Uncategorized

Menjaga Optimisme Kaum Muda Menghadapi Persoalan Bangsa dan Negara

Dalam kehidupan ini selalu ada tantangan dan kesulitan yang dihadapi manusia. Kesulitan hidup bukan hanya yang bersifat ekonomi seperti kemiskinan, tapi juga tantangan lainnya yang dirasakan seperti tidak adanya rasa aman dalam hidup, ketidakadilan, tidak adanya kebebasan dan banyak lainnya.

Permasalahan yang dihadapi negara dan bangsa kita saat ini adalah persoalan ekonomi yang ditandai adanya kesenjangan sosial, kelompok kecil masyarakat menikmati kehidupan yang lebih baik dengan penguasaan ekonomi. Sementara sebagian besar rakyat masih hidup sederhana dan pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kemudian kita belum mampu memanfaatkan kekayaan alam kita dengan baik, serta asset negara kita dengan banyaknya kebocoran akibat perbuatan korupsi  luar biasa yang hingga kini sulit diatasi. Kemudian ada kerusakan lingkungan yang menimbulkan bencana alam membuat masyarakat menderita, yang ini akibat pengusahaan baik tambang maupun sawit yang tidak memperhatikan kelestarian lingkungan dan hanya memikirkan keuntungan dan kekayaan pribadi.

Dalam soal politik,demokrasi dan hukum kita melihat ada “keengganan” terwujudnya semua orang sama di mata hukum, dan demokrasi yang masih terlihat secara formalitas dengan adanya kelembagaan demokrasi seperti partai politik dan parlemen. Namun, dalam prakteknya yang muncul kekuasaan yang berkoalisi dengan bagi-bagi jabatan dan kekuasaan sehingga tidak muncul kekuatan oposisi yang kritis, parlemen menjadi tumpul tidak berfungsi sebagai kontrol terhadap pemerintah atau eksekutif.

Saat ini masyarakat merasakan ada keresahan yang terjadi. Ini dicerminkan munculnya unjuk rasa atau demontrasi oleh kaum muda atau mahasiswa. Keresahan itu antara lain dinyatakan dalam ungkapan-ungkapan seperti Indonesia Gelap, Penjajahan Negara atas Rakyat, hentikan sikap represif, dan lainnya.

Yang menarik dari dari situasi yang dirasakan keresahan sekarang ini adalah munculnya kaum muda yang kritis dan vokal bersuara. Sebut saja Fatimah Azzahra Wakil Ketua BEM UI, Tiyo Ardiyanto Eks Ketua BEM UGM, Supriyono alias Botok aktivis Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) dan lainnya, yang medreka ini memiliki keberanian dan lugas menyampaikan kritiknya terhadap kebijakan pemerintah.

Dengan adanya kaum muda dan mahasiswa serta masyarakat yang bersuara dan prihatin terhadap kehidupan bangsa dan negara ini menunjukkan masih adanya optimisme dan harapan kehidupan ini akan berkembang ke arah yang lebih baik. Kita bersyukur masyarakat kita tidak apatis dan putus asa. Apatis dan putus asa itu bisa saja ditunjukkan antara lain dengan bersikap masa bodoh terhadap kebijakan pemerintah dan penguasa. Atau bisa juga dengan munculnya gerakan-gerakan protes yang bersifat anarkis dan separatis dengan ingin memisahkan diri dari NKRI.

Selama aksi-aksi itu masih bersifat konstitusional dan dibenarkan oleh undang-undang maka pemerintah harus menanggapi dengan persuasif dan dialogis. Namun, disini tentu juga aspirasi dari masyarakat, mahasiswa, intelektual dan lainnya jika memang positif  haruslah diakomodasi dengan baik, sehingga bukan hanya serkedar ditampung, diterima atau didengar, tetapi tidak ada implementasi dan pelaksanaannya. Dari sini pemerintah diharapkan kesungguhnannya untuk mendengarkan dan memperhatikan aspirasi masyarakat atau rakyat.

Dalam hal ini suatu hal yang harus kita ingat bahwa kontinuitas sebuah bangsa jika generasi mudanya masih memilikii optimisme dan harapan terhadap negaranya.  Jika optimisme dan harapan itu tidak ada maka hal ini bisa menjadi sebuah keadaan yang sangat berbahaya bagi kelanjutan bangsa tersebut. Indikator-indikator itu misalnya bisa dilihat dalam fenomena-fenomena seperti kecenderungan untuk bekerja dan tinggal di luar negeri, menganggap kehidupan di masa depan lebih baik dan terjamin di negara asing ketimbang di negara sendiri. Pikiran-pikiran seperti ini tentu sangat berbahaya,yang jika terjadi  Indonesia bisa kekurangan orang-orang terpelajar dan kalangan ahli yang sangat dibutuhkan dalam negara moderen yang bersifat industri dengan dukungan teknologi dalam membangun.

Disamping itu pemerintah dan pejabat serta termasuk juga juru komunikasinya harus bersifat lebih dewasa menanggapi kritik, yaitu dengan memberikan penjelasan dan pencerahan yang sehat dengan menjabarkan permasalahan dan fakta-fakta yang dihadapi. Dan, menghindari komunikasi yang bersifat satire, sinis dan tidak dewasa dengan menyampaikan narasi, apalagi dengan gaya mengolok-olok sehingga hal itu akan menyebabkan wibawa pemerintah ,pejabatnya dan juru komunikasinya jatuh wibawanya di mata masyarakat dan rakyat.

Pemerintah harus pula sungguh-sungguh menyikapi aksi dan penyampaian aspirasi oleh masyarakat. Sebab, saat ini dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi saat ini setiap aspirasi dan keresahan masyarakat begitu mudah menyebar dan menjadi pembicaraan dan diserap masyarakat. Suatu keresahan atau informasi yang tidak disikapi dengan baik bisa menimbulkan sikap negatif terhadap pemerintah. Dan, berpotensi menimbulkan instabilitas dan menggoncangkan sistem politik atau pemerintah yang berkuasa. Tentu kita tidak ingin setiap pergantian kekuasaan atau sirkulasi elit  dengan cara-cara yang menimbulkan kegoncangan. Delapan puluh satu tahun kita merdeka sudah seharusnya kita kita mampu dan matang dalam setiap pergantian rezim atau kekuasaaan dengan cara damai dan normal.  Semoga.

Penulis: Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, M.A., Dosen dan Plt Wakil Rektor Bidang Perencanaan Keuangan dan Pengembangan Usaha Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Depok, Jawa Barat

Amsal Bakhtiar

Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, MA, Dosen dan Plt. Wakil Rektor Bidang Perencanaan Keuangan dan Pengembangan Usaha Universitas Islam Internasional Indonsia (UIII), Depok.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button