi minyak dunia. Jika konflik mengganggu jalur tersebut, pasokan energi global akan terguncang dan harga minyak berpotensi meroket.
Bagi Indonesia, kondisi ini bukan sekadar persoalan angka di layar bursa komoditas internasional. Kenaikan harga minyak berarti meningkatnya biaya impor energi. Pemerintah dihadapkan pada pilihan yang sama-sama berat: menambah beban subsidi yang dapat menggerus APBN atau membiarkan harga energi naik dan menekan daya beli masyarakat.
Efeknya tidak berhenti pada bahan bakar. Ketika energi menjadi mahal, hampir seluruh roda ekonomi ikut terdorong naik. Ongkos transportasi meningkat. Biaya produksi industri bertambah. Tarif distribusi barang melonjak. Pada akhirnya, harga berbagai kebutuhan sehari-hari ikut terkerek.
Rakyat mungkin tidak mengikuti perkembangan geopolitik Timur Tengah setiap hari, tetapi mereka akan segera merasakan dampaknya ketika harga beras, minyak goreng, telur, dan kebutuhan pokok lainnya terus merangkak naik. Inilah wajah nyata inflasi yang sering kali bermula dari krisis yang terjadi jauh dari perbatasan negara.
Lebih mengkhawatirkan lagi, perang berkepanjangan biasanya memicu kepanikan pasar keuangan global. Investor cenderung menarik modal dari negara berkembang dan memindahkannya ke aset yang dianggap lebih aman. Ketika arus modal keluar meningkat, tekanan terhadap Rupiah pun semakin besar.
Pelemahan Rupiah bukan sekadar persoalan gengsi nasional. Mata uang yang melemah membuat biaya impor semakin mahal. Indonesia harus mengeluarkan lebih banyak Rupiah untuk membeli minyak, bahan baku industri, hingga berbagai kebutuhan strategis dari luar negeri. Situasi ini menciptakan lingkaran tekanan baru yang memperparah inflasi dan memperberat beban ekonomi nasional.
Jika kondisi tersebut berlangsung lama, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga berpotensi melambat. Dunia usaha menghadapi biaya operasional yang lebih tinggi. Investor menahan ekspansi. Konsumsi rumah tangga melemah. Padahal konsumsi domestik selama ini merupakan salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Karena itu, menganggap konflik Timur Tengah sebagai masalah yang jauh adalah kesalahan besar. Dalam ekonomi modern, jarak geografis tidak lagi menjadi penghalang bagi dampak ekonomi. Dunia yang saling terhubung membuat gejolak di satu kawasan dapat menimbulkan efek domino hingga ke berbagai penjuru dunia.
Indonesia perlu menjadikan situasi ini sebagai alarm peringatan. Ketahanan energi harus diperkuat melalui percepatan pengembangan energi terbarukan dan pengurangan ketergantungan terhadap impor minyak. Cadangan energi nasional perlu diperbesar agar negara memiliki ruang gerak ketika terjadi gangguan pasokan global.
Di saat yang sama, pemerintah perlu menjaga stabilitas nilai tukar, memperkuat sektor produksi dalam negeri, dan meningkatkan efisiensi logistik nasional. Semakin kuat fondasi ekonomi domestik, semakin kecil dampak yang ditimbulkan oleh gejolak eksternal.
Bagi masyarakat, kesadaran untuk menggunakan energi secara lebih efisien dan mendukung produk dalam negeri juga menjadi bagian dari upaya membangun ketahanan ekonomi nasional. Krisis global tidak selalu bisa dicegah, tetapi dampaknya dapat diperkecil jika negara dan rakyat memiliki kesiapan yang memadai.
Perang di Timur Tengah mungkin bukan perang Indonesia. Namun konsekuensi ekonominya bisa ikut dibayar oleh rakyat Indonesia melalui kenaikan harga, melemahnya daya beli, dan meningkatnya tekanan terhadap perekonomian nasional.
Karena itu, pertanyaan yang harus dijawab bukanlah apakah konflik tersebut akan berdampak pada Indonesia. Dampaknya sudah mulai terasa. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah kita sudah cukup siap menghadapi gelombang guncangan berikutnya? **
Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten
